Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #45

Rumah yang Terlalu Sempit

Sejak pagi, ponsel Nagisa terus bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidur.

 Layar yang menyala sebentar lalu mati lagi memperlihatkan nama yang sama berulang kali, seolah-olah ada seseorang di dunia ini yang benar-benar tidak mau menyerah pada dinding sunyi kamar itu. Ako. Pesan masuk. Panggilan tak terjawab. Lalu pesan lagi. Dan lagi. Suara notifikasi yang awalnya terdengar biasa, lama-lama berubah jadi sesuatu yang mengganggu seperti kuku yang menggaruk kaca dari sisi luar.

 Nagisa melihatnya, tentu saja. Ia tidak buta. Ia hanya tidak ingin membalas.

 Di kamar yang sekarang terasa terlalu akrab untuk disebut asing, ia duduk bersandar pada ranjang dengan kaki dilipat ke dada. Tirai belum seluruhnya dibuka, jadi cahaya siang masuk tipis-tipis, membuat debu di udara terlihat melayang perlahan. Ada sisa bau teh pagi, bedak halus, dan sabun cuci dari handuk yang baru dijemur di luar. Rumah ini memang tidak besar. Setelah beberapa hari tinggal di sini, Nagisa mulai sadar bahwa rumah tua itu punya semacam kebiasaan menyimpan suara lebih lama dari seharusnya. Langkah kaki, gesekan pintu, helaan napas. Semuanya seperti tinggal di dalam kayu.

 Ponsel itu bergetar lagi.

 Nagisa memeluk bantal di pangkuannya lalu menatap layar tanpa rasa bersalah. Ia tahu Ako pasti sedang kesal, mungkin juga khawatir, mungkin sedang mengumpatnya dengan kata-kata yang terdengar ringan tapi sebenarnya tajam. Tetapi untuk saat ini, Nagisa tak mau mendengar siapa pun. Ia takut kalau membuka pesan-pesan itu, dirinya akan terdorong kembali ke dunia yang berisik, dunia tempat segala macam orang ingin merebut waktunya, mengoreksi langkahnya, atau memaksanya menjelaskan sesuatu yang ia sendiri belum sanggup urai.

 Ia mengusap ujung layar dengan ibu jari, lalu mematikannya.

 “Hari ini bukan buat orang lain,” gumamnya sangat pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri di masa kecil. “Hari ini… harus buat Naoya.”

 Kalimat itu tidak terdengar megah. Tidak seperti sumpah. Lebih mirip keputusan putus asa yang disamarkan jadi ketenangan. Nagisa menatap pintu kamar beberapa saat, lalu bangkit dari ranjang. Ia harus menyusun ulang banyak hal sejak kantor ayahnya, sejak restoran, sejak rumah ini. Ia masih belum benar-benar mengerti bagaimana cara menjalani hidup yang tiba-tiba bergerak terlalu dekat dengan seseorang sampai ia hampir lupa jarak. Yang ia tahu, selama Naoya ada di dalam rumah ini, ia tidak ingin membuang satu detik pun untuk hal lain.

 Karena kalau ia lengah sedikit saja, momen itu mungkin hilang. Dan ia tidak mau lagi kehilangan apa pun.

 Di dapur, ia mulai sibuk dengan gerakan yang setengah hati tapi tetap hati-hati. Sayuran yang masih tersisa dicuci ulang. Panci diletakkan. Nasi dipanaskan. Ia sempat menatap ujung jarinya sendiri ketika memegang sendok kayu, seolah-olah benda kecil itu juga sedang menimbang dirinya. Nagisa bukan koki. Ia tahu itu. Ia juga bukan tipe yang rajin berurusan dengan dapur. Tetapi malam ini, tanpa alasan yang benar-benar rasional, ia merasa harus melakukan sesuatu yang bisa ia kuasai.

 Sesekali ia melirik ponselnya.

 Masih banyak pesan dari Ako.

 “Kamu hidup apa nggak?”

“Kalau nggak mau balas, ya minimal kasih kabar.”

“Aku serius, Nagisa.”

“Kalau Naoya ada di sana, bilang aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”

 Nagisa mengabaikannya. Jempolnya berhenti di atas layar, lalu ia menaruh ponsel itu terbalik.

 Sambil mengaduk sup, ia mengembuskan napas lirih. Hari-hari terakhir terasa seperti menumpuk beban di atas dada tanpa memberi waktu untuk bernapas di sela-sela. Ia sudah mulai merasa lebih baik dibanding hari-hari paling buruk itu, tapi “lebih baik” ternyata bukan berarti nyaman. Hanya berarti ia tidak menangis setiap jam. Tidak berarti tempat aman yang hilang mendadak bisa dilupakan.

 Tempat aman itu dulu adalah tempat kerja. Sebuah restoran kecil yang memercayainya, tempat ia bisa berdiri di balik meja kasir atau membawa pesanan tanpa harus mengingat lelaki lain yang merusaknya. Tempat di mana hidupnya punya rutinitas yang cukup untuk menahan pikiran liar. Sekarang, pintu itu sudah tertutup untuknya.

 Dan yang lebih menyesakkan, ia harus tinggal dengan semua konsekuensi dari hal itu tanpa sempat menyiapkan diri.

 Nagisa menelan ludah, lalu mematikan api kompor sebentar ketika langkah kaki terdengar di luar rumah. Pintu depan dibuka. Angin malam masuk bersama suara pintu kayu yang berderit lembut. Naoya pulang.

 Ia langsung berdiri tegak.

 Naoya masuk dengan tas selempang masih menggantung di bahu, jaketnya sedikit kusut, dan rambutnya tampak lebih berantakan dari pagi tadi. Wajahnya lelah. Bukan lelah yang mencolok, melainkan lelah yang tumbuh pelan dari dalam, seperti warna yang memudar sedikit demi sedikit. Selama beberapa hari terakhir, revisi penelitiannya memang tak henti-henti mengejar. Profesor pembimbingnya seperti menemukan banyak bagian yang masih perlu dibersihkan, dan Naoya sendiri akhir-akhir ini lebih sering terlihat menatap layar tanpa benar-benar melihat apa yang ada di sana.

 Namun begitu melihat Nagisa berdiri di ambang dapur, ia tetap tersenyum kecil.

 “Kamu belum tidur?”

 Nagisa menggeleng, lalu mendekat.

 Naoya baru sempat meletakkan sepatu dengan benar ketika tubuh Nagisa sudah menempel dari belakang, kedua lengannya memeluk pinggang Naoya erat-erat. Seperti seseorang yang akhirnya bertemu pegangan di tengah air yang dingin. Nagisa menempelkan pipinya ke punggung Naoya dan memejamkan mata lama sekali, napasnya menghangatkan kain baju lelaki itu.

 Naoya terdiam sesaat, lalu menurunkan tasnya perlahan.

Lihat selengkapnya