Pagi akhir pekan biasanya punya cara sendiri untuk membuat rumah terasa lebih kecil.
Bukan karena dindingnya benar-benar berubah, melainkan karena semua orang ada di dalamnya pada waktu yang hampir sama, dengan napas, langkah, dan kebiasaan masing-masing yang saling bertumpuk. Naoya menyadari itu saat ia duduk di meja makan dengan buku-buku lama terbuka di depannya, secangkir teh yang sudah mulai hangat kuku di sisi kanan, dan beberapa lembar catatan riset yang penuh coretan di kiri. Di luar, cahaya putih musim dingin menempel di kaca jendela. Di dalam, suara kipas kulkas berdengung pelan. Sementara itu, di ruang tamu beberapa langkah dari sana, televisi belum menyala, tapi Nagisa sudah berkeliaran sejak pagi dengan cara yang selalu membuat rumah tampak seperti sedang menahan napas.
Ia tidak banyak bicara pagi ini. Sejak bangun, ia hanya membantu membereskan meja, menyapu sedikit remah yang tersisa dari malam sebelumnya, lalu menghilang sebentar ke dapur. Naoya melihat sekilas lewat sudut mata bahwa ia menggulung lengan sweaternya, mengambil lap, dan mengelap permukaan meja dapur dengan teliti yang agak berlebihan, seolah-olah kalau ada satu titik debu pun tertinggal, sesuatu yang buruk bisa terjadi.
Naoya menunduk lagi ke bukunya.
Literatur sastra kuno yang ia kejar akhir-akhir ini terasa seperti tumpukan pintu yang tidak pernah selesai ia buka. Ia sudah lama tertinggal dalam riset, dan setiap kali berhasil menutup satu lubang pemahaman, selalu ada lubang lain yang muncul di belakangnya. Tapi pagi ini ia memaksa dirinya diam. Memaksa pandangan tetap menyusuri teks. Memaksa otak yang lelah itu terus bergerak.
Di dapur, suara piring bersentuhan pelan terdengar. Lalu langkah ringan, lalu lagi.
Nagisa kembali muncul membawa mangkuk kecil berisi buah yang dipotong rapi. Rambutnya diikat seadanya. Wajahnya masih agak pucat, tapi akhir-akhir ini Naoya mulai terbiasa melihat ekspresi itu—bukan pucat karena sakit, melainkan karena terlalu sering menahan sesuatu yang tidak berhasil ia sebut namanya.
“Kalau terus baca sambil dahi berkerut begitu, nanti matamu rusak,” kata Nagisa, menaruh mangkuk buah di meja tanpa benar-benar menunggu jawaban.
Naoya mengangkat kepala dan menghela napas pendek. “Aku yang harus bilang begitu ke kamu.”
Nagisa langsung duduk di bangku sebelahnya, menggeser tubuhnya mendekat, lalu mencuri sepotong apel dari mangkuk. “Aku sehat.”
“Itu bukan ukuran.”
“Kalau begitu, aku sehat secara emosional.”
Naoya menatapnya sebentar. “Itu juga bukan ukuran.”
Nagisa mengeluarkan bunyi kecil yang terdengar seperti protes yang dipaksa lucu, lalu menempelkan lengannya ke lengan Naoya tanpa izin. Ia memang sering begitu akhir-akhir ini. Sentuhan-sentuhan kecil yang seolah tidak berarti apa-apa, tapi tak pernah benar-benar kecil. Cara ia menggenggam lengan baju Naoya sambil lewat. Cara ia berdiri di belakang kursi Naoya dan meletakkan dagu di bahunya hanya untuk sekilas mengintip layar laptop. Cara ia duduk terlalu dekat di sofa, seakan ada suatu hukum tak tertulis yang mengatakan bahwa jarak antara tubuhnya dan tubuh Naoya tidak boleh lebih dari beberapa senti.
Naoya sempat terganggu pada awalnya. Sekarang, ia mulai hanya menghembuskan napas dan membiarkannya.
Ia kembali menatap buku.
Dan di titik itulah, tanpa sadar, ia berkata, “Ngomong-ngomong, Mio akhir-akhir ini bantu banyak tugas rumah ya.”
Kata-kata itu keluar begitu saja, ringan, karena memang yang ia pikirkan saat itu hanyalah tumpukan hal kecil yang selama beberapa hari terakhir terasa sedikit lebih ringan. Sarapan yang sudah disiapkan. Lantai yang lebih rapi. Kain-kain yang dicuci dan dijemur. Sosok Mio yang pulang dari luar rumah dengan wajah cerah, lalu dengan cekatan membereskan barang dan menanyakan apakah Naoya ingin teh atau kopi. Semua itu membuat rumah tua ini, untuk sesaat, terasa tidak terlalu menuntut.
Naoya bahkan tidak sempat selesai memikirkan kalimatnya ketika suasana di sebelahnya mendadak berubah.
Nagisa membeku.
Senyum yang tadi masih menempel di wajahnya seperti terputus di tengah jalan. Matanya bergerak ke arah Naoya, lalu kosong sejenak, nyaris tak terlihat. Itu hanya berlangsung sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat udara di meja makan terasa berbeda. Naoya menangkapnya. Tentu saja ia menangkapnya. Ia bahkan merasa jari Nagisa yang tadi menggenggam lengannya mendadak mengencang satu kali, seolah tubuh gadis itu sedang menahan sesuatu yang semestinya tidak boleh lolos.
Naoya berkedip. “Heh?”
Nagisa segera tersenyum lagi, terlalu cepat, terlalu dipaksa untuk terasa wajar. “Oh. Iya?”
Naoya menatapnya, tidak yakin apakah ia baru saja melakukan kesalahan kecil atau besar. “Maksudku—dia rajin akhir-akhir ini. Masakannya juga enak. Rumah jadi lebih rapi.”
Nagisa mengangguk berulang kali, terlalu cepat, seperti sedang menyetujui sesuatu yang tak ingin ia dengar. “Iya, kan?”
Ia tidak terdengar marah. Justru itulah yang membuatnya aneh. Nada suaranya datar, tapi matanya seperti menghilang satu langkah ke belakang. Tatapan yang biasanya hangat dan melekat mendadak melemah, seakan ada pintu kecil yang ditutup di dalam kepala.
Naoya membuka mulutnya, tapi belum sempat bicara, Nagisa sudah menggeser tubuhnya lebih dekat dan mengganduli lengan Naoya dengan lebih erat. Hampir seperti anak kecil yang takut ditinggalkan di ruang yang ramai.