Awal Juni datang seperti napas yang tak selesai di Tokyo.
Hujan musim hujan menggantung sejak pagi, membuat udara lembap menempel di kulit dan pakaian, masuk ke celah jendela, merembes ke dinding kayu tua rumah itu sampai seluruh ruangan terasa sedikit basah meski tidak ada air yang terlihat. Kipas angin di langit-langit berputar malas, hanya memindahkan panas dari satu sudut ke sudut lain tanpa benar-benar mengusir apa pun.
Naoya mengangkat tangan ke belakang kepala, meraba ujung rambutnya sendiri sambil mengerang pelan.
“Sudah ngeganggu begini,” gumamnya, matanya tetap tertuju pada buku yang terbuka di meja makan. “Kalau dibaca terus, ujungnya nempel ke leher.”
Mio yang duduk di seberang meja mengangkat kepala dari gelas tehnya. Ia mengenakan kaus rumah yang terlalu besar untuk tubuhnya, dan meski rambutnya masih agak berantakan setelah bangun siang, matanya justru terlihat lebih jernih daripada biasanya.
“Kalau gitu dipotong aja.”
Naoya mengernyit.
“Maksudmu?”
Mio mencondongkan tubuh ke depan, menatap rambut Naoya seperti itu adalah masalah serius yang harus segera dipecahkan. “Aku bisa potong. Dulu waktu kecil, Mama pernah bilang aku punya tangan yang lumayan stabil.”
Naoya menahan senyum kecil. “Kamu mau jadi tukang cukur dadakan sekarang?”
Mio mengembungkan pipi. “Aku serius.”
“Justru itu yang bikin aku ragu.”
Mio mencibir, lalu berdiri dan melangkah ke belakang kursi Naoya. Tangannya yang kecil menyentuh bahu kakaknya dengan hati-hati, nyaris ragu-ragu, seperti ia sedang mendekati sesuatu yang rapuh. Di balik gurauannya, ada sesuatu yang jauh lebih tenang dari kemarin-kemarin. Mungkin karena beberapa malam terakhir Naoya tidak terlalu banyak diam dengan wajah kosong seperti dulu. Mungkin juga karena rumah itu terasa sedikit lebih hangat kalau tidak terus-menerus diisi ketakutan yang tidak diucapkan.
“Aku ingin rumah ini jadi tenang,” kata Mio pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Kalau rambutnya rapi, Kakak juga nggak akan terlalu capek mikir.”
Naoya menatap pantulan dirinya di kaca lemari makan. “Itu alasan yang kedengaran aneh.”
“Biarin aja.”
Ia mengambil gunting kecil dari laci dapur, lalu menyuruh Naoya duduk menghadap jendela. Naoya menurut tanpa banyak protes. Di luar, hujan turun tipis seperti tirai yang tak kunjung diangkat. Di dalam, Mio menyelipkan handuk kecil di leher Naoya dan mulai menyisir rambutnya dengan jemari yang pelan. Tidak ada suara selain gesekan halus rambut dan kain.
Untuk beberapa detik, Naoya benar-benar merasa seperti kembali ke masa yang tidak pernah ia alami secara utuh. Rumah tua yang lembap, suara hujan di luar, seorang adik yang begitu dekat sampai napasnya menyentuh belakang leher. Keakraban yang aneh itu menenangkan dan mengganggu dalam ukuran yang sama.
“Kalau jelek, kamu tanggung jawab,” kata Naoya.
Mio mendengus. “Aku nggak akan bikin kakakku jelek.”
“Bagaimana kalau kamu malah bikin aku botak?”
“Itu baru namanya aku punya konsep.”
Naoya tertawa kecil, dan Mio ikut tertawa. Tawa itu ringan, tulus, sedikit terlalu cepat muncul, seolah keduanya sedang berusaha menjaga sesuatu tetap utuh dengan bercanda.
Dari arah koridor, terdengar langkah lain.
Naoya menoleh sedikit.
Nagisa muncul di ambang pintu dapur dengan gelas di tangan. Ia baru selesai mandi; rambutnya masih setengah kering, dan kaus rumahnya agak longgar di bahu. Begitu melihat pemandangan itu—Naoya duduk diam, Mio berdiri di belakangnya dengan gunting di tangan—Nagisa berhenti sejenak, matanya bergerak dari wajah Naoya ke tangan Mio.
Mio juga melihatnya.
Seluruh ruang seolah mengecil satu tingkat.
“Ah,” kata Mio, suaranya tetap ringan. “Nagisa, mau air?”
Nagisa mengangguk pelan, tapi matanya tidak segera lepas dari Naoya. Ada sesuatu yang rapat dan tajam berputar di balik sorot itu, sesuatu yang menahan diri agar tidak tumpah terlalu cepat. Naoya, yang sedang duduk, merasa bahunya mendadak kaku.
“Lagi apa?” tanya Nagisa pelan.