Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #48

Demam dan Pesan Berantai

Tekanan itu datang lagi pada jam yang paling menyebalkan: saat seseorang sudah merasa hampir punya sedikit ruang untuk bernapas.

 Naoya berdiri di depan meja dosennya dengan map penelitian yang tebalnya belum juga layak disebut “bab pembahasan”, sementara Profesor Yukino Katsuragi menatap lembar-lembar kertas itu dengan ekspresi yang tidak berubah sejak ia masuk tadi. Ruang konsultasi di gedung fakultas terasa dingin oleh AC, tetapi justru udara dari luar yang lembap membuat tengkuk Naoya terasa semakin berat. Hujan baru saja reda. Tetes air menempel di bingkai jendela, lalu mengalir pelan seperti seseorang yang tak kunjung selesai menangis.

 “Bagian pembuka ini masih terlalu aman,” kata Yukino sambil mengetuk satu paragraf dengan ujung pena. “Kamu seperti sedang menulis untuk menyenangkan semua orang, Naoya-kun. Aku butuh posisi, bukan kehati-hatian.”

 Naoya menunduk sedikit. “Saya mengerti.”

 “Tidak cukup mengerti. Kamu harus memperbaiki.”

 Suara itu tidak keras. Itulah yang justru membuatnya lebih tajam. Yukino Katsuragi memang bukan tipe dosen yang suka menumpahkan emosi, tapi setiap kalimatnya jatuh seperti benda kecil yang berulang kali dipukul ke permukaan meja. Tidak memecahkan, namun terus mengikis.

 “Standar bab awalnya minggu depan,” lanjutnya. “Kalau kamu masih menulis seperti ini, aku tidak akan bisa bilang itu layak dibawa ke seminar.”

 Naoya mengangguk lagi. “Baik.”

 Yukino menatapnya sebentar, seakan menunggu tanda perlawanan. Tidak ada.

 “Jangan terlalu sering mengucapkan ‘baik’ tanpa isi,” katanya akhirnya. “Pulang, baca lagi literatur primer. Bawa revisi ke saya sebelum akhir pekan.”

 Naoya menunduk lebih dalam. “Baik, sensei.”

 Saat ia keluar dari ruangan itu, bahunya terasa seperti baru saja menahan beban yang tak terlihat. Koridor fakultas ramai oleh suara mahasiswa yang pulang, langkah-langkah sepatu yang beradu dengan lantai, dan beberapa tawa yang terdengar terlalu hidup untuk hari yang ia jalani. Naoya menatap jam di ponselnya sambil berjalan. Sudah lewat sedikit dari jam tiga sore.

 Ia memutuskan pergi ke perpustakaan kampus.

 Perpustakaan pada sore hari selalu punya ritme sendiri: sunyi yang tidak sepenuhnya sunyi, karena di sela rak buku dan meja belajar masih ada napas orang-orang yang berusaha menyelamatkan masa depan masing-masing. Naoya duduk di sudut dekat jendela, membuka laptop, menata jurnal-jurnal yang diperlukan, lalu mulai membaca. Kalimat-kalimat dari naskah sastra kuno mengalir di layar, penuh istilah yang belum sepenuhnya ia kuasai, penuh rute pikiran yang harus ia petakan satu-satu.

 Ia baru lima belas menit tenggelam ketika ponselnya bergetar di atas meja.

 Satu pesan dari Nagisa.

 Naoya melirik sekilas.

 Kamu kenapa?

 Ia mengangkat alis tipis. Baru hendak membalas, baris baru muncul.

 Aku ganggu ya?

 Naoya sempat tersenyum kecil. Jari-jarinya mengetik singkat: Nggak. Aku lagi di perpustakaan.

 Belum sempat pesan itu terkirim, getar berikutnya masuk.

 Kalau kamu nyesel pacaran sama aku, bilang aja…

 Naoya membeku.

 Layar ponsel kembali menyala sebelum ia sempat menata napas.

 Naoya?

Kamu marah?

Kok nggak dibales?

Aku ganggu ya? Serius, bilang aja.

 Naoya menatap deretan pesan itu satu per satu. Di sela rasa lelah yang menempel sejak pagi, ada rasa bersalah yang langsung naik ke dada dengan cara yang terlalu familiar. Nagisa memang begitu sejak awal. Cemasnya bisa berubah menjadi jalinan pesan berantai yang kadang terdengar manja, kadang nyaris seperti permintaan maaf yang dipaksa keluar sebelum sempat ditinggal.

 Ponsel itu terus bergetar.

 Kamu lagi sama Mio?

Aku cuma nanya.

Naoya, jawab dong.

 Naoya menatap layar cukup lama sampai huruf-huruf itu terasa kabur. Ia melirik jam. Baru dua puluh menit ia tak membalas. Dua puluh menit saja. Namun pada Nagisa, dua puluh menit bisa terasa seperti pembukaan jurang kecil yang segera harus diisi kata-kata.

  Naoya mengusap muka sebentar, lalu mengetik: Aku di perpustakaan. Baru lihat ponsel. Ada apa?

Balasan masuk hampir seketika.

 Nggak ada apa-apa.

 Lalu satu lagi.

Lihat selengkapnya