Pukul dua pagi datang tanpa suara.
Rumah tua itu sudah lama tenggelam dalam gelap, hanya menyisakan satu lampu kecil di dapur yang lupa dimatikan dan bayang-bayang furnitur di ruang tamu. Hujan di luar masih turun tipis, memukul genteng seperti jari-jari yang lelah. Naoya duduk sendiri di sofa, punggungnya sedikit melengkung, kepala tertunduk ke depan. Di meja kopi, lembar-lembar cetakan penelitian akhirnya berserakan begitu saja, seperti sesuatu yang baru saja ia buang karena tak sanggup lagi memandangnya.
Ia menutup mata. Bukan untuk tidur. Lebih seperti menyerah sebentar.
Sutradara hidupnya beberapa bulan terakhir terasa semakin kejam: riset yang mandek, draf yang tak mau selesai, tubuh yang capek tapi tidak pernah benar-benar bisa istirahat, dan rumah ini—rumah masa kecil yang dulu terasa luas ketika ia kecil—kini seperti dinding yang perlahan mendekat. Sejak Nagisa ada, setiap ruang seolah punya napas sendiri. Setiap pintu terasa bisa terbuka kapan saja, membawa satu emosi baru yang harus ia tampung.
Naoya mengangkat tangan dan mengusap pelipisnya. Dadanya sesak tanpa sebab yang jelas. Mungkin karena ia terlalu lama menahan semua hal yang tak sempat ia ucapkan. Mungkin karena hari tadi, lagi-lagi, ia tidak bisa memaksa dirinya menyentuh satu pun kalimat dari bab penelitiannya dengan jernih.
“Kenapa malah mentok di sini lagi…” gumamnya ke ruang kosong.
Lampu dapur berkedip kecil.
Ia menatap daftar catatan yang paling atas, lalu memalingkan wajah. Huruf-huruf itu seperti menjauh darinya, berubah menjadi sesuatu yang asing. Ia menelan ludah. Ada rasa bersalah yang datang bersama lelah, rasa bersalah karena tidak maju-maju, karena menyusahkan orang, karena mungkin memang tidak cukup pintar, tidak cukup kuat, tidak cukup layak untuk hidup tenang.
Dari koridor terdengar langkah pelan.
Naoya tidak langsung menoleh. Ia hanya duduk diam, menunggu siapa pun itu mendekat tanpa perlu diminta. Nagisa muncul dari arah kamar dengan rambut yang masih berantakan, mengenakan hoodie tipis yang terlalu besar, matanya setengah terpejam karena baru bangun. Ia tidak bertanya kenapa Naoya masih di sofa. Ia tidak bertanya kenapa lampu belum dipadamkan. Ia hanya berjalan pelan, lalu duduk di sebelah Naoya dengan jarak yang hampir terlalu dekat.
Naoya memandangnya sekilas.
Nagisa mengamati wajahnya yang letih, lalu menurunkan suara hingga hampir seperti bisikan.
“Kalau kamu sedih,” katanya, “Peluk aku aja. Nggak usah ngomong apa-apa.”
Kalimat itu sederhana. Tapi justru karena sederhana, dada Naoya terasa seperti retak pelan.
Ia menunduk. Tangannya, yang sejak tadi ia genggam sendiri di pangkuan, kini bergerak ragu. Ada bagian dirinya yang masih menolak. Masih ingin bersikap baik. Masih ingin menjaga jarak agar tidak merepotkan siapa pun. Tapi bagian itu terlalu kecil malam ini, terlalu lelah untuk mempertahankan dinding yang sudah kropos.
Naoya menghela napas panjang, lalu akhirnya menyerah.
Tubuhnya miring, wajahnya dibenamkan ke pundak Nagisa. Ia memeluk perempuan itu erat—terlalu erat, mungkin, seperti orang yang baru menemukan sesuatu sebelum kehilangannya lagi. Napas Nagisa hangat di dekat telinganya. Bau sabun dan sisa hujan dari rambut yang belum kering itu membuat kepalanya justru terasa semakin berat.
Nagisa tidak menolak. Ia membalas pelukan itu dengan kedua tangan yang langsung menutup punggung Naoya, menahan tubuh pria itu di tempatnya. Seolah ia pun sedang berusaha memastikan sesuatu tidak lepas.
Mereka diam cukup lama.
Naoya merasa tenggorokannya nyaris tak sanggup bicara. Namun saat Nagisa mulai bergerak, suaranya ikut turun, perlahan, seperti membuka luka yang sudah lama tidak disentuh siapa pun.
“Aku dulu nggak ngerti,” ujar Nagisa pelan, pandangannya kosong menatap dinding gelap di depan. “Waktu kecil, kalau Papa pulang dengan wajah ramah, aku biasanya malah takut.”
Naoya tidak bergerak. Ia hanya mendengarkan.
“Kalau beliau terlalu baik, biasanya itu cuma awal dari sesuatu yang nggak enak,” lanjutnya. “Aku kecil dan bodoh, jadi dulu kupikir itu berarti aku yang salah. Aku yang harus lebih baik, lebih manis, lebih nurut. Biar nggak ada yang marah.”