Naoya mulai lebih sering tinggal di perpustakaan.
Bukan karena ia tiba-tiba rajin, meski memang ada bagian dari dirinya yang ingin mengatakan begitu. Bukan pula karena udara rumah buruk atau mejanya di ruang belajar tidak nyaman. Alasannya jauh lebih sederhana, dan justru itulah yang membuatnya terasa makin melelahkan: di perpustakaan, untuk beberapa jam, ia bisa menjadi mahasiswa yang hanya perlu mengurus halaman, referensi, dan catatan pinggir. Bukan seseorang yang setiap kali pulang akan disambut oleh tatapan Nagisa yang terlalu mencari, terlalu mengikut, terlalu mudah berubah menjadi pertanyaan yang tak sempat selesai.
Di sana, ia punya alasan untuk diam.
Di sana, bahkan saat ponselnya bergetar, ia bisa menundanya sampai satu paragraf selesai, sampai satu kutipan cocok, sampai satu ide tidak lagi menggantung di udara. Di rumah, ia tak pernah punya kemewahan seperti itu. Begitu pintu dibuka, biasanya ada suara langkah, suara panggilan lembut, atau sekadar keberadaan yang menempel seperti bayangan di ujung ekor mata. Nagisa tidak pernah melakukan sesuatu yang kasar. Justru itu yang membuat semuanya sulit dijelaskan. Ia selalu lembut, selalu menunggu, selalu datang dengan wajah yang seolah tak punya rumah lain selain tubuh Naoya.
Dan Naoya, yang terlalu lama merasa dibutuhkan oleh terlalu sedikit orang, semakin sering merasa tak punya cukup tenaga untuk menolak.
Maka perpustakaan kampus menjadi semacam sela udara di antara dua tekanan.
Sore itu, ia duduk di sudut lantai dua, di antara rak sastra klasik dan meja baca yang lampunya agak redup. Jendela besar di ujung ruangan memperlihatkan langit Tokyo yang mulai berubah abu-abu. Di luar, angin membawa sisa hujan tipis yang tak jadi turun, hanya meninggalkan gerimis di kaca seperti bekas napas.
Naoya menatap catatannya, lalu garis bawah pada satu nama pengarang kuno, lalu kembali ke layar laptopnya.
Ia sudah lebih dari dua jam di sana. Punggungnya mulai kaku. Matanya terasa panas. Tetapi begitu ia mengingat lorong rumah yang sempit, suara Nagisa yang akan menyelipkan diri ke sisi tubuhnya, atau tatapan Mio yang entah mengapa selalu lebih hati-hati daripada yang seharusnya, ia jadi lebih rela memaksa dirinya tetap berada di tempat itu.
Di meja sebelah, seorang mahasiswa lain menutup buku dengan pelan. Di pojok ruangan, seorang petugas perpustakaan mendorong troli buku tanpa suara. Waktu berjalan seperti biasa, menyamar sebagai tenang.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Naoya menunduk sekilas, lalu berhenti membaca.
Bukan hanya satu. Dua. Tiga.
Kamu kenapa?
Aku ganggu ya?
Kalau kamu nyesel pacaran sama aku, bilang aja…
Naoya menatap layar itu beberapa detik terlalu lama.
Lalu satu lagi muncul.
Onii-chan, pulang jam berapa?
Jangan lupa makan.
Naoya menghela napas pelan, menekan layar ponsel dengan ibu jarinya, tapi tidak menjawab. Ia tahu, kalau ia membalas satu pesan, serentetan balasan akan datang tanpa jeda. Begitulah Nagisa akhir-akhir ini. Kalau tidak ada jawaban terlalu lama, ia bisa menjadi cemas. Kalau ada jeda sedikit, ia mengira sedang mengganggu. Kalau Naoya terlihat capek, ia akan berusaha menebusnya dengan lebih banyak perhatian, sampai perhatian itu sendiri berubah menjadi beban yang tak bernama.
Naoya meletakkan ponsel kembali.
Ia berusaha menulis satu kalimat lagi.
Namun yang tertulis justru titik-titik yang segera dihapus.
Beberapa menit setelah itu, notifikasi lain kembali datang. Pesannya lebih pendek, lebih rapat, seperti langkah seseorang yang makin panik karena tidak menemukan pintu.
Naoya?