Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #51

Pesta yang Salah Alamat

Kalender di dapur menunjukkan pertengahan Juni.

 Angka-angka kecil di pojok kertas itu seperti sengaja menatap Naoya dari atas meja makan, mengingatkannya bahwa hari ulang tahunnya tinggal beberapa hari lagi. Musim hujan belum benar-benar reda; udara tetap lembap, gerah, dan sedikit lengket di kulit. Di luar, langit Tokyo menggantung abu-abu pucat, seolah sejak pagi pun cuaca sudah malas membedakan antara siang dan sore.

 Naoya menunduk di atas kertas-kertas catatan penelitian yang dikritik habis-habisan oleh profesornya siang tadi. Margin penuh coretan merah. Kalimat yang harusnya sederhana berubah menjadi rujukan yang berputar-putar, seperti ia sedang diminta membangun jembatan dari tali yang putus di tengah jalan.

 Ia mengusap wajahnya perlahan.

 Satu hari lagi. Dua hari lagi. Ulang tahun.

 Dulu, ia tidak pernah terlalu memikirkan tanggal seperti itu. Perayaannya hampir selalu lewat begitu saja, di antara pesan singkat dari ibunya yang formal, transfer uang bulanan, dan sisanya diam yang panjang. Namun sekarang, dengan Nagisa yang terlalu ingin membuat segalanya “berarti”, tanggal itu justru terasa seperti batu kecil yang diselipkan diam-diam ke dalam sepatu.

 Ia tidak sempat berpikir lebih jauh karena suara pintu depan berderit pelan.

 “Aku pulang,” terdengar suara Nagisa dari lorong.

 Naoya menoleh sekilas. Nagisa baru beberapa hari ini tampak lebih tenang daripada sebelumnya. Ia masih clingy seperti biasa, tetapi clingy yang sekarang punya semacam kepanikan teratur, seolah ia setiap hari sedang berusaha memastikan ia tidak ditinggalkan oleh udara yang ia hirup sendiri. Naoya belum pernah sepenuhnya bisa menjelaskan itu pada dirinya. Ia hanya tahu, setiap kali Nagisa memeluknya, ada bagian dari dirinya yang merasa dibutuhkan; dan ada bagian lain yang diam-diam lelah.

 Nagisa melangkah masuk sambil melepas sepatu. Wajahnya terlihat cerah, terlalu cerah, seperti ia sudah menyimpan sesuatu sepanjang hari dan sekarang nyaris tak tahan menahannya.

Naoya belum sempat bertanya, karena Nagisa sudah lebih dulu mendekat dan menempelkan tubuhnya dari samping. “Kamu capek?” bisiknya.

 “Sedikit,” jawab Naoya jujur.

 Nagisa tersenyum. “Kalau gitu nanti kamu istirahat aja. Aku yang urus.”

 Naoya mengangkat alis. “Urus apa?”

 Nagisa hanya tersenyum lebih lebar, lalu berjalan ke dapur seolah pertanyaan itu tidak penting. Naoya memandangnya sebentar, lalu kembali menunduk ke kertas-kertasnya. Ada rasa ganjil yang ia tidak bisa tunjukkan sebagai apa. Namun malam itu, ia terlalu letih untuk mengejarnya.

 Ia tidak tahu bahwa sejak pagi, Nagisa sudah bergerak seperti seseorang yang menyiapkan panggung untuk sebuah adegan yang tidak pernah diminta penontonnya.

 --o--

 Nagisa memang tidak mendiskusikannya dengan Naoya.

 Ia menghubungi Ako diam-diam, lalu mengirim pesan ke beberapa teman dari jurusan sastra yang dulu pernah satu kelas, orang-orang yang hubungannya cukup akrab untuk disebut teman, cukup jauh untuk disebut aman. Ia memilih malam itu, di rumah masa kecil mereka, yang katanya akan terasa hangat dan intim. Ia menata rencananya dengan semangat yang tampak seperti cinta, tapi sesungguhnya lebih mirip sebuah pembuktian.

 Bahwa ia bisa jadi kekasih yang sempurna.

 Bahwa ia bisa mengisi kekosongan, menebus luka, mengubah rumah yang sunyi menjadi rumah yang “pantas” untuk dirayakan.

 Bahwa ia bisa membuat Naoya tersenyum pada hari yang selama ini tidak pernah dirayakan dengan benar.

 Semuanya terlihat indah di kepalanya.

 Terlalu indah.

Baginya.

 Hari itu, ketika Naoya masih berada di kampus menanggung kritik yang terasa lebih berat daripada kertasnya sendiri, rumah masa kecil mereka perlahan berubah bentuk. Pintu-pintu dibuka. Lampu-lampu dinyalakan. Meja didorong ke sisi ruang tamu. Ada kantong-kantong plastik berisi makanan ringan, kotak kue, beberapa bungkus minuman, dan dekorasi sederhana yang dibeli tergesa-gesa.

 Ako datang paling dulu, dengan wajah yang setengah ingin tertawa, setengah ingin menyelamatkan keadaan bila ada yang salah.

 “Ini beneran?” tanya Ako sambil memandang ruang tamu yang mulai penuh. 

Nagisa mengangguk cepat. “Biarin aku kali ini.”

 Ako mendengus, tetapi tidak membantah. Ia hanya menatap Nagisa sebentar, lalu mengerling ke arah meja yang sudah ditutup taplak warna krem. “Kalau dia pulang dan ngamuk, aku gak mau disalahin.”

 “Dia gak akan ngamuk,” kata Nagisa, terlalu yakin.

 Ako tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, lalu mulai membantu menata piring.

 Di antara kesibukan itu, Mio sesekali lewat dari dapur, menurunkan tatapan ke meja, lalu mengangkatnya lagi tanpa bicara. Ia tidak ikut menyapa para tamu. Tidak ikut bergurau. Tidak ikut memuji dekorasi. Hanya memandangi semuanya seperti seseorang yang berdiri di luar kaca rumah yang sama.

 Nagisa terlalu sibuk memastikan semuanya “berhasil” untuk menyadari betapa diamnya Mio.

 Atau mungkin ia sadar sedikit, namun memilih menganggap diam itu sebagai bentuk menerima.

 Yang pasti, rumah itu malam itu bukan lagi rumah yang tenang. Ia menjadi sesuatu yang lain: sebuah ruangan yang dipaksa bernapas lebih keras daripada biasanya.

 --o--

 Naoya pulang lebih lambat dari yang ia kira.

 Drafnya di kampus siang tadi benar-benar dihajar. Profesor Katsuragi tidak membentak, itu justru yang lebih buruk; nada suaranya datar, teliti, dan penuh kekecewaan yang terorganisir. Bagian yang harus direvisi masih terlalu banyak. Struktur argumennya dianggap rapuh. Refrensinya tidak cukup konsisten. Ia diminta menyerahkan ulang versi yang lebih layak secepatnya.

Saat Naoya turun dari bus dan berjalan menyusuri jalan yang mulai gelap, kepalanya masih penuh suara profesor, penuh kalimat yang harus dikoreksi, penuh rasa lelah yang belum sempat ia beri nama. Ia hanya ingin pulang, mandi, duduk diam, lalu tidur tanpa harus menjelaskan wajahnya kepada siapa pun.

 Begitu pintu depan rumah dibuka, semuanya langsung hancur dari urutan yang ia kenal.

 Ada suara tawa.

 Ada musik pelan dari speaker kecil.

 Ada aroma makanan yang terlalu banyak untuk dua orang.

 Dan ada orang-orang di ruang tamu.

Lihat selengkapnya