Pagi itu, langit Tokyo seperti belum memutuskan apakah ia ingin benar-benar hujan atau hanya mengancamnya.
Awan menggantung rendah, kelabu, lembap, dan berat. Angin yang lewat di sela bangunan kampus terasa basah meski belum turun setetes pun. Di koridor gedung sastra, orang-orang berjalan lebih cepat dari biasanya, menahan kertas, tas, dan rambut mereka sendiri agar tidak berantakan. Bau tanah basah samar-samar masuk dari pintu depan yang terbuka-tutup oleh banyak mahasiswa.
Ako sudah menunggu di dekat jalur pejalan kaki yang mengarah ke perpustakaan.
Ia tidak berdiri terlalu mencolok, tapi tubuhnya jelas tegang. Ponselnya berkali-kali ia angkat lalu turunkan, seolah sedang menimbang apakah panggilan itu perlu atau tidak. Ketika akhirnya sosok Nagisa muncul dari arah tangga gedung, Ako langsung melangkah mendekat.
“Nagisa.”
Nagisa menoleh. Matanya sedikit sembab, tapi ekspresinya sudah kembali dibentuk menjadi sesuatu yang datar dan tajam. Bukan wajah yang kemarin. Bukan wajah yang sempat pecah. Ia mengenakan jaket tipis, rambutnya diselipkan seadanya ke belakang telinga, dan langkahnya cepat seperti orang yang tidak ingin ditahan.
Ako menahan napas sebelum bicara. “Ada apa dengan Naoya? Kemarin dia kelihatan tertekan banget. Kamu nggak bisa terus-terusan mengurung dia seperti itu.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti benda berat.
Beberapa mahasiswa yang lewat menoleh sekilas, lalu buru-buru berpaling. Nagisa tidak bergerak. Ia menatap Ako lama sekali, seolah baru menyadari bahwa orang di depannya bukan sekadar teman yang terlalu banyak bicara, tetapi seseorang yang berani menyentuh batas yang selama ini ia jaga dengan cakar.
Lalu bibirnya bergerak sedikit.
Dan suaranya keluar dingin.
“Tahu apa kamu soal hubungan kami? Naoya itu pacarku, dia memilih bersamaku. Kamu cuma teman, Ako. Jangan pernah ikut campur atau sok tahu soal kondisi kami lagi. Jangan hubungi aku atau Naoya di luar urusan kuliah.”
Ako membeku.
Ada jeda kecil yang sangat sunyi, saat kata-kata itu masih belum selesai mendarat di kulitnya. Ia mencoba membaca wajah Nagisa, mencari sisa-sisa keraguan, tapi yang ia temukan justru garis yang lebih keras dari sebelumnya. Garis yang bukan muncul karena marah biasa, melainkan karena sesuatu yang sedang berusaha mempertahankan dirinya dengan cara paling buruk.
“Nagisa—”
Nagisa sudah mengeluarkan ponselnya.
Satu sentuhan cepat, tanpa ragu. Nama Ako menghilang dari layar dalam bentuk yang paling sederhana dan paling mematikan: diblokir.
“Aku bilang jangan ikut campur,” ujar Nagisa, kali ini tanpa menaikkan suara. Itu justru membuatnya lebih dingin.
Ako menganga, lalu menelan ludah. “Kamu serius bilang begitu?”
Nagisa tidak menjawab. Ia menyimpan ponselnya, lalu berjalan melewati Ako begitu saja.
Ako berdiri diam beberapa detik, merasa ada sesuatu yang tertinggal di dadanya. Bukan hanya marah. Bukan hanya tersinggung. Lebih dari itu, semacam ngeri yang tidak sempat ia susun menjadi bentuk yang rapi.
Nagisa tidak lagi berpura-pura ramah.
Itu yang paling mengganggu.
Karena seseorang yang sudah tidak berpura-pura biasanya lebih jujur, dan kejujuran Nagisa pagi itu terasa seperti pintu yang dikunci dari dalam.
--o--
Sore harinya, Naoya baru pulang setelah menghabiskan hampir setengah hari di kampus, menumpuk laporan, catatan revisi, dan kekesalan yang tidak kunjung habis. Kepalanya berdenyut sejak siang. Ia merasa matanya seperti digerus halus oleh kurang tidur dan terlalu banyak huruf. Musim hujan membuat udara di luar lembap, sementara di dalam rumah, suasana juga tidak jauh berbeda: hangat, tertutup, dan menekan dengan cara yang tidak terlihat.
Begitu ia masuk ke rumah masa kecil mereka, ia mendapati Nagisa sedang menunggunya di ruang tamu.
Wajah Nagisa tampak lebih lembut dari pagi itu. Mata yang tadi sembab sudah dirapikan, bibirnya sedikit berwarna, dan ia mengenakan cardigan tipis yang membuatnya tampak lebih kecil dari biasanya. Ada usaha jelas untuk terlihat manis, bahkan sebelum kata-kata keluar.
Naoya baru menutup pintu ketika Nagisa tersenyum dan mendekat.
“Naoya,” katanya sambil menggapai lengan Naoya, “kamu lagi capek, ya?”
Naoya mengangguk. “Iya. Tugas tadi agak banyak.”
Nagisa menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Aku mikir… kamu keluar aja bentar malam ini. Kita jalan-jalan ke taman kota, ya? Biar pikiranmu agak enakan. Udara sore masih lumayan.”
Naoya memejamkan mata singkat. Ada denyut di pelipisnya yang terasa makin keras. Ia mendengar suara hujan mulai jatuh pelan di atap. Rumah ini terasa hangat, terlalu hangat. Kelelahan membuat tubuhnya ingin langsung rebah di mana saja yang paling dekat.
“Kayaknya nggak,” jawabnya hati-hati. “Aku ingin istirahat dulu. Kepalaku agak sakit.”
Nagisa masih tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Sebentar aja.”
“Maaf.” Naoya mengusap tengkuknya. “Aku beneran ingin tidur di kamar.”
Sunyi.
Naoya masih berdiri dengan tas di pundaknya. Ia tidak melihat perubahan itu datang, karena ia sedang terlalu sibuk menahan rasa pusingnya sendiri. Tapi Nagisa mendadak memucat. Bukan dengan meledak. Bukan langsung. Justru seperti seseorang yang baru saja mendengar bunyi pintu tertutup dari dalam dirinya sendiri.
“Jadi kamu nolak?”
Naoya menoleh. “Bukan nolak. Aku cuma capek.”
Nagisa menatapnya lama, lalu suaranya naik satu tingkat, pecah dengan nada yang tidak berhasil ia sembunyikan. “Kamu capek ya karena aku?!”
Naoya terdiam.
Karena ia tidak tahu harus menjawab apa yang aman. Karena apapun jawabannya, ia bisa merasakan tubuh Nagisa sudah bergerak menuju sisi yang tidak lagi mendengar.
Nagisa menyambar tasnya sendiri dari meja kecil dekat pintu, gerakannya cepat dan kasar. “Kalau gitu aku pergi aja.”
“Nagisa—”
Ia sudah melangkah ke pintu depan. Hujan di luar terdengar lebih jelas sekarang, rintiknya mulai rapat.
Naoya mengejar setengah langkah. “Tunggu dulu. Kamu mau ke mana?”
Nagisa tidak menoleh. “Nggak usah ikut.”
Pintu depan terbuka.
Udara lembap masuk bersama suara hujan yang lebih keras.
Dan Nagisa berlari keluar begitu saja ke tengah cuaca buruk.
Naoya berdiri di ambang pintu beberapa detik, masih berusaha memproses apa yang baru terjadi. Kepalanya berdenyut. Punggungnya dingin. Ia menutup mata, menarik napas, lalu memaksa tubuhnya bergerak.
Ia tidak punya tenaga untuk ini.
Namun ia lebih tidak punya tenaga untuk membiarkan Nagisa menghilang.
--o--
Tiga jam berikutnya terasa seperti sesuatu yang direnggut dari waktu normal.