Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #53

Tawa yang Memicu Racun

Hujan di Tokyo sudah jatuh sejak pagi, dan menjelang malam ia belum juga menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti.

 Bukan hujan yang datang dan pergi seperti orang yang sekadar lewat. Ini hujan musim hujan yang benar-benar berniat tinggal. Deras, rapat, dan panjang. Dari balik jendela ruang tamu rumah tua itu, dunia di luar tampak seperti diselimuti lapisan kaca buram: jalanan mengilap, lampu kendaraan memanjang, dan pohon-pohon di pinggir gang menunduk berat seolah ikut lelah.

 Naoya sudah berkali-kali memandang keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.

 Seharian mereka bertiga terkurung di dalam rumah. Tidak ada alasan keluar. Tidak ada tempat yang cukup masuk akal untuk didatangi. Pada akhirnya, hujan membuat segala sesuatu terasa lebih kecil, lebih pelan, dan sedikit lebih sulit ditahan. Bahkan suara langkah kaki di lantai kayu terdengar terlalu jelas. Bahkan napas orang lain terasa ikut menempati ruang.

 Naoya sedang berdiri di ruang tamu, membenahi rak buku yang mulai berantakan karena beberapa volume catatan kuliahnya dicampur dengan buku-buku lama rumah ini. Jari-jarinya menggeser punggung buku satu per satu, lalu ia menyusun ulang dengan kepala sedikit menunduk, seperti orang yang mencoba memberi bentuk pada sesuatu yang tidak mau rapi.

 Di luar kamar mandi, suara air masih terdengar.

 Nagisa sedang mandi.

 Mio, yang dari tadi mondar-mandir di dapur dan koridor, akhirnya berhenti di belakang Naoya. Tidak ada suara langkah yang berarti. Tidak ada tanda-tanda besar. Hanya kehadiran yang tiba-tiba sudah dekat saja.

 “Naoya-nii.”

 Naoya menoleh sedikit. “Hm?”

 Mio sudah berdiri di sebelahnya, tangan di belakang punggung, ekspresi yang dibuat manis seperti biasa. Rambutnya sedikit berantakan karena sejak siang ia bolak-balik duduk, berdiri, lalu pindah tempat seakan ikut bosan oleh hujan. Tetapi matanya masih hidup; ada sesuatu yang selalu bergerak di dalamnya, cepat dan sulit ditangkap.

 “Aku bantuin rapihin, ya?”

 Sebelum Naoya sempat menjawab, Mio sudah mencondongkan tubuh dan ikut menyentuh tumpukan buku di rak. Ia mengambil satu buku, menghapus debu tipis di sampulnya dengan telapak tangan, lalu mengangkat kepala ke Naoya sambil tersenyum.

 “Dulu kamu suka nyusun buku kayak gini juga. Tapi waktu itu malah jatuh semua terus kami berdua ketawa.”

 Naoya mengerjap. “Waktu itu?”

 “Waktu kecil.” Mio mengangkat bahu kecil. “Pas kamu belum setinggi sekarang. Aku masih bisa manjat kursi tanpa dibilang bahaya.”

 Nada suaranya ringan, hampir nakal. Naoya, yang sejak pagi memikul kepala berat karena hujan, revisi, dan rumah yang terlalu penuh, mendadak mendapati mulutnya bergerak ke senyum kecil.

 “Jangan ngarang,” kata Naoya pelan.

 “Aku gak ngarang.” Mio menyenggol lengannya. “Kamu yang lupa. Aku bahkan pernah jatuh dari kursi gara-gara bantuin kamu ambil komik.”

 Naoya menatapnya, dan untuk sesaat, semuanya terasa tidak terlalu tajam. Tidak terlalu menekan. Mio berdiri sangat dekat—terlalu dekat kalau dipikirkan, tetapi terlalu biasa kalau dirasakan. Ia merapatkan tubuhnya ke sisi Naoya sambil tetap menyusun buku, lalu sesekali menarik ujung kaus Naoya tanpa sadar, seolah itu memang tempat terbaik untuk menambatkan diri.

 “Yang ini taruh di mana?” tanya Mio sambil memegang satu buku tebal.

 “Rak paling atas.”

 “Kalau aku jatuh?”

 “Ya jangan jatuh.”

 “Kalau aku jatuh, kamu tangkap aku gak?”

 Naoya mendesah singkat. “Kalau aku sempat.”

 “Harus sempat.”

 Ia menoleh sambil cemberut kecil, lalu bergelayut ke lengan Naoya dengan santai. Berat tubuhnya tidak banyak, tapi sensasi lengannya yang menempel itu entah kenapa membuat napas Naoya sedikit longgar. Ia tidak sadar sedari kapan pundaknya terasa sesempit itu. Tidak sadar sedari kapan ia menahan sesuatu di dalam dada dengan terlalu rapat.

 Mio bersandar di lengan Naoya sambil tertawa kecil sendiri atas leluconnya tadi.

 “Serius, ya,” katanya. “Kamu tuh dulu waktu kecil suka banget sok kuat. Kalau aku minta tolong, kamu bilang bisa sendiri, terus malah jatuh sendiri.”

 Naoya akhirnya tertawa.

 Bukan tawa besar. Bukan tawa yang meledak. Tapi tawa yang keluar begitu saja, tanpa sempat disaring, karena tubuhnya memang sedang capek untuk mempertahankan kekakuan. Suaranya pecah pendek, lalu ia memalingkan wajah sebentar sambil menahan bibirnya sendiri.

 Mio langsung berseru kecil, senang seperti orang yang baru berhasil mendapatkan hadiah.

 “Nah! Itu dia! Aku lebih suka onii-chan ketawa daripada wajah kusut terus.”

 Naoya menggeleng. “Kamu ini memang suka bikin orang susah serius.”

 “Bagus dong.” Mio memeluk lengannya lagi lebih erat. “Kalau kamu serius terus nanti jadi tua.”

 Naoya ingin membalas, tapi kata-katanya tertahan saat suara pintu kamar mandi bergeser.

 Nagisa keluar.

 Rambutnya masih basah, handuk kecil tersangkut di leher, dan pakaian rumahnya longgar, rapi, tetapi tampak baru selesai dipakai tanpa terlalu dipikirkan. Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah yang biasa—sampai matanya menangkap pemandangan itu.

 Naoya yang tertawa.

 Mio yang bergelayut di lengannya.

 Rak buku yang setengah dibenahi.

 Dan tepat pada detik itu, seluruh tubuh Nagisa seperti kehilangan urutan geraknya.

 Gelas air yang ia bawa dengan tangan kanan terlepas.

 Semua terjadi terlalu cepat. Gelas itu jatuh, menghantam lantai kayu, pecah dengan suara tajam yang memotong udara. Air dingin menyebar sekejap di atas papan lantai, dan serpihan kaca berhamburan di bawah kaki Nagisa.

Lihat selengkapnya