Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #54

Folder Dalam Laptop

Malam itu rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran rumah yang dihuni tiga orang.

 Hujan belum berhenti sepenuhnya sejak sore. Rintik halus masih menempel di kaca jendela, membiaskan lampu ruang tamu menjadi garis-garis tipis yang capek dipandang. Di luar, suara kendaraan lewat sesekali terdengar seperti napas jauh yang terseret. Di dalam rumah, yang ada hanya bunyi kipas laptop, suara jari mengetuk pelan di touchpad, dan napas seseorang yang tertidur di sampingnya.

 Naoya duduk di tepi ranjang kamar tamu yang kini lebih sering dipakai Nagisa daripada orang lain. Laptop pribadi Nagisa terbuka di pangkuannya. Di layar, sebuah dokumen penelitian sastra tersusun rapih dengan font kecil, subjudul, catatan kaki, dan tautan referensi yang berantakan hanya bagi orang yang tidak terbiasa. Naoya sudah membaca bagian yang sama dua kali, lalu berhenti di paragraf yang terasa terlalu padat untuk malam yang sudah terlalu larut.

 Nagisa menyuruhnya memeriksa draf itu sebelum tidur. Suaranya tadi terdengar lelah, tetapi juga sedikit memohon, seperti biasanya.

 “Kalau ada yang aneh, bilang aja,” katanya sambil menyerahkan laptop itu dengan kedua tangan, “aku nggak mau dibantai profesor besok.”

 Naoya sempat tersenyum waktu itu. Lalu Nagisa naik ke ranjang, menempelkan tubuhnya ke sisi Naoya seperti orang yang baru menemukan tempat aman di tengah badai. Setelah beberapa menit membaca, kepalanya tertunduk pelan, lalu lebih pelan lagi. Tak lama kemudian napasnya berubah stabil, panjang, dan tertahan oleh mimpi.

 Sekarang ia tertidur dengan kepala miring ke pundaknya.

 Yang lebih sulit adalah lengannya.

 Nagisa memeluk lengan kanan Naoya begitu erat seolah itu adalah satu-satunya benda yang masih bisa ia percaya di dunia. Jari-jarinya mengunci pergelangan Naoya, melekat dekat, terlalu dekat, dengan kekuatan yang anehnya tidak lagi terasa hangat. Naoya semula menganggap itu manja. Lama-lama ia sadar itu lebih mirip borgol daripada pelukan. Setiap kali ia mencoba menggeser posisi, genggaman itu mengencang lagi secara refleks, seakan tubuh tidur Nagisa tahu apa yang ia lakukan dan menolak kehilangan satu sentimeter pun.

 Naoya diam beberapa saat, menatap layar laptop.

 “Ini juga cacat,” gumamnya pelan, lalu menghela napas.

 Ia menggeser dokumen ke atas, membuka lampiran referensi, lalu mencari folder tempat file aslinya disimpan. Nagisa memang meminta bantuannya untuk memeriksa tulisan, bukan untuk membaca semuanya dari awal. Tetapi di laptop itu, di balik susunan folder yang rapi dan nama file yang cukup masuk akal, ada satu direktori tersembunyi yang tidak mencolok—sebuah folder tanpa ikon, sedikit terkunci, tetapi sandi yang tersimpan otomatis sudah terbuka karena pernah dipakai beberapa kali.

 Naoya awalnya hanya berniat mencari file sumber kutipan.

 Ia mengklik folder itu.

 Tiga subfolder muncul.

 Catatan.

Referensi.

Dan satu nama yang membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.

 Rencana Menghilang.

 Naoya menatap layar tanpa berkedip.

 Ia merasa tangannya masih bergerak, tetapi ruangan di sekelilingnya seperti menarik diri menjauh. Suara hujan tiba-tiba terdengar lebih keras. Kipas laptop lebih bising. Nafas tidur Nagisa di pundaknya berubah jauh. Ia harus mengecek lagi apakah yang dilihatnya benar-benar itu, namun jari-jarinya kaku.

 Folder itu tidak kosong.

 Ada beberapa dokumen teks, catatan harian, arsip tanggal lama, dan satu file terbaru yang diberi nama lebih pendek, lebih dingin, dan jauh lebih menakutkan daripada yang seharusnya dimiliki seseorang yang sedang belajar hidup kembali.

 Naoya membuka file terlama lebih dulu.

 Tidak banyak kata di sana. Hanya beberapa kalimat yang seperti dicabut dari dada seseorang yang sudah terlalu lelah untuk berteriak.

 Tentang rasa takut ditinggalkan.

Tentang suara ayah yang selalu terdengar seperti ancaman walau sedang memuji tubuhku.

Tentang bagaimana sebuah rumah bisa terasa aman hanya ketika orang lain belum pulang.

Tentang keinginan untuk mematikan diri sendiri dengan cara yang “tidak merepotkan siapa pun”.

 Naoya menelan ludah.

 Ia ingin menutup file itu saat itu juga. Namun matanya bergerak lagi, entah karena rasa ingin tahu atau karena sesuatu yang lebih primitif—sesuatu yang memaksa ia memastikan sendiri seberapa dalam jurang yang selama ini tertutup senyum, tatapan manja, dan suara manis yang memanggilnya.

 Ia membuka file terbaru.

 Dan di situlah ia menemukan kalimat yang membuat seluruh darah di tubuhnya seolah turun satu tingkat.

 Jika Naoya berpaling, tidak ada alasan lagi bagi ruangan ini untuk tetap hangat.

 Naoya membeku.

 Di layar, ada paragraf lain di bawahnya. Kalimat-kalimat pendek, tertulis tanpa emosi yang kentara, tetapi justru karena itu terasa lebih mengancam. Bukan ancaman langsung. Bukan pula teriakan. Justru lebih buruk: logika dingin yang menempel pada keputusasaan, seperti orang yang sudah lama menyusun kematian sebagai kemungkinan yang paling masuk akal.

 Ia membaca lagi.

 Bukan satu kali. Dua kali. Tiga kali.

 Kalimat itu tetap sama.

 Naoya merasakan sesuatu di tengkuknya berdiri. Ruangan menjadi terlalu sempit. Napasnya menumpuk di dada. Genggaman Nagisa pada lengannya mendadak terasa sangat lain—bukan lagi kehangatan orang yang mencari pelukan, melainkan pengikat hidup yang memastikan ia tidak bisa bergerak ke mana pun tanpa meninggalkan rasa bersalah.

 Selama ini.

 Selama ini semua itu?

 Pelukan yang lembut ketika ia pulang.

Ciuman kecil di pipi yang dibungkus kata “capek banget ya”.

Lihat selengkapnya