Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #55

Batas Kemampuan Otak

Awal Juli datang tanpa sopan santun.

 Tokyo belum benar-benar kering dari musim hujan, tapi panas lembap sudah mulai menempel di kulit sejak pagi, membuat udara di dalam kampus terasa seperti kain basah yang diperas setengah hati. Di papan pengumuman Fakultas Sastra, kertas-kertas baru ditempel bertumpuk di atas pengumuman lama. Mahasiswa yang lewat berhenti sebentar, membaca, lalu pergi dengan wajah yang sama-sama tegang.

 Naoya berdiri di depan mading itu lebih lama dari yang lain.

 Judul pengumumannya dicetak tebal, terlalu rapi untuk membawa kabar yang begitu kejam: batas akhir pengumpulan draf untuk sidang pleno paruh waktu sudah dipastikan. Bukan minggu depan. Bukan “sebisa mungkin.” Batasnya jelas, hitam di atas putih, seolah dunia memang baik kalau mengucapkan sesuatu dengan huruf besar.

 Naoya membaca tanggalnya dua kali.

 Tangannya masih memegang map yang isinya catatan-catatan kusut, komentar dosen, dan coretan yang sejak dua minggu lalu tidak pernah berhasil ia ubah menjadi paragraf yang utuh. Di kepalanya, tenggat itu tidak berdiri sendiri. Tenggat itu menempel pada wajah profesor pembimbingnya, pada kalender merah di kamar, pada pesan-pesan Nagisa yang selalu datang dengan nada manis tapi menagih, pada wajah Mio yang selalu menunggu sesuatu darinya saat ia pulang.

 Waktu hampir habis.

 Dan entah kenapa yang terasa paling mengerikan bukanlah sidang itu sendiri.

 Melainkan kenyataan bahwa kepalanya sudah seperti benda yang retak dari dalam.

 Ia berjalan pulang dari kampus dengan langkah yang terasa otomatis. Sinar matahari siang memantul di aspal yang belum kering sepenuhnya, menguapkan bau tanah lembap. Naoya memandang orang-orang yang lewat sambil membawa payung lipat, minuman dingin, atau tas laptop yang tampak lebih ringan dari hidup mereka sendiri. Ia sempat berpikir, dengan rasa iri yang sangat kecil dan sangat memalukan, bahwa mungkin otak orang lain memang punya ruang cadangan yang tidak ia miliki.

 Sampai akhir hari, pikirannya dibelah dua.

 Satu sisi untuk risetnya sendiri, yang sudah seperti kubangan lumpur. Satu sisi untuk draf Nagisa, yang secara aneh—dan semakin aneh setiap kali ia memikirkannya—selalu ia dahulukan.

 Bukan karena ia ingin.

 Bukan karena ia menganggap milik Nagisa lebih penting dari miliknya.

 Tapi karena setiap kali Nagisa berkata, dengan suara rendah dan rapuh, bahwa ia tidak sanggup mengerjakan itu, sesuatu di dalam dada Naoya selalu bergerak lebih dulu. Sesuatu yang menyuruhnya menolong, menyelesaikan, memastikan, menjaga. Sesuatu yang dulu terasa seperti kebaikan biasa, lalu pelan-pelan berubah menjadi kewajiban yang tidak ada ujungnya.

 Dan setiap kali ia hendak duduk sendiri untuk mengerjakan risetnya, ponselnya bergetar. Nagisa bertanya apakah ia sudah makan. Nagisa bertanya apakah ia pulang telat. Nagisa bertanya apakah hari ini ia marah. Nagisa bertanya apakah ia masih mencintainya. Pertanyaan-pertanyaan kecil yang dibungkus nada lembut, tetapi diam-diam menutup pintu dari sisi luar.

 Belum lagi Mio.

 Sejak pagi, adiknya itu sudah tiga kali memaksakan diri berdiri di dekat meja makan sambil membawa wajan, sekali lagi bertanya apa Naoya mau makan malam lebih awal, lalu berkali-kali menyenggol bahunya saat ia lewat di dapur. “Onii-chan suka kalau aku masak, kan?” katanya sambil memiringkan kepala, seolah jawaban apa pun selain iya akan membuat seluruh udara di rumah membeku.

 Naoya ingin berterima kasih.

 Ia benar-benar ingin.

 Tetapi rasa lelah membuat kalimat sederhana pun terasa berat. Ia merasa seperti ditarik dari dua sisi dengan jari-jari yang sama lembutnya, sama sayangnya, dan sama mematikan.

 Di ruang zemi mingguan, Ako langsung menyadari sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

 Naoya datang dengan mata yang tampak lebih gelap dari biasanya. Lingkar hitam di bawah matanya tidak lagi sekadar tanda kurang tidur; itu sudah seperti lapisan capek yang menetap. Buku catatan yang ia buka di atas meja zemi tetap kosong di halaman yang sama selama hampir setengah pertemuan.

 Ako mencondongkan tubuh sedikit. “Kamu nggak tidur?”

 Naoya mengangkat kepala. “Sedikit.”

 “Itu bukan jawaban.”

 “Cukup, Ako.”

 Nada itu terlalu datar untuk jadi bantahan, dan terlalu lelah untuk jadi peringatan. Ako mengernyit. Ia kenal wajah itu. Wajah yang terlihat masih duduk di ruangan, tapi pikirannya sudah pergi ke tempat lain. Ia hendak bicara lagi saat ponsel Naoya bergetar di atas meja.

 Satu kali.

 Lalu dua.

 Tiga.

 Naoya melirik layar, dan wajahnya langsung berubah lebih pucat.

 Pesan masuk dari Nagisa.

 Kamu lagi ngomong sama siapa?

 Aku ganggu ya?

 Kalau kamu nyesel pacaran sama aku, bilang aja sekarang.

 Naoya mematung sesaat. Di sebelahnya, Ako masih sempat melihat satu pesan lagi muncul sebelum layar terkunci: ...foto? aku mau lihat kamu di mana.

 Kuku Naoya mencengkeram tepi meja. Ia menarik napas terlalu cepat.

 “Naoya?” Ako memanggil pelan. “Ada apa?”

 Naoya bangkit terlalu mendadak hingga kursinya bergeser keras. Beberapa orang menoleh. Ia menutup layar ponsel dengan cepat seperti orang yang menyembunyikan luka.

 “Nggak ada.”

 “Tapi—”

 “Nggak ada, Ako.”

 Suara itu terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Ako terdiam, tercengang oleh cara Naoya memutus kalimatnya sendiri. Namun sebelum ia sempat mendekat, Naoya sudah merapikan barang-barangnya tergesa-gesa.

 “Aku pulang dulu.”

 “Naoya, tunggu—”

 Tapi ia sudah berjalan keluar.

 Ako memandang pintu zemi yang tertutup dan bertahan cukup lama di kursinya. Ada sesuatu yang dingin menggesek perutnya, sesuatu yang tidak enak dipahami. Ia tidak tahu isi pesan yang baru saja diterima Naoya, tapi dari cara wajahnya berubah, ia tahu itu bukan sekadar pertanyaan biasa.

 Dan ia tahu satu hal lain: Naoya sekarang seperti orang yang hidup di atas garis tipis, dan siapa pun yang memanggilnya dari sisi lain garis itu bisa membuatnya jatuh.

 Sore itu, profesor pembimbingnya yang perempuan memintanya datang ke ruang dosen.

 Naoya masuk dengan punggung kaku, menutup pintu pelan. Ruangan itu dingin oleh pendingin udara yang terlalu efisien. Di balik meja kerja yang rapi, sang profesor duduk dengan postur tenang yang terasa lebih tajam daripada kemarahan.

 Beliau masih berusia awal tiga puluhan, elok dengan cara yang tidak memohon disukai. Rambutnya terikat rapi, bibirnya tipis, ekspresinya tenang seperti permukaan danau yang justru menyembunyikan kedalaman yang mematikan. Di depannya, setumpuk kertas sudah disusun. Naoya tahu tanpa perlu melihat judulnya: draf bab awal yang ia kirim setengah jadi.

 “Naoya-kun,” katanya, sambil mengangkat mata dari kertas. Suaranya kritis, tetapi anehnya tetap sangat halus. “Saya sudah bilang, saya butuh draf yang bisa masuk sistem administrasi, bukan catatan pikiran yang masih berantakan.”

 Naoya menunduk. “Maaf.”

 “Maaf tidak memperpanjang tenggatnya.”

 Ia diam.

 Beliau menekan ujung pena ke meja, bunyinya kecil namun terasa penuh tuntutan. “Jika minggu depan draf kamu tidak masuk ke sistem administrasi, saya tidak akan ragu untuk menjatuhkan sanksi berat dan menunda kelulusan. Saya tidak menerima alasan personal apa pun, Naoya-kun.”

 Kalimat itu jatuh tanpa emosi. Justru karena itu, ia terasa lebih kejam.

 Naoya mengangguk pelan. “Saya mengerti.”

Lihat selengkapnya