Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #56

Malam Tanpa Kepulangan

Hujan turun sejak pagi, dan seharian itu Tokyo seperti sengaja menelan suara-suara manusia.

 Air dari langit jatuh begitu rapat sampai kaca jendela perpustakaan kampus tampak buram, seperti dunia di luar sengaja dihapus sedikit demi sedikit. Di dalam, lampu-lampu putih tetap menyala dengan rasa dingin yang tidak pernah berubah, rak buku berdiri kaku, dan orang-orang yang masih duduk membaca tampak seperti bayangan yang dipaksa bertahan di tempatnya masing-masing.

 Naoya sudah tidak tahu sejak kapan ia berhenti benar-benar membaca.

 Lembaran di depannya terbuka pada bab yang sama terlalu lama. Hanya kursor di laptopnya yang bergerak, berhenti, lalu bergerak lagi. Ia menatap kalimat yang ia tulis sendiri beberapa menit lalu, tetapi huruf-huruf itu seperti bukan miliknya. Seakan ada jarak yang sangat kecil antara mata dan makna, cukup kecil untuk membuatnya tetap di sini, tetapi cukup besar untuk membuat semuanya terasa asing.

 Deadline persetujuan profesor untuk draf Chukan Happyou universal ada di depan mata, dan itu bukan lagi tenggat yang bisa ia pandang dari jauh. Hari ini adalah hari penutupannya.

 Naoya sudah membaca catatan profesor sampai ujung-ujung kalimatnya terasa seperti pisau tumpul.

 “Argumen terlalu loncat.” “Hubungan antarbab belum stabil.” “Bacaan sekunder belum dibaca secara penuh.” “Saya tidak bisa memberi persetujuan kalau drafnya masih begini.”

 Kalimat-kalimat itu berputar bersama hujan di luar, bersama suara hujan yang memukul atap gedung, bersama denyut di pelipisnya yang tidak kunjung hilang sejak ia bangun.

 Ia menekan pangkal hidungnya. Tengkuknya berat. Matanya perih.

 Satu jam lalu ia masih mencoba memperbaiki satu paragraf pembuka. Sekarang ia hanya menatapnya, memegang pena, lalu meletakkannya lagi. Ada drafnya sendiri yang menunggu, ada draf Nagisa yang masih ia bantu rapikan, ada pesan-pesan yang belum dibaca, ada rumah yang sudah ia bayangkan sejak siang sebagai tempat yang terlalu sempit untuk pulang.

 Rumah masa kecil itu tidak pernah benar-benar senyap lagi.

 Di sana Nagisa selalu menunggu dengan mata yang ingin dipastikan. Di sana Mio selalu hadir dengan langkah ringan dan perhatian yang begitu rapat sampai kadang terasa seperti tali yang dibelitkan pelan-pelan di pergelangan. Di sana Naoya tidak pernah bisa benar-benar lelah sendirian.

 Ia menatap jam di dinding perpustakaan. Waktu berjalan seperti sengaja mempermalukan.

 Lalu, di antara hujan dan lampu, Naoya membuat keputusan yang sebenarnya sudah memikirkan dirinya selama berjam-jam.

Ia mematikan ponselnya.

 Bukan karena ia ingin menghilang selamanya. Bukan karena ia ingin menyakiti siapa pun. Ia hanya tidak sanggup lagi mendengar apa pun malam itu. Tidak sanggup menerima pertanyaan, pesan, panggilan, atau nada suara yang menunggu jawaban dari dirinya seolah ia masih punya ruang untuk menjawab dengan waras.

 Naoya menutup laptopnya, menaruh kepalanya di atas lengan, dan mencoba menarik napas panjang.

 Kursi pojok perpustakaan itu sempit, sandarannya keras, dan lengan bajunya masih lembap oleh udara hujan yang merembes dari jalan tadi. Tapi rasa lelahnya sudah terlalu besar untuk peduli. Ia hanya butuh tubuhnya berhenti bergerak sebentar.

 Satu menit.

 Mungkin dua.

 Ia tidak tahu kapan matanya jatuh tertutup.

 Di rumah masa kecil itu, jarum jam bergerak menuju pukul dua belas malam dengan suara yang terasa terlalu jelas.

 Nagisa sudah mondar-mandir di ruang tamu selama hampir setengah jam.

 Ia sudah mengganti posisi duduk di sofa berkali-kali, sudah membuka tirai, menutupnya lagi, berjalan ke dapur, kembali ke ruang tamu, lalu memegang ponselnya dengan jari-jari yang mulai dingin. Layar tetap gelap. Tidak ada tanda aktif. Tidak ada balasan. Tidak ada panggilan kembali.

 Di luar, hujan masih turun.

 Di dalam rumah, udara terasa pengap, bukan karena panas, melainkan karena kekosongan yang menebal. Lampu ruang tamu menyorot wajah Nagisa yang pucat. Mata itu tidak lagi sekadar sembab. Ada bagian dari dirinya yang sudah kehilangan bentuk.

 “Mio,” katanya pelan, suara seraknya mengiris ruangan yang kosong. “Naoya masih belum pulang.”

 Mio yang duduk di ujung sofa hanya menatapnya sebentar. Sejak beberapa jam lalu, sang adik itu lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya, tidak ada komentar manja, tidak ada sikap menempel. Ekspresinya datar, tetapi bukan datar yang tenang. Lebih seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak pecah.

 “Dia mungkin masih di kampus,” jawab Mio.

 “Nggak.” Nagisa menggeleng cepat. “Aku udah telepon. Udah chat. Dia nggak aktif.”

 Mio menoleh ke arah ponsel yang ditaruh di meja. “Baterainya habis mungkin.”

Lihat selengkapnya