Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #57

Lubang yang Tak Pernah Penuh

Pagi itu, Naoya pulang ke rumah dengan langkah yang hampir tidak terdengar.

 Kemejanya kusut di beberapa bagian, ujung lengan bajunya masih lembap oleh gerimis semalam, dan mata yang biasanya menahan diri sekarang merah seolah ia tidak tidur sama sekali. Wajahnya pucat. Bukan pucat karena sakit biasa, melainkan karena tubuh yang sudah terlalu lama dipaksa bertahan dalam keadaan yang tidak wajar. Begitu ia membuka pintu genkan dan melangkah masuk, rumah masa kecil itu menyambutnya dengan keheningan yang aneh, seperti benda-benda di sekelilingnya juga sedang menahan napas.

 Tidak ada yang tahu Naoya menghabiskan malam di tempat seperti apa.

 Tidak ada yang tahu ia menekan ponselnya hingga mati, lalu duduk terlalu lama di kursi perpustakaan sampai kakinya kebas dan pikirannya kosong. Tidak ada yang tahu bagaimana ia berjalan tanpa arah sebelum akhirnya memilih menumpang kereta terakhir, lalu berpindah dari satu bangku ke bangku lain seperti orang yang tidak lagi punya alasan untuk menetap di mana pun. Yang tersisa sekarang hanya tubuhnya yang kembali, sementara bagian lain dari dirinya seperti tertinggal entah di sudut mana.

 Di dalam rumah, bau sup miso yang baru dipanaskan masih samar. Ada suara jam dinding yang berjalan pelan. Ada cahaya pagi yang masuk miring lewat sela tirai, namun tidak cukup hangat untuk mengusir rasa dingin yang menempel di kulit Naoya.

 Dan di genkan, Nagisa sudah menunggunya.

 Begitu melihat Naoya, tubuh Nagisa seperti kehilangan semua rem. Ia menerjang begitu cepat sampai hampir terjatuh sendiri di lantai. Lututnya menghantam kayu genkan dengan bunyi tumpul, tangannya meraih kaki Naoya seolah takut lelaki itu akan lenyap lagi kalau dilepaskan sedetik saja.

 “Naoya…!” Suaranya pecah menjadi isak yang tidak tertahan. “Maaf… maaf… maaf aku, aku—”

 Naoya berdiri mematung.

 Nagisa menunduk, bahunya gemetar. Rambutnya berantakan, mata sembab, dan tangannya yang mencengkeram celana Naoya terasa sangat putus asa sampai membuat dada Naoya sesak hanya dengan merasakannya. “Aku nggak akan minta banyak lagi,” katanya cepat, terbata-bata, seolah takut Naoya akan memotongnya sebelum selesai. “Nggak usah semuanya. Nggak usah banyak. Aku cuma… aku cuma nggak mau kamu pergi. Jangan buang aku, ya… tolong…”

 Naoya menatapnya lama.

 Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergerak sangat pelan, seperti retakan pada kaca yang baru terdengar setelah terlalu lama disembunyikan. Selama ini, ia selalu menahan. Menahan jawaban. Menahan kejengkelan. Menahan rasa tidak enak. Menahan tubuhnya yang capek karena ia tahu kalau ia terlalu cepat mengeluh, ia akan menjadi orang jahat. Ia selalu memilih diam, lalu mengalah, lalu memperbaiki suasana, lalu berkata iya, lalu menepuk kepala orang lain, lalu menyelesaikan sesuatu yang bukan miliknya, lalu kembali pulang ke dalam lelahnya sendiri.

 Namun malam sebelumnya, sesuatu di dalam dirinya telah selesai pecah.

 Dan sekarang, melihat Nagisa berlutut di depan pintu sambil memohon seperti itu, sesuatu yang selama ini menutup mulut Naoya justru terasa mulai runtuh total.

 “Naoya…” Nagisa mengangkat wajah. Air matanya mengalir tanpa henti. “Aku akan nurut. Aku nggak akan nuntut banyak. Aku nggak akan marah-marah lagi. Aku nggak akan ganggu kamu terus kalau itu bikin kamu capek. Aku cuma—”

 “Berhenti.”

 Suara Naoya tidak keras.

 Tapi begitu kata itu keluar, Nagisa terdiam.

 Naoya sendiri juga terdiam beberapa detik, seolah ia baru sadar bahwa suara itu berasal darinya. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Jari-jarinya gemetar. Tenggorokannya kering. Saat ia menarik napas, napas itu terasa seperti memaksa serpihan kaca masuk ke paru-paru.

 Nagisa menatapnya dengan wajah kosong yang basah.

 “Naoya…?”

 Lalu, tanpa disangka siapa pun di rumah itu, Naoya mendorongnya.

 Dorongan itu kasar. Bukan dorongan yang terukur, bukan gerakan yang lahir dari seseorang yang masih ingin menjaga perasaan orang lain. Bahunya bergerak keras, tubuh Nagisa terhuyung ke belakang dan jatuh duduk di lantai genkan. Suara terkejutnya hampir tidak sempat keluar.

 Naoya sendiri terhuyung satu langkah, napasnya naik. Wajahnya berubah. Bukan hanya marah. Bukan hanya lelah. Ada sesuatu yang jauh lebih rapuh dari itu, sesuatu yang selama ini ia simpan terlalu dalam sampai akhirnya meledak tanpa bentuk.

 Nagisa menatapnya, terpaku.

 Naoya memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi. Matanya merah, tapi kali ini bukan karena tangis yang diam. Ada air yang mengambang di sana, nyaris jatuh, namun ditahan oleh amarah yang membuat suaranya bergetar saat akhirnya keluar.

Lihat selengkapnya