Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #58

Deadline Yang Terlewat

Pukul lima sore datang tanpa suara, lalu lewat begitu saja.

 Di gedung Fakultas Sastra, lorong lantai dua mulai sepi sejak beberapa menit sebelumnya. Suara langkah mahasiswa yang berlarian ke sana ke mari sudah menipis, digantikan oleh bunyi printer dari balik ruang tata usaha dan dengung pendingin ruangan yang terlalu dingin untuk sore bulan Juli. Di papan pengumuman dekat tangga, selembar kertas A4 yang ditempel menandai batas terakhir pengumpulan dokumen Chukan Happyou resmi. Di bawahnya, huruf-huruf yang dicetak rapi terasa terlalu tenang untuk sesuatu yang baru saja merenggut satu masa depan.

 Naoya berdiri di depan pintu ruang administrasi, tangan kirinya masih membawa map yang tidak sempat ia serahkan. Ujung jari-jarinya dingin. Di layar ponsel yang sudah beberapa kali ia buka tutup, jam berubah menjadi 17.00 tepat.

 Seorang staf tata usaha yang duduk di balik meja kaca mengangkat wajahnya sebentar, lalu menggeleng kecil dengan ekspresi yang sudah jelas tanpa harus bicara. Naoya tahu arti gerakan itu sebelum kalimatnya keluar.

 “Maaf, sudah tutup,” kata perempuan itu dengan suara datar yang sama sekali tidak kejam, tapi juga tidak memberi ruang untuk berharap. “Semuanya yang belum masuk sistem akan dianggap terlambat.”

 Naoya menunduk sedikit. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata yang benar-benar keluar.

 Ada satu bagian kecil di dalam kepalanya yang masih bodoh, masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa kalau ia menjelaskan semuanya, kalau ia berkata bahwa ia sempat terlambat karena draf Nagisa, kalau ia bilang bahwa ia bukan sengaja, kalau ia bilang profesor pembimbingnya berjanji akan melihat ulang, mungkin ada celah. Mungkin ada pintu yang belum benar-benar tertutup.

 Tapi pintu itu sudah tertutup sejak pagi.

 Sejak ia sering bolos kelas zemi. Sejak kelelahan menumpuk tanpa henti. Sejak tangannya terlalu sering menulis hal-hal yang bukan miliknya. Sejak ia terus menunda penelitiannya sendiri sampai halaman-halamannya seperti benda asing yang tidak mau dikenali lagi.

 Ia menyerahkan map itu ke staf tadi, lalu staf itu menaruh cap kecil di sudut formulir penerimaan sambil berkata, “Nama Anda akan tercatat di sistem sebagai tidak memenuhi kewajiban akademis.”

 Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang sangat jauh.

 Namun saat ia menatap cap merah di kertasnya, Naoya merasa seperti sedang melihat darah yang tidak sempat jatuh.

 Ia menunggu beberapa detik lagi, seolah tubuhnya belum paham bahwa semuanya selesai, lalu membungkuk singkat. “Terima kasih.”

 Tidak ada yang menjawab.

 Ia berjalan keluar gedung dengan langkah yang terasa bukan miliknya sendiri.

 Langit Tokyo sore itu mendung, rendah, dan lembap. Awan menggantung begitu dekat hingga rasanya kalau tangan diangkat, ujung jari pun bisa menyentuh air hujan yang belum jatuh. Di halte depan fakultas, mahasiswa yang selesai kelas bercakap-cakap sambil membuka payung. Suara kendaraan di jalan besar terdengar seperti gumaman yang panjang. Naoya berdiri sebentar di bawah atap halte, menatap jalan yang basah tanpa benar-benar melihat.

 Ponselnya bergetar satu kali.

 Pesan dari profesor pembimbing.

 Pesan itu singkat. Tidak keras. Tidak marah. Justru karena terlalu singkat, isinya terasa seperti batu yang dilempar ke dasar sumur.

 Naoya menatap layar. Lalu mematikannya.

Selebihnya, ia berjalan pulang.

Atau setidaknya, kakinya bergerak ke arah yang biasanya ia sebut pulang.

Namun setelah melewati dua persimpangan, Naoya berhenti.

Ia berdiri di bawah lampu jalan yang baru menyala, menatap pantulan dirinya di kaca sebuah toko yang sudah mulai menutup pintu. Wajah itu tampak asing. Rambutnya sedikit berantakan. Kemejanya kusut. Tasnya menggantung miring di satu bahu. Matanya terlihat seperti milik seseorang yang sudah terlalu lama tidak tidur.

Ia memandang bayangan itu beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Hanya karena tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Tokyo.

Kalimat itu tiba-tiba terasa seperti lelucon yang sangat buruk.

Ia pernah mengucapkannya dengan bangga.

Pernah menjadikannya jawaban ketika kerabat bertanya apa yang sedang ia lakukan. Pernah mengatakannya kepada teman-teman SMA dengan nada santai, seolah diterima di universitas itu adalah sesuatu yang sudah sewajarnya terjadi pada dirinya.

Sekarang dua kata itu bahkan terasa terlalu berat untuk diucapkan.

Universitas Tokyo.

Fakultas Sastra.

Program yang ia pilih sendiri.

Jalan yang ia pilih sendiri.

Penelitian yang seharusnya ia selesaikan sendiri.

Dan tetap saja ia gagal.

Tidak ada profesor yang menyeretnya ke sana.

Tidak ada orang yang memaksanya mendaftar.

Tidak ada satu pun tangan yang memaksanya memilih bidang itu.

Ia sendiri yang memilih.

Ia sendiri yang berjanji akan menyelesaikannya.

Dan sekarang bahkan batas paling sederhana pun tidak mampu ia lewati.

Naoya menundukkan kepala.

Mungkin ibunya akan bilang hal yang sama.

Bukankah itu pilihanmu sendiri?

Kalimat itu bahkan belum benar-benar diucapkan, tapi kepalanya sudah bisa mendengarnya.

Lihat selengkapnya