Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #59

Hutan dan Isolasi

Pada akhirnya, Naoya naik kereta tanpa tujuan.

 Ia tidak benar-benar memutuskan ke mana harus pergi. Ia hanya berdiri di peron dengan kepala kosong, membiarkan tubuhnya memilih arah yang bahkan pikirannya sendiri tidak sanggup menyangga. Kota Tokyo masih sibuk di atas sana, di permukaan yang sama sekali tidak peduli pada satu mahasiswa yang baru saja menerima kegagalan akademis paling memalukan dalam hidupnya.

 Hujan yang sejak pagi turun tipis berubah menjadi gerimis rapat, lalu seperti menyerah, meninggalkan udara yang basah dan lengket di kulit.

 Ketika kereta datang, pintunya terbuka dengan bunyi pendek yang nyaris tidak terdengar di tengah suara stasiun.

 Naoya masuk.

 Tidak ada alasan khusus mengapa ia memilih gerbong itu.

 Tidak ada alasan khusus mengapa ia duduk di kursi dekat jendela.

 Ia hanya ingin duduk.

 Suara pengumuman otomatis terdengar beberapa detik kemudian.

 "Terima kasih telah menggunakan layanan kereta kami. Kereta ini akan berhenti di stasiun-stasiun berikutnya sesuai jadwal. Mohon berhati-hati saat kereta bergerak."

 Suara perempuan itu terdengar tenang, jernih, dan terlalu normal.

 Naoya menatap pantulan dirinya yang samar di kaca.

 Wajahnya pucat. Mata merah. Rambut yang mulai berantakan.

 Map dokumen masih tergenggam di pangkuannya, tetapi ia tak membuka isinya lagi.

 Tidak ada gunanya.

 Nama di sistem tata usaha sudah tercatat.

 Kegagalan itu sudah dikunci, dicap, dan dipindahkan ke tempat yang tak bisa ia raih kembali hanya dengan menunduk dan meminta maaf.

 Kereta mulai bergerak.

 Pelan.

 Kemudian semakin cepat.

 Di dalam kepalanya, semua hal terasa hambar.

 Telepon dari Nagisa.

 Pesan dari Mio.

 Peringatan profesor.

 Email akademik yang belum dibaca.

 Kata-kata di ruang administrasi.

 Semuanya menumpuk menjadi sesuatu yang terlalu padat untuk disebut sebuah pikiran.

 Naoya menutup mata.

 Beberapa saat kemudian, suara pengumuman kembali terdengar.

 Kali ini bukan mengenai stasiun.

 "Para penumpang, hari ini adalah Senin, 15 Juli 2024, bertepatan dengan Hari Laut. Bagi Anda yang akan melakukan perjalanan selama hari libur ini, mohon berhati-hati dan menikmati perjalanan Anda."

 Naoya membuka mata.

 Hari Laut.

 15 Juli.

 Ia memandang keluar jendela.

 Hari libur.

 Orang-orang mungkin sedang pergi bersama keluarga.

 Ada yang pergi ke pantai.

 Ada yang membawa anak-anaknya berlibur.

 Ada yang sekadar memanfaatkan satu hari tambahan untuk tidur lebih lama di rumah.

 Hal-hal kecil yang seharusnya biasa.

 Hal-hal yang bagi kebanyakan orang bahkan tidak perlu dipikirkan.

 Pengumuman itu berakhir dengan nada sopan yang sama seperti sebelumnya.

 "Terima kasih atas kerja sama Anda."

 Lalu suara itu menghilang.

 Kereta terus berjalan.

 Naoya kembali menatap kaca.

 Pantulan wajahnya masih ada di sana.

 Namun untuk beberapa detik, ia merasa seperti sedang melihat seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.

 Pemandangan di luar jendela mulai berubah.

 Gedung-gedung tinggi semakin jarang.

 Stasiun-stasiun kecil mulai muncul.

 Kemudian rumah-rumah.

 Kemudian pepohonan.

 Tokyo perlahan tertinggal di belakang tanpa pernah meminta izin kepadanya.

 Naoya tidak memperhatikan kapan perjalanan itu mulai menjadi perjalanan keluar dari kota.

 Ia juga tidak tahu kapan tepatnya ia melewati batas antara tempat yang ia kenal dan tempat yang tidak ia kenal.

 Ia hanya duduk.

 Membiarkan kereta membawanya semakin jauh.

 Sampai akhirnya, sebuah suara dari pengeras suara menyebut nama stasiun penghubung menuju Yamanashi.

 Naoya mengangkat kepala.

 Untuk pertama kalinya sejak naik kereta, matanya benar-benar tertuju pada sesuatu.

 Yamanashi.

 Ia tidak tahu mengapa.

 Tidak ada alasan yang muncul di kepalanya.

 Tidak ada kenangan tertentu yang bisa ia pegang.

 Namun setelah beberapa detik, Naoya berdiri.

 Tangannya masih menggenggam map yang sejak kemarin tidak pernah ia buka.

 Pintu kereta terbuka.

 Ia melangkah keluar.

 Bukan karena tahu harus pergi ke mana.

 Melainkan karena, untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa tidak sanggup terus duduk diam di tempat yang sama.

 Ketika akhirnya ia turun, udara pegunungan menyambutnya dengan dingin yang berbeda. Tidak tajam seperti AC. Tidak lembap seperti hujan Tokyo. Dingin di Yamanashi terasa lapang, membuat dada yang sesak justru makin terasa kosong. Langit mendung menggantung rendah di atas jalan kecil menuju kawasan hutan. Tidak ada banyak orang. Hanya suara serangga, daun yang bergesek, dan sesekali derit papan kayu dari rumah-rumah tua yang berjauhan.

 Naoya berjalan.

 Entah berapa lama. Entah sejak kapan kakinya mulai bergerak. Ia hanya tahu bahwa jalan aspal perlahan berubah menjadi tanah, lalu tanah itu berubah menjadi setapak yang berlapis akar dan daun basah. Pohon-pohon di kiri kanan tumbuh rapat, batangnya tinggi dan gelap, menutup cahaya siang sampai dunia terasa lebih kecil dari biasanya.

 Di sana, di tengah hutan yang semakin sunyi, seseorang memanggil dari belakang.

 “Hei. Kamu.”

 Naoya berhenti. Menoleh perlahan.

 Seorang lelaki paruh baya berdiri beberapa meter di belakangnya. Bahunya lebar, tubuhnya dibalut pakaian kerja yang sederhana, dan di punggungnya ada seikat kayu bakar yang diikat tali. Wajahnya hangat, tapi matanya tidak bodoh; ada kepekaan orang yang sudah sering melihat orang datang dengan kepala yang terlalu penuh akan banyak hal.

 “Kamu tersesat?” tanya lelaki itu.

 Naoya tidak menjawab.

 Lelaki itu menatapnya sebentar, lalu menghela napas kecil, seolah sudah mengerti jawaban yang tak diucapkan. “Kalau begitu, ikut saya sebentar. Pondok saya tidak jauh.”

 Naoya seharusnya menolak. Seharusnya waspada. Seharusnya bertanya kenapa orang asing semudah itu menawarkan tempat berteduh.

 Namun ia hanya mengangguk kecil.

 Pondok itu berdiri di sisi jalan setapak yang lebih sempit, tersembunyi di balik rumpun pohon dan beberapa petak tanah yang ditanami sayuran. Bangunannya sederhana, tidak lebih dari rumah kayu kecil yang terawat. Ada aroma kayu kering dan tanah basah di serambi depan. Lelaki itu menurunkan ikatan kayu dari punggungnya, menaruhnya di samping pintu, lalu mempersilakan Naoya masuk tanpa banyak tanya.

 Di dalam, udara hangat menyentuh kulit.

 Bukan hangat yang mewah. Bukan hangat dari ruang dengan pengaturan suhu sempurna. Ini hangat yang lahir dari tungku kecil, dari ketel yang mendidih pelan, dari rumah yang dipelihara dengan kesabaran. Naoya berdiri di dekat ambang pintu, masih menatap kosong lantai kayu yang mengilap karena sering dipakai.

 “Duduklah,” kata lelaki itu. “Kamu kedinginan.”

 Naoya menurut.

 Lelaki itu mengambil cangkir, menuang teh hangat, lalu meletakkannya di hadapan Naoya. Uap naik perlahan. Aroma daun teh memenuhi ruangan, lembut dan pahit di saat yang sama.

 “Minum dulu,” katanya.

 Naoya menatap cangkir itu lama sekali sebelum akhirnya mengangkatnya. Uap hangat menyentuh wajahnya. Saat tegukan pertama turun ke tenggorokan, tubuhnya terasa sedikit hidup, meski hanya sedikit.

 Lelaki itu duduk di bangku seberang, menyandarkan siku pada lutut. “Kamu bukan orang yang biasa berkeliaran di hutan begini,” ujarnya ringan, bukan untuk mengorek, hanya untuk memastikan Naoya masih bisa mendengar suara manusia.

 Naoya mengangkat wajah sedikit.

 “Kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa,” lanjut lelaki itu. “Tapi jangan duduk sambil menatap kosong begitu. Itu cara tercepat buat jatuh sakit.”

 Naoya menunduk lagi. Cangkir di tangannya hangat.

 Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Teh itu terasa seperti satu-satunya benda di dunia yang masih punya bentuk jelas. Sementara di dalam kepalanya, segala sesuatu yang lain berubah menjadi kabut.

Ia lelah memikirkan apa-apa.

 --o--

Pagi datang perlahan ke rumah masa kecil itu. Cahaya matahari bulan Juli yang masih pucat menyusup melalui celah tirai kamar, jatuh sebagai garis tipis di lantai kayu. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 06.10 ketika Mio membuka mata. 

Selama beberapa detik ia hanya berbaring, masih setengah sadar, memandangi langit-langit sambil menikmati sisa keheningan sebelum rumah benar-benar bangun.

Tangannya bergerak ke sisi ranjang secara refleks.

Lihat selengkapnya