Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #60

Nama yang Asing

Siang di Yamanashi terasa lebih sunyi daripada siang di Tokyo.

 Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang punya lapisan sendiri—desiran daun, bunyi serangga yang tak pernah benar-benar diam, sesekali suara air dari ember yang ditaruh di dekat bangku kayu, dan langkah-langkah kecil yang jatuh ke tanah berpasir di depan pondok. Hutan di sekitar pondok itu tampak seperti sesuatu yang sudah terlalu lama berdiri dan tidak pernah berencana pergi ke mana pun. Pohon-pohon tinggi menutup langit dengan rapi, menyisakan cahaya yang turun seperti serpihan tipis di sela ranting.

 Naoya menatap pemandangan itu sambil memegang gagang cangkul kecil di tangannya.

 Keringat sudah mengumpul di pelipisnya, tapi rasa lelah yang mengendap di tubuhnya sejak meninggalkan Tokyo beberapa hari lalu tidak kunjung berubah bentuk menjadi apa pun yang bisa ia kenali. Lelah biasanya punya ujung. Lelah seharusnya membuat seseorang ingin tidur, ingin makan, ingin menyerah sebentar lalu bangkit lagi.

 Tapi yang ia rasakan sekarang cuma ruang kosong yang sedikit lebih berat dari udara.

 Di belakangnya, suara lelaki paruh baya itu terdengar tenang. “Kalau tanahnya dibalik sedikit lebih dalam di sisi sana, akar rumputnya nanti tidak cepat tumbuh lagi.”

 Naoya menoleh seperlunya. Lelaki itu—Takashi, seperti yang akhirnya ia ketahui sejak kemarin—berjongkok di dekat tumpukan kayu bakar sambil mengikat potongan-potongan kecil dengan tali tambang. Wajahnya sederhana, garisnya tidak tajam, dan ada cara bicara yang membuat segalanya terdengar seperti nasihat biasa dari orang yang sudah lama hidup tanpa merasa perlu menyombongkan apa pun.

 Naoya mengangguk dan kembali menggali. Gerakannya tidak sepenuhnya fokus, tapi cukup. Cukup untuk menutup kesunyian dengan kerja.

 Kemarin sore, setelah teh hangat dan beberapa pertanyaan sopan yang tak menuntut apa-apa, Naoya tidak langsung pulang. Ia malah menerima ajakan Takashi untuk membantu sedikit di pondok itu—memindahkan kayu, membersihkan pelataran, memperbaiki pagar kecil yang miring. Awalnya ia hanya berniat menolak halus, lalu menolak sedikit lebih tegas, tapi tubuhnya ternyata jauh lebih jujur daripada pikirannya. Begitu tangannya menyentuh benda-benda itu, begitu ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan urutan sederhana, kepalanya terasa tidak sesesak sebelumnya.

 Takashi tidak banyak bicara. Itu juga membantu.

 Dan pagi ini, ketika Naoya bangun di lantai tatami ruang belakang pondok dengan punggung yang masih pegal, ia sempat berpikir bahwa semua ini mungkin cuma mimpi yang kebetulan punya aroma teh panas. Tapi Takashi nyata. Kayu bakar nyata. Lembah di kejauhan nyata. Dan dunia yang ditinggalkan Naoya di Tokyo—rumah yang terlalu sempit, suara-suara yang terlalu menempel, tatapan-tatapan yang terlalu bergantung—tetap ada jauh di sana, menunggu sesuatu yang tidak ia tahu cara menghadapinya.

 “Sudah hampir selesai,” kata Takashi setelah beberapa saat. Ia berdiri, menepuk tanah di celananya, lalu menatap hasil kerja Naoya. “Kamu rapi juga kalau lagi serius.”

 Naoya tidak tahu harus menjawab apa selain, “Terima kasih.”

 Takashi terkekeh kecil. “Kalau di kota orang-orang suka bilang terima kasih tanpa sungguh-sungguh. Kamu beda.”

 Naoya menunduk, sedikit malu entah karena apa. Ia tidak terbiasa dipuji untuk hal yang sesederhana ini.

 Mungkin itu sebabnya pujian itu terasa lebih asing daripada senang.

 Takashi mempersilakan ia duduk di bangku kayu di bawah atap kecil di sisi pondok. Dari situ, Naoya bisa melihat halaman sempit, sumur tua, dan beberapa pot tanaman yang tampaknya ditanam tanpa rencana besar. Ada satu tanaman daun lebar yang tidak ia kenali, dan satu lagi yang daunnya dibiarkan menggantung ke arah tanah seperti menyerah pada cuaca.

 Takashi menuangkan air ke gelas kaca, lalu meletakkannya di depan Naoya. “Minum dulu.”

 Naoya menurut.

 Airnya dingin. Rasa dingin yang murni, sederhana, tidak punya agenda tersembunyi. Ia meneguk perlahan, lalu menatap Takashi yang kembali duduk tak jauh darinya, memegang secangkir teh yang uapnya mulai menipis. Ada jeda yang tidak canggung. Jeda yang terasa seperti ruang bagi sesuatu yang belum dibicarakan.

 Naoya menatap tangannya sendiri. Tangan itu masih ada. Masih bergerak. Masih memegang gelas. Masih mampu membantu orang lain yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. Hal-hal semacam itu terasa terlalu kecil untuk menjadi alasan bertahan hidup, tapi di hari-hari tertentu, yang kecil justru satu-satunya alasan yang tersisa.

 Takashi memecah sunyi lebih dulu.

 “Anak perempuanku dulu suka bilang aku terlalu banyak diam kalau sedang mengerjakan sesuatu.” Senyumnya tipis, tidak dibuat-buat. “Dia umur enam belas sekarang. Nino.”

 Naoya mengangkat pandangan. Nama itu terucap begitu biasa, hampir ringan, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat ruangan di kepalanya ikut mengencang.

 Takashi melihat reaksi kecil itu, lalu melanjutkan tanpa tergesa. “Sudah empat bulan dia hilang. Entah ke mana.”

 Naoya diam.

 Takashi tidak menunjukkan ekspresi tragis yang teatrikal. Tidak ada suara pecah. Tidak ada teater kesedihan. Hanya kalimat yang dikeluarkan dengan hati-hati, seperti seseorang yang sudah mengulangnya terlalu sering dalam kepala sampai akhirnya hafal bentuk sakitnya.

 “Empat bulan,” ulang Takashi, menatap tanah di depan teras. “Polisi bilang mungkin dia kabur karena stres. Karena umur segitu katanya gampang memberontak. Mereka bilang aku harus menunggu. Mereka bilang mungkin dia hanya perlu waktu. Padahal dia hilang tepat setelah pulang dari sekolah.” Ia tertawa pendek, tapi tawanya tidak punya humor. “Dia habis dikeroyok sekelompok anak perempuan yang suka ngerjain orang lain. Waktu itu dia cuma menolong temannya yang sedang dipukul.”

 Naoya mengembuskan napas pelan.

 Entah kenapa, kisah itu terasa dekat.

 

Bukan karena ia mengenal Nino. Bukan karena ia pernah melihat wajahnya. Ia bahkan tidak ingat pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi ada bagian-bagian dari cerita itu yang menonjol seperti serpihan kaca di tanah: menolong teman, menjadi sasaran, tidak pulang, lalu dianggap hanya kabur karena stres. Dunia memang punya cara yang sangat malas dalam membaca orang yang hilang.

 “Maaf,” kata Naoya pelan, dan kali ini ia benar-benar bersungguh-sungguh.

 Takashi meliriknya singkat. “Kamu tidak perlu minta maaf.”

 “Kalau begitu… saya turut prihatin.”

 “Itu cukup.” Takashi menyesap tehnya, lalu menatap jauh ke belakang pondok, ke arah pepohonan yang lebih rapat. “Aku cuma tidak suka kalau orang-orang langsung memutuskan anakku tidak apa-apa, tanpa mencarinya sungguh-sungguh.”

 Naoya mengangguk. Ia tidak tahu apa yang tepat untuk dikatakan. Situasi seperti ini selalu membuatnya ingin menjadi lebih banyak hal sekaligus: pendengar yang baik, penghibur yang bijak, orang yang tahu kalimat paling pas. Tapi di hadapan kesedihan yang benar-benar nyata, semua ambisinya terasa seperti pakaian yang terlalu besar.

 Takashi menambahkan, “Mereka juga bilang kalau Nino perempuan yang stres karena aku terlalu keras. Padahal aku bahkan tidak pernah bisa jadi keras.” Ada senyum kecil di ujung bibirnya, namun kali ini lebih getir. “Aku cuma tipe orang yang kalau lihat seseorang kesulitan, refleksnya pengin bantu.”

 Naoya menatapnya lagi.

 Kalimat itu… anehnya terasa familiar.

 Bukan karena isi persisnya. Melainkan karena nada di baliknya. Ada jenis kelembutan tertentu yang sering membuat hidup seseorang jadi kacau tanpa pernah bermaksud menyakiti siapa pun. Kelembutan yang membuat seseorang memberi terlalu banyak, lalu mendapati dunia tidak pernah berniat membalas dengan cara yang sama.

 Takashi menggaruk tengkuknya. “Aku tahu kedengarannya bodoh. Orang dewasa seharusnya bisa lebih hitung-hitungan. Tapi aku memang tidak pandai soal itu.”

 “Tidak semua orang harus pandai dalam hal yang sama,” ujar Naoya setelah beberapa detik.

 Takashi tertawa kecil, kali ini lebih hangat. “Kalau istri saya yang dengar, dia pasti bilang itu alasan yang terlalu manis.”

 Naoya tidak langsung bereaksi. “Istri?”

 

Takashi mengangguk. “Mantan istri.”

 Kalimat itu tidak datang dengan nada marah. Tidak dengan nada meratap. Bahkan hampir tidak ada tekanan di sana. Hanya fakta, dibawa dengan ketenangan orang yang sudah lama berdamai—atau berusaha berdamai—dengan bagian hidupnya yang paling rumit.

 Naoya menatap Takashi lebih lama daripada yang ia maksudkan. Di wajah lelaki itu, ada sesuatu yang ia tidak tahu cara menyebutnya. Mungkin kelelahan. Mungkin penerimaan. Mungkin semacam kesedihan yang sudah terlalu lama hidup bersama tubuhnya sampai bentuknya menjadi biasa.

Lihat selengkapnya