Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #61

Maafkan Aku, Onii-chan

Rumah itu terlalu sunyi.

 Mio baru menyadarinya setelah pintu depan tertutup dan suara langkah Nagisa benar-benar menghilang dari halaman.

 Beberapa detik sebelumnya, rumah itu masih dipenuhi suara.

 Suara Nagisa yang panik. Suara dirinya sendiri yang pecah oleh amarah. Suara pintu kamar yang dibuka terlalu keras. Suara langkah kaki yang terburu-buru menuruni tangga.

 Sekarang tidak ada apa-apa.

 Hanya dengung kulkas dari dapur.

 Hanya bunyi jam dinding yang bergerak satu detik demi satu detik.

 Tik.

 Tik.

 Tik.

 Mio berdiri di tengah ruang keluarga tanpa bergerak.

 Tangannya masih mengepal.

 Kukunya menekan telapak tangan sampai terasa sakit.

 Bagus.

 Setidaknya rasa sakit itu nyata.

 Ia baru saja mengusir Nagisa.

 Ia baru saja mengatakan semua hal yang selama beberapa minggu terakhir berputar-putar di kepalanya.

 Bahwa Nagisa terlalu menempel pada Onii-chan.

 Bahwa Nagisa sudah mengambil terlalu banyak waktu Onii-chan.

 Bahwa Nagisa membuat Onii-chan kelelahan.

 Bahwa kalau saja Nagisa tidak pernah datang ke kehidupan mereka, semuanya akan baik-baik saja.

 Bahwa Onii-chan seharusnya tidak perlu memikirkan orang lain sebanyak itu.

 Bahwa...

 Mio menelan ludah.

 Dadanya terasa sesak.

 Ia menatap sofa tempat Naoya biasanya duduk setelah pulang kuliah.

 Kosong.

 Bantal di sana masih sedikit miring.

 Selimut tipis yang biasanya digunakan Naoya ketika membaca masih terlipat di ujung sandaran.

 Tidak ada tubuh yang duduk di sana.

 Tidak ada suara halaman buku dibalik.

 Tidak ada suara, "Mio, jangan terlalu dekat, aku sedang baca."

 Tidak ada suara tawa kecil setelah Mio pura-pura tersinggung.

 Tidak ada suara sandal yang diseret dari dapur.

 Tidak ada Onii-chan.

 Mio perlahan duduk di lantai.

 Bukan di sofa.

 Entah kenapa ia tidak sanggup duduk di tempat yang biasanya ditempati Naoya.

 Kedua lututnya ditarik ke dada.

 Ia memeluknya erat.

 "......"

 Tidak ada air mata.

 Padahal tadi ia menangis.

 Sangat keras.

 Sampai tenggorokannya sakit.

 Sekarang matanya terasa kering.

 Mio menatap telapak tangannya sendiri.

 Tangan yang sama yang beberapa hari lalu menyiapkan sarapan untuk Naoya.

 Tangan yang sama yang menarik lengan Naoya ketika laki-laki itu hendak pergi terlalu lama.

 Tangan yang sama yang memeluk pinggangnya dari belakang ketika Naoya sedang memasak.

 Tangan yang sama yang pernah menggenggam jari Naoya erat-erat ketika mereka berjalan pulang bersama.

 Dulu, semua itu terasa benar.

 Sangat benar.

Ia adalah adiknya.

 Naoya adalah kakaknya.

 Ia hanya ingin kakaknya tetap hidup.

 Sesederhana itu.

 Setidaknya, ia selalu mengatakan itu pada dirinya sendiri.

 Mio menundukkan kepala.

 "Kenapa..."

 Suara itu nyaris tidak terdengar.

 "Kenapa Onii-chan belum pulang?"

 Tidak ada jawaban.

 Jam dinding terus berjalan.

 Tik.

 Tik.

 Tik.

 Mio mengangkat wajahnya.

 Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia membiarkan pikirannya tidak melakukan apa-apa.

 Tidak mencari alasan.

 Tidak mencari siapa yang salah.

 Tidak memikirkan bagaimana cara membuat Naoya kembali tersenyum.

 Tidak memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

 Ia hanya diam.

 Dan ketika semua suara yang selama ini ia gunakan untuk menutupi ketakutannya perlahan menghilang, sesuatu yang lebih kecil mulai terdengar dari dalam dirinya sendiri.

 Sebuah pertanyaan.

 Kenapa Onii-chan pergi?

 Mio menggigit bibir bawah.

 "Karena Nagisa?"

 Ia mengatakannya pelan, seolah rumah itu mungkin akan menjawab.

 "Karena dia terlalu bergantung pada Onii-chan?"

 Mio menunggu.

 Tidak ada jawaban.

 Ia mengingat wajah Naoya beberapa hari terakhir.

 Mata yang semakin sering terlihat lelah.

 Senyum yang tetap diberikan meskipun sudut bibirnya tidak lagi naik setinggi biasanya.

 Suara yang semakin pelan setiap kali ia menjawab.

 "Iya."

 "Tidak apa-apa."

 "Aku bisa."

 "Jangan khawatir."

 Mio memejamkan mata.

 Dadanya mendadak sakit.

 Ia pernah sangat menyukai kata-kata itu.

 Karena selama Naoya menjawab demikian, berarti semuanya aman.

 Berarti Onii-chan tidak marah.

 Berarti Onii-chan tidak akan pergi.

 Berarti Mio masih boleh berada di sampingnya.

 Tetapi sekarang...

 Sekarang kata-kata itu terdengar berbeda.

 Mio membuka mata.

 "Aku bisa."

 Berapa kali?

 "Nggak apa-apa."

 Berapa kali?

 "Iya."

Lihat selengkapnya