Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #62

Kepulangan dan Janji Baru

Pagi itu, udara Tokyo masih lembap setelah semalam hujan tipis turun tanpa benar-benar berhenti. Di rumah masa kecil yang dulu terasa terlalu sempit, terlalu ramai oleh suara hati yang saling bertabrakan, kesunyian pagi justru terdengar lebih jelas dari biasanya.

 Pintu genkan terbuka perlahan.

 Naoya berdiri di ambang dengan pakaian yang masih kusut, rambut yang belum sempat dirapikan, dan wajah yang tampak seperti baru saja menempuh perjalanan jauh bukan hanya dari Yamanashi, melainkan dari satu titik di dalam dirinya sendiri yang hampir roboh. Matanya memang lelah, tapi ada kejernihan yang aneh di sana—bukan lega sepenuhnya, bukan juga damai. Lebih seperti seseorang yang baru saja memutuskan bahwa kalau dunia ingin menjatuhkannya lagi, ia setidaknya sudah tahu arah jatuhnya.

 Ia menatap lorong rumah itu sebentar, lalu menutup pintu di belakangnya dengan pelan.

 Bau kayu lama, detergen, dan sup miso yang tersisa dari malam sebelumnya menyambutnya seperti sesuatu yang tidak berubah walaupun ia sempat hilang selama beberapa hari. Naoya melepas sepatu dengan gerakan lambat. Punggungnya masih pegal, tapi yang lebih terasa justru sesuatu di dadanya—sesak yang tidak lagi sekuat saat ia pergi, namun belum juga hilang.

 Dari arah ruang tamu, terdengar langkah kecil.

 Mio muncul di ujung lorong.

 Ia tidak berlari. Tidak melompat ke arahnya seperti biasanya. Tidak memanggil “Onii-chan” dengan suara manja yang bisa mengisi ruangan sekaligus membuatnya tidak punya ruang bernapas. Mio berdiri diam beberapa detik, lalu menunduk sangat ringan. Matanya merah, tapi air matanya sudah kering. Pipinya tampak pucat karena kurang tidur, dan ada kelelahan yang tidak dibuat-buat di wajah itu—kelelahan yang hanya muncul kalau seseorang terlalu lama menahan rasa takut.

 Mio berjalan mendekat lalu berlutut di lantai genkan sebelum Naoya sempat bicara.

 “Onii-chan…” Suaranya serak. Sangat pelan. “Selamat pulang.”

 Naoya tertegun.

 Mio mengangkat kedua tangan Naoya dengan hati-hati, seakan-akan memegang sesuatu yang rapuh dan baru kembali dari pecahan. Tidak ada remasan dramatis, tidak ada tarikan panik. Hanya genggaman yang sungguh-sungguh lembut.

 “Maaf,” katanya, lalu menunduk lebih dalam. “Aku… aku benar-benar takut.”

 Naoya diam beberapa saat. Lalu, dengan napas yang pendek, ia menunduk sedikit pada adiknya—gerakan kecil yang hampir terasa canggung karena ia sendiri belum terbiasa melihat Mio tidak menjadikan dirinya pusat gravitasi ruangan.

 “Aku pulang,” ucapnya akhirnya.

 Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk orang yang menghilang beberapa hari dan membuat rumah ini penuh kekhawatiran. Tapi Mio menutup mata sebentar seolah kalimat itu sudah cukup untuk membuat tubuhnya kembali bisa berdiri.

 “Masuk dulu,” kata Mio, buru-buru mengusap wajahnya dengan punggung tangan. “Aku sudah bikin makanan.”

 Naoya mengangguk.

 Mio bangkit, tapi tidak langsung menempel atau menarik lengannya seperti sebelumnya. Ia justru berjalan di depan, memberi ruang bagi Naoya untuk masuk lebih dulu ke dalam rumah. Perubahan kecil itu hampir lebih mengejutkan daripada tangisan apa pun.

 Di ruang makan, piring-piring sudah disiapkan rapi. Ada sup yang masih hangat, telur dadar gulung, nasi putih yang baru matang, dan beberapa lauk sederhana. Uapnya naik tipis, memberi warna pada udara yang masih dingin.

 Naoya duduk pelan di meja.

 Mio berdiri sebentar di sisi dapur, lalu memandangnya seperti sedang memastikan bahwa tubuh yang kini ada di depan matanya benar-benar tubuh yang sama. Setelah itu ia mendekat dan menaruh mangkuk sup di depan Naoya.

“Aku nggak tahu harus masak apa yang enak,” katanya pelan. “Jadi aku bikin yang biasa Kakak makan aja.”

 Naoya menatap mangkuk itu, lalu mengulurkan sendok.

 Rasanya hangat. Tidak luar biasa. Tidak mewah. Tapi hangat yang seperti memegang leher dari dalam, pelan-pelan, tanpa memaksa.

 Mio duduk di seberangnya dan menunggu tanpa banyak bicara. Tidak ada pertanyaan seperti kenapa Naoya pergi, ke mana ia tidur, apakah ia marah, apakah ia ingin dijelaskan lebih dulu. Yang ada hanya tatapan hati-hati, seperti orang yang baru belajar bahwa menuntut jawaban bukan selalu cara terbaik untuk mencegah kehilangan.

 Mereka makan beberapa menit dalam diam.

 Lalu Mio yang dulu pasti akan menyela dengan cemberut atau suara manja, kini justru meletakkan sendoknya lebih dulu dan menangkup kedua tangannya di atas meja.

 “Untuk Nagisa…” Ia menelan ludah, lalu menatap Naoya dengan benar. “Aku minta maaf.”

 Naoya berhenti makan.

 Mio menghela napas panjang. “Aku bilang hal yang nggak seharusnya aku bilang. Aku terlalu takut kalau Kakak pergi terus.” Ia menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu lanjut dengan suara yang makin kecil. “Aku kira kalau aku makin keras, Kakak bakal tetap di sini. Ternyata malah sebaliknya.”

 Naoya tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap adiknya, memeriksa wajah itu seolah ada bagian baru yang perlu dipelajari ulang.

 Mio melanjutkan, “Nagisa juga… aku nggak membelanya. Aku tahu dia salah. Tapi aku juga nggak seharusnya mendorong semuanya sampai seburuk itu. Aku pikir aku sedang menjaga Kakak, padahal aku cuma terus menggenggam terlalu erat.”

 Kata-kata itu jatuh di meja seperti sesuatu yang akhirnya mengakui beratnya sendiri.

 Naoya menunduk lagi ke mangkuk supnya. Dadanya terasa seperti disentuh sesuatu yang dingin dari dalam. Untuk beberapa saat, ia tidak sanggup membedakan mana yang lebih membuatnya lelah: penyesalan Mio yang tulus, atau kenyataan bahwa adiknya yang paling keras menempel padanya itu kini sedang belajar mundur selangkah.

 Mio memindahkan duduknya, kali ini ke sisi kanan Naoya. Bukan menyeberang di depannya. Bukan menantang ruangnya. Hanya duduk di samping, sangat dekat tapi tidak memaksa.

 Setelah beberapa detik yang terasa seperti menahan napas, Mio berbicara lagi, kali ini sangat pelan.

Lihat selengkapnya