20 Juli.
Tokyo sedang memasuki hari-hari terakhir sebelum libur musim panas resmi dimulai.
Di kampus, suasana sudah sedikit berbeda. Beberapa gedung mulai terasa lebih sepi dibanding minggu-minggu sebelumnya. Papan pengumuman penuh dengan jadwal ujian akhir, pengumuman konsultasi terakhir sebelum libur, dan berbagai kegiatan mahasiswa yang biasanya memenuhi kalender akademik pada penghujung semester.
Namun, di kawasan pusat bisnis Tokyo, tidak ada yang namanya suasana menjelang liburan.
Gedung K-Tech Inc. tetap berdiri seperti biasa, menjulang di antara bangunan-bangunan korporasi lain dengan kaca yang memantulkan langit musim panas.
Di lantai teratas, kehidupan berjalan menurut ritmenya sendiri.
Suara langkah sepatu formal terdengar menyusuri koridor panjang yang dilapisi karpet.
Sekretaris pribadi Ayase Tsuchiya berjalan dengan map tipis di tangan. Wajahnya tenang, langkahnya terukur. Ia berhenti di depan pintu kayu besar dengan panel kaca di satu sisinya.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Suara Ayase terdengar dari dalam.
Sekretaris itu membuka pintu.
Ruang kerja pribadi Ayase jauh lebih tenang daripada ruang rapat perusahaan. Jendela lebar di belakang meja memperlihatkan sebagian besar cakrawala Tokyo, sementara cahaya pagi menyusup masuk melalui tirai tipis. Di atas meja terdapat beberapa berkas yang sudah ditata berdasarkan prioritas. Sebuah laptop terbuka di sisi kiri, dan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap diletakkan di sebelah kanan.
Ayase sedang membaca laporan pemasaran ketika sekretarisnya mendekat.
"Tsukimori-san baru saja mengirimkan revisi proyeksi kuartal ketiga."
"Lalu?"
"Ada satu surat yang baru diterima melalui pos kilat khusus."
Ayase mengangkat pandangan.
"Surat?"
"Ya. Dari Universitas Tokyo."
Sekretaris itu meletakkannya di atas meja.
Amplop putih tebal.
Ada cap resmi.
Dan nama penerima ditulis dengan jelas.
Tsuchiya Ayase-sama.
Keterangan di bawahnya bahkan lebih jelas.
Surat tersebut ditujukan kepada wali mahasiswa.
"Untuk Naoya," kata Ayase pelan.
"Ya, benar."
Sekretaris itu menundukkan kepala.
"Kalau begitu, saya kembali bekerja."
"Terima kasih."
Pintu tertutup.
Ayase kembali melihat amplop itu.
Aneh.
Ia tidak langsung membukanya.
Entah kenapa, ada sesuatu dalam keberadaan amplop itu yang membuat dadanya sedikit tidak nyaman.
Naoya tidak pernah menjadi anak yang memberi kejutan semacam ini.
Sejak kecil, Naoya selalu mudah diarahkan.
Kalau ia mengatakan belajar, Naoya belajar.
Kalau ia mengatakan pulang sebelum malam, Naoya pulang.
Kalau ia meminta sesuatu diperbaiki, Naoya akan menjawab iya tanpa mempertanyakan alasannya.
Bahkan ketika sudah menjadi mahasiswa Universitas Tokyo, pola itu tidak benar-benar berubah.
Naoya tidak pernah menjadi anak yang merepotkan.
Tidak pernah terlibat masalah.
Terlepas Fakultas Sastra adalah pilihan Naoya seorang.
Tidak pernah membuatnya menerima telepon dari sekolah atau universitas karena masalah perilaku.
Karena itulah surat seperti ini terasa asing.
Ayase mengambil pisau pembuka surat.
Gerakannya tetap tenang.
Ia membelah bagian atas amplop dengan satu gerakan rapi.
Kertas di dalamnya ditarik keluar.
Matanya membaca kalimat pertama.
Lalu kalimat kedua.
Kemudian berhenti.
Untuk pertama kalinya pagi itu, jemarinya menegang.
Tulisan tebal di bagian atas halaman seperti menusuk langsung ke matanya.
留年警告書
Ryunen Keikoku-sho.
Surat Peringatan Tinggal Kelas.
Di bawahnya:
Tsuchiya Naoya.
Ayase tidak berkedip.
Matanya bergerak perlahan mengikuti seluruh isi surat.
Kewajiban akademik yang tidak terpenuhi.
Dokumen Chukan Happyou yang tidak tersubmit sesuai jadwal.
Persetujuan profesor pembimbing yang tidak diperoleh.
Kemungkinan memperpanjang masa studi.
Kemungkinan status akademik Naoya terpengaruh apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani.
Ayase selesai membaca.
Ia menaruh surat itu kembali ke meja.
Kemudian mengangkatnya lagi.
Membaca sekali lagi.
Bukan karena tidak mengerti.
Melainkan karena tidak percaya.
"Naoya..."
Nada suaranya sangat pelan.
Tidak ada amarah di dalamnya.
Belum.
Yang ada hanya ketidakpercayaan.
Ia menekan tombol telepon internal.
"Hubungi Naoya."
"Untuk kapan, Ayase-san?"
"Sesegera mungkin."
Ayase berhenti sebentar.
"Lupakan sesegera mungkin. Minta dia datang pagi ini."
"Baik."
Sambungan diputus.
Ayase memandangi surat itu sekali lagi.
Satu pertanyaan yang sama terus berputar di dalam kepalanya.
Bagaimana?
Bagaimana seorang anak yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah membuat kesalahan akademik bisa sampai pada titik seperti ini?
Dan mengapa ia merasa bahwa surat ini hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar?
--o--
Naoya tiba di K-Tech beberapa jam kemudian.
Ia tidak sendirian.
Saat pintu ruang kerja Ayase dibuka, yang pertama masuk adalah Naoya.
Di belakangnya berdiri Nagisa.
Ayase langsung mengangkat pandangan.
Naoya memakai pakaian sederhana. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari penampilannya.
Namun wajahnya berbeda.
Bukan lebih keras.
Bukan lebih dingin.
Hanya... lebih tenang.
Nagisa berdiri di sisinya.
Ayase mengenal perempuan itu.
Bukan sekadar karena wajahnya sering muncul dalam acara perusahaan atau lingkaran sosial korporat.
Nagisa Kobayashi.
Putri tunggal Akihiko Kobayashi.
Salah satu figur paling berpengaruh di K-Tech.
Dan tiba-tiba, keberadaan gadis itu di sini membuat isi surat di atas meja terasa jauh lebih berat.
Naoya berhenti beberapa langkah dari meja.
Nagisa berhenti di sampingnya.
Keduanya menundukkan kepala hampir bersamaan.
"Pagi, Ibu."
"Pagi, Naoya."
Ayase menatap mereka beberapa detik.
"Duduk."
Keduanya duduk.
Ayase menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Surat itu ia dorong sedikit ke depan.
"Naoya."
"Ya."