Ruang pribadi Akihiko Kobayashi selalu tampak terlalu rapi untuk orang yang hidupnya bergantung pada permainan kotor.
Dinding kaca buram, meja kerja gelap yang mengilap, lampu gantung minimalis yang memancarkan cahaya putih dingin, dan deretan folder tipis yang tersusun pada sudut meja seperti semua masalah di dunia masih bisa dikelompokkan jika diberi label yang tepat. Di luar jendela tinggi, langit Tokyo siang itu mendung tipis, tapi bahkan awan pun seolah menahan diri untuk tidak terlalu dekat ke gedung ini.
Akihiko duduk tanpa membuang waktu.
Di hadapannya, satu laporan internal terbuka setengah, satu pena mahal tergeletak diagonal di atas kertas, dan di ujung meja ada cangkir kopi yang sudah mendingin. Ia tidak mengangkat kepala ketika pintu diketuk, hanya memberi isyarat singkat dengan jari.
“Masuk.”
Haruto Asano datang lebih dulu.
Di belakangnya, Hikaru melangkah dengan wajah yang cukup tenang untuk seseorang yang baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya membuatnya malu. Kemeja putihnya masih rapi, rambutnya disisir ke belakang seperti biasa, dan salah satu tangan berada di saku celana dengan gaya yang terlalu santai. Haruto, seperti biasa, tersenyum sopan. Senyum seorang pria yang mengerti kapan harus terlihat tunduk dan kapan harus terlihat punya daya tawar.
Mereka berdua membungkuk.
Akihiko baru mengangkat kepala setelah suara pintu tertutup di belakang mereka.
“Silakan duduk.”
Haruto duduk dengan perlahan, memilih kursi di sisi kanan. Hikaru menyusul, tapi sebelum benar-benar menyandarkan punggung, ia sengaja memiringkan dagunya sedikit, memperlihatkan sisi lehernya.
Akihiko menangkapnya dalam satu tatapan.
Ada garis-garis memerah di sana. Guratan yang sudah mulai menguning di tepi. Di lengan bawahnya, bekas memar samar terlihat saat ujung lengan kemejanya bergeser.
Akihiko tidak bertanya langsung. Ia hanya mengamati.
Hikaru, yang sejak kecil terbiasa hidup dari perhatian orang lain, tahu persis kapan ia berhasil membuat ruang menjadi miliknya. Ia menyandarkan tubuh lebih santai, lalu berkata dengan nada yang diatur agar terdengar jujur.
“Maaf mengganggu waktu Anda, Kobayashi-san. Saya kira, hal seperti ini perlu disampaikan langsung.”
Akihiko menatapnya. “Teruskan.”
Hikaru menghela napas kecil, seolah ia datang bukan untuk urusan bisnis melainkan untuk memikul ketidakadilan hidup. “Tentang Nagisa.”
Nama putri tunggalnya itu jatuh ke ruangan seperti benda kecil yang sengaja diletakkan di atas meja. Tidak keras, tapi cukup untuk menimbulkan bunyi.
Haruto memandang putranya sekilas, lalu kembali menatap Akihiko. Ia tidak mengatakan apa-apa. Rupanya ia sudah membiarkan Hikaru memimpin sejak awal.
Hikaru menyentuh lehernya, jari-jarinya berhenti pada salah satu bekas luka. “Saya tidak berniat memperbesar-besarkan masalah. Tapi putri Anda… bertindak jauh di luar batas. Ia menyerang saya secara impulsif di mansion. Saya hanya mencoba menenangkannya, lalu tiba-tiba—”
Ia berhenti, menurunkan pandangan, seperti sedang menahan amarah terhadap sesuatu yang sebenarnya tak pantas diberi amarah.
Akihiko bersandar sedikit. “Dan bekas luka di lehermu?”
“Cedera kecil saat saya berusaha menghindari tangannya,” jawab Hikaru cepat. Terlalu cepat. “Nagisa kehilangan kontrol, lalu menuduh saya yang tidak-tidak. Anda tahu sendiri, orang yang emosional biasanya mengarang narasi paling nyaman untuk membela dirinya.”
Akihiko tidak serta-merta membela putrinya.