Malam itu, setelah Naoya dan Nagisa sudah meninggalkan gedung K-Tech, Ayase Tsuchiya masih duduk sendirian di ruang kerjanya.
Lampu kota Tokyo menyala jauh di bawah sana.
Satu per satu jendela gedung di seberang mulai berubah gelap, tetapi lantai paling atas K-Tech masih terang seperti biasa. Di atas meja, beberapa berkas belum disentuh. Laptopnya masih terbuka pada laporan pemasaran yang harusnya sudah ia telaah sejak setengah jam lalu.
Namun pikirannya tidak berada di sana.
Ia masih memikirkan sepasang tangan yang tadi bertaut di hadapannya.
Tangan Naoya.
Dan tangan Nagisa.
Tidak ada keraguan di sana.
Yang lebih mengganggunya adalah cara Naoya menggenggam tangan perempuan itu.
Bukan seperti seorang anak laki-laki yang sedang mencari perlindungan.
Bukan pula seperti seseorang yang takut kehilangan pacarnya.
Genggaman itu tenang.
Konstan.
Seolah-olah Naoya sedang berkata tanpa kata-kata bahwa apa pun yang akan terjadi setelah ini, ia sendiri yang akan berdiri di sisinya.
Ayase menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Sejak kapan kamu belajar menatap seperti itu?"
Pertanyaan tersebut ditujukan pada ruangan yang kosong.
Ia tidak mendapatkan jawaban.
Ayase meraih cangkir kopi.
Sudah dingin.
Ia tidak meminumnya.
Tatapannya jatuh pada nama yang tertulis di salah satu lembar rapat di mejanya.
Kobayashi Akihiko.
Nama itu sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.
CEO.
Rekan bisnis.
Atasan.
Sekaligus seseorang yang sejak dulu membuat Ayase selalu menjaga jarak.
Akihiko terlalu pandai.
Terlalu pandai membaca orang.
Ia tidak pernah melihat manusia sebagai manusia sepenuhnya.
Yang ia lihat hanyalah aset, posisi, pengaruh, kegunaan.
Ayase tahu itu.
Banyak orang di lingkaran korporat tahu.
Namun selama bertahun-tahun, selama urusan bisnis mereka masih berada dalam batas yang bisa ditoleransi, Ayase memilih tidak ikut campur.
Sampai sekarang.
Karena nama Nagisa Kobayashi tiba-tiba bersinggungan dengan anaknya.
Ayase membuka ponselnya.
Ia tidak berniat mencampuri urusan pribadi Naoya.
Setidaknya, itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.
Ia hanya ingin tahu satu hal.
Mengapa putri Akihiko Kobayashi bisa sampai berada dalam orbit kehidupan Naoya?
Hanya itu.
Ayase membuka satu kontak.
"Shibata-san."
Suara laki-laki di ujung sambungan terdengar hati-hati.
"Ya, Tsuchiya-san?"
"Aku butuh informasi mengenai Kobayashi Akihiko."
Hening sesaat.
"Informasi seperti apa?"
"Pergerakan bisnisnya dalam beberapa bulan terakhir."
Ayase memutar kursinya menghadap jendela.
"Terutama hubungan finansialnya dengan pihak eksternal."
"Baik."
"Dan satu lagi."
Ayase berhenti.
"Haruto Asano."
Nada di ujung telepon berubah sedikit.
"Haruto Asano?"
"Ya."
"Baik."
Sambungan berakhir.
Ayase tidak berharap banyak.
Jejaring seperti yang dimilikinya tidak bekerja seperti mesin pencari.
Informasi yang benar-benar berguna membutuhkan waktu, pertanyaan yang tepat, dan kadang-kadang sedikit keberuntungan.
Namun pagi berikutnya, sebuah pesan masuk.
Hanya satu kalimat.
Ada sesuatu yang sebaiknya Anda lihat sendiri.
Ayase membuka lampiran.
Matanya bergerak perlahan.
Satu dokumen.
Kemudian dokumen kedua.