Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #66

Kereta dan Danau

Kereta sore itu tidak terlalu penuh.

 Jam kuliah sudah hampir selesai untuk sebagian besar mahasiswa, tetapi arus manusia yang pulang ke pusat Tokyo belum benar-benar menumpuk. Beberapa orang berdiri dengan kepala tertunduk sambil memeriksa ponsel. Seorang ibu menggendong anak kecil di dekat pintu. Dua mahasiswa di sudut gerbong berbicara pelan tentang jadwal mereka selama libur musim panas.

 Naoya duduk di dekat jendela.

 Nagisa berada di sebelahnya.

 Tangan mereka masih saling menggenggam.

 Tidak ada satu pun dari keduanya yang berusaha melepaskannya.

 Sejak meninggalkan gedung K-Tech, mereka memang tidak banyak bicara. Bukan karena pertengkaran. Bukan pula karena ada sesuatu yang ingin disembunyikan.

 Mereka hanya sedang kelelahan.

 Kantor Ayase telah menjadi tempat yang menghabiskan terlalu banyak tenaga bagi keduanya, meskipun pada akhirnya Naoya keluar dari sana dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada ketika ia masuk.

 Nagisa menyandarkan kepala ke kaca jendela.

 "Capek?"

 Naoya mengangguk kecil.

 "Sedikit."

 "Sedikit?"

 "Ya."

 Nagisa menyipitkan mata.

 "Kamu kelihatan seperti orang yang habis menjalani tiga sidang pengadilan."

 Naoya tertawa kecil.

 "Mungkin karena ibuku begitu."

 "Dia memang menakutkan."

 "Kamu tadi masih berani bicara di depannya."

 "Itu karena aku takut kehilangan kamu."

 Naoya menoleh.

 Nagisa langsung memalingkan wajah.

 "Aku cuma bilang kenyataannya."

 Naoya tersenyum.

 "Ya."

 Kereta terus bergerak.

 Bangunan-bangunan tinggi mulai berkurang.

 Kemudian kereta memasuki terowongan.

 Suasana gerbong seketika menjadi lebih gelap. Cahaya dari lampu dalam gerbong memantul di kaca jendela, membuat bayangan wajah mereka sendiri tampak lebih jelas daripada pemandangan di luar.

 Naoya menatap pantulan itu.

 Wajahnya terlihat tenang.

 Aneh.

 Sudah lama sekali ia tidak merasa tenang seperti ini.

 Terowongan berakhir.

 Cahaya sore kembali masuk.

 Dan dunia di luar jendela berubah.

 Pepohonan hijau memenuhi lereng bukit.

 Jalan raya yang tadi masih terlihat sesekali menghilang di balik vegetasi.

 Kemudian—

 Air.

 Kilatan cahaya memantul dari permukaan yang luas di antara celah-celah pepohonan.

 Naoya berkedip.

 Sesuatu bergerak di kepalanya.

 Bukan ingatan yang utuh.

 Hanya potongan-potongan kecil.

 Angin sore.

 Suara air.

 Sinar matahari yang terlalu terang.

 Seseorang tertawa.

 Dan sebuah perasaan yang tidak mampu ia beri nama.

 Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

 Tangannya tanpa sadar menggenggam tangan Nagisa lebih erat.

 Nagisa menyadarinya.

 "Naoya?"

 Naoya tidak menjawab.

 Matanya masih tertuju pada permukaan air di kejauhan.

 Ada sesuatu yang terasa akrab.

 Bukan seperti tempat yang pernah ia kunjungi.

 Lebih seperti tempat yang pernah disimpan oleh tubuhnya sebelum pikirannya mengenalnya.

 "Naoya."

 Kali ini suara Nagisa lebih lembut.

 "Aku nggak apa-apa."

 "Yakin?"

 Naoya mengangguk.

 Kemudian ia melihat papan informasi stasiun yang muncul di layar gerbong.

 Sagamiko.

 Tatapannya berhenti di sana.

 "Nagisa."

 "Hm?"

 "Kita turun di sini."

 Nagisa menoleh.

 "Sagamiko?"

 "Iya."

 "Tiba-tiba?"

 Naoya mengangguk.

 "Aku ingin lihat danau."

 Nagisa menatapnya beberapa detik.

 Kemudian tersenyum.

 "Oke."

 Tidak ada pertanyaan lebih jauh.

 Mungkin karena ia tahu, terkadang ada hal-hal yang tidak harus dijelaskan.

 Kereta melambat.

 Pintu terbuka.

 Mereka turun bersama.

 Udara di luar terasa berbeda.

 Lebih segar.

 Lebih lembap.

 Sisa panas musim itu masih terasa di kulit, tetapi angin dari arah danau membuatnya tidak terlalu menyengat.

 Nagisa melihat jam.

 "Masih sempat sampai sebelum matahari turun."

 Naoya melihat ke arah jalan yang menuruni lereng.

 "Kalau begitu cepat."

 "Hah?"

 Naoya menarik tangannya.

 "Mau lari?"

 Nagisa sempat terkejut.

 "Naoya!"

Lihat selengkapnya