Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #67

Ciuman Paling Tulus

Matahari belum benar-benar tenggelam.

 Cahayanya masih menggantung rendah di atas permukaan Danau Sagami, memantul dalam garis-garis panjang berwarna keemasan yang bergerak setiap kali angin menyentuh air. Udara sore terasa lebih ringan dibandingkan panas Tokyo. Tidak dingin, tetapi cukup sejuk untuk membuat orang ingin berlama-lama di luar.

 Naoya dan Nagisa keluar dari kios kecil di tepi taman dengan dua cup gelato di tangan.

 Nagisa mengambil rasa stroberi.

 Naoya memilih vanila.

 Mereka berjalan berdampingan tanpa tujuan tertentu.

 Tidak ada jadwal yang harus dikejar.

 Tidak ada seseorang yang sedang menunggu pesan.

 Tidak ada urusan kampus yang harus segera diselesaikan.

 Dan, yang paling aneh bagi Naoya, tidak ada perasaan bahwa ia sedang membuang-buang waktu.

 Padahal mereka memang tidak melakukan apa-apa.

 Hanya berjalan.

 Makan gelato.

 Sesekali berhenti.

 Lalu berjalan lagi.

 "Enak."

 Nagisa menjilat sedikit gelato yang hampir menetes dari sisi cup.

 Naoya mengangguk.

 "Vanilaku juga."

 "Aku nggak nanya."

 Naoya tertawa.

 "Ya sudah."

 Mereka berjalan beberapa langkah lagi.

 Nagisa melirik cup di tangan Naoya.

 "Kamu serius pilih vanila?"

 "Kenapa?"

 "Bosan."

 "Memangnya rasa gelato harus punya kompleksitas karakter?"

 Nagisa menahan tawa.

 "Nggak. Tapi kamu kelihatan seperti orang yang memilih menu paling aman di restoran."

 "Itu kritik?"

 "Observasi."

 Naoya menatapnya.

 "Dan kamu?"

 "Aku selalu pilih sesuatu yang manis."

 "Oh, makanya hidupmu ribet."

 Nagisa berhenti berjalan.

 "Hei."

 Naoya ikut berhenti.

 Kemudian ia tersenyum kecil.

 "Bercanda."

 Nagisa mendengus dan melanjutkan langkah.

 Namun beberapa detik kemudian, tangannya bergerak mendekati tangan Naoya.

 Jemari mereka bersentuhan.

 Naoya tidak menunggu.

 Ia menggenggam tangan itu.

 Sederhana.

 Tidak ada rasa takut di sana.

 Tidak ada kepanikan.

 Dulu, setiap genggaman tangan Nagisa seperti membawa serta kebutuhan yang tidak pernah selesai. Seolah-olah begitu ia melepaskan, sesuatu yang buruk akan terjadi.

 Sekarang rasanya berbeda.

 Tangan itu tidak meminta apa-apa.

 Hanya berada di sana.

 Dan Naoya bisa memilih untuk menggenggamnya.

 Bukan karena harus.

 Bukan karena takut kehilangan.

 Tetapi karena ia memang ingin.

 Nagisa menyadari perbedaan itu.

 Dia tidak mengatakan apa-apa.

 Hanya menggeser jemarinya sedikit, hingga genggaman mereka menjadi lebih nyaman.

 Mereka melewati pagar taman dan turun ke jalur pejalan kaki yang mengarah ke dermaga kecil.

 Di kejauhan, beberapa perahu kayuh berbentuk angsa bergerak lambat di atas air.

 Nagisa menatap salah satunya.

 "Lucu."

 Naoya mengikuti arah pandangnya.

 "Mau naik?"

 Nagisa memandangnya.

 "Serius?"

 "Kenapa tidak?"

 "Kita baru saja makan gelato."

 "Terus?"

 "Nanti muter di air."

 "Iya."

 "Kita bisa mabuk."

 Naoya berpikir sejenak.

 "Danau ini tenang."

 Nagisa memukul lengannya pelan.

 "Kamu nggak membantu."

Naoya tertawa.

 Tapi beberapa menit kemudian mereka benar-benar sudah berdiri di dekat loket.

 Nagisa memandang perahu angsa yang paling dekat.

 "Ini norak sekali."

 "Tapi aku udah beli."

 "Kamu yang bayar?"

 Naoya mengangguk.

 Nagisa segera mengeluarkan dompet.

 "Aku bayar separuh."

 Naoya menatapnya.

 "Kenapa?"

 "Karena tadi kita udah bicara."

 Naoya terdiam sebentar.

 Tentang kewajiban laki-laki.

 Tentang kewajiban perempuan.

 Tentang kewajiban pasangan.

 Tentang hal-hal yang selama ini dianggap begitu normal sampai orang lupa menanyakannya.

 Naoya kemudian tersenyum.

 "Ya sudah."

 Mereka membagi pembayaran.

 Tanpa debat apapun.

 Tanpa salah satu memaksa menjadi penyelamat.

 Perahu mulai bergerak.

 Air danau memecah di bawah kayuhan.

 Awalnya mereka mendayung dengan ritme yang sama.

 Lalu lima detik kemudian ritmenya berantakan.

 Perahu miring sedikit ke kanan.

 "Naoya."

Lihat selengkapnya