Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #68

Rapat Direksi

Pukul 09.00 tepat.

Pintu otomatis ruang rapat direksi K-Tech Inc. menutup perlahan setelah komisaris terakhir masuk. Ruangan itu kembali sunyi.

Di balik dinding kaca, Tokyo tampak seperti kota yang dibekukan oleh udara musim panas. Gedung-gedung tinggi berdiri rapat, jalan raya bergerak dalam garis-garis kecil, sementara dari ketinggian lantai terakhir gedung utama K-Tech, suara kota tidak pernah benar-benar sampai.

Yang terdengar hanya pendingin udara, klik pena, dan sesekali suara halaman yang dibalik.

Akihiko Kobayashi duduk di kursi utama.

Di sebelah kanannya, dua direktur eksekutif dari Divisi Finance dan Corporate Planning. Di kiri, kepala Legal, kepala Operations, kemudian Ayase Tsuchiya yang duduk sebagai Chief Marketing Officer sekaligus pimpinan Marketing & Brand Strategy.

Selama delapan tahun.

Delapan tahun penuh.

Selama delapan tahun itu pula, Ayase menjadi orang yang hampir selalu duduk di meja yang sama, menghadapi angka yang sama, membaca laporan yang sama, dan memutuskan bersama apa yang harus dilakukan K-Tech ketika pasar berubah.

Ia menyaksikan perusahaan ini melewati ekspansi Asia, krisis semikonduktor, fluktuasi nilai yen, perubahan regulasi kendaraan listrik, serta beberapa kali restrukturisasi portofolio.

Karena itulah, banyak orang di ruangan tersebut tidak pernah menganggap Ayase sekadar kepala marketing.

Mereka menganggapnya sebagai salah satu orang yang paling memahami tubuh K-Tech dari dalam.

Akihiko menggeser dokumen terakhir.

"Baik."

Suara itu memotong ruangan.

"Kita masuk agenda terakhir. Usulan finalisasi aliansi investasi bersama Asano Group untuk proyek Rekayasa Genetika."

Layar di belakangnya menampilkan judul proyek.

Beberapa direktur membuka berkas yang sudah dibagikan sejak dua hari sebelumnya.

Akihiko melanjutkan.

"Nilai komitmen awal sebesar 48 miliar yen. K-Tech mengambil partisipasi strategis pada entitas proyek sebesar dua puluh enam persen. Asano Group menyediakan jalur pendanaan awal dan akses konsorsium."

Direktur Finance mengangguk.

"Expected IRR pada tahun kesembilan mencapai sebelas koma delapan persen."

Akihiko mengangguk.

"Dan apabila fase komersialisasi berhasil dipercepat, upside bisa meningkat."

Ia menekan remote.

Tiga grafik muncul.

"Target kita sederhana. Kita masuk sekarang, mengamankan posisi sebelum valuasi proyek naik."

Beberapa anggota dewan mengangguk.

Haruto Asano, yang hadir sebagai representasi kelompok Asano, bersandar tenang di kursinya.

"Kami sudah menyiapkan struktur exit yang fleksibel," katanya. "Kalau K-Tech ingin melepas sebagian kepemilikan setelah fase dua, kami bisa menyerapnya."

Akihiko melirik beberapa anggota dewan.

"Karena itu saya rasa tidak ada lagi alasan untuk menunda."

Ia meraih pena.

"Kalau tidak ada keberatan, saya minta--"

"Tunggu."

Suara Ayase tidak keras.

Tetapi langsung menghentikan gerakan tangannya.

Akihiko menoleh.

Ayase bahkan belum menyentuh remote.

"Tsuchiya-san?"

"Saya punya beberapa keberatan."

Akihiko tersenyum tipis.

"Marketing lagi?"

Beberapa orang tersenyum kecil.

Ayase tidak.

"Bukan."

Ia membuka laptop.

"Risk management."

Senyum Akihiko memudar sedikit.

Ayase menekan satu tombol.

Layar berubah.

"Pertama, saya ingin mempertanyakan model valuasi proyek."

Direktur Finance mengangkat kepala.

Ayase melihat ke arahnya.

"Angka eleven-point-eight percent IRR yang digunakan di sini dihitung berdasarkan asumsi penetration rate sebesar 7,4 persen pada tahun kelima dan 13,1 persen pada tahun ketujuh, benar?"

Direktur Finance membuka dokumen.

"Benar."

"Dan baseline market yang dipakai?"

"Asia Timur dan Amerika Utara."

"Tanpa memasukkan regulasi approval?"

Direktur Finance terdiam sesaat.

"Kami memasukkan estimasi regulatory lag.

Ayase menggeleng.

"Bukan itu pertanyaan saya."

Ia memandang layar.

"Anda memasukkan lag sebagai variabel waktu. Bukan sebagai risiko penghentian."

Ruangan menjadi lebih fokus.

Ayase melanjutkan.

"Kalau satu negara mengubah klasifikasi produk atau meminta tambahan uji keselamatan, revenue bukan terlambat tiga bulan. Bisa menjadi langsung nol selama periode tersebut."

Kepala Legal mengangguk pelan.

"Memang ada kemungkinan itu."

Ayase mengetuk meja dengan ujung jarinya.

"Kalau begitu kenapa probability-weighted scenario tidak dimasukkan ke model utama?"

Direktur Finance membuka beberapa halaman.

"Karena tingkat ketidakpastiannya terlalu tinggi."

"Justru karena terlalu tinggi, harus dimasukkan."

Akihiko menyela.

"Kita tidak bisa menggunakan skenario terburuk untuk menghambat semua investasi."

Ayase menoleh.

"Saya tidak meminta skenario terburuk menjadi baseline."

Ia membuka slide baru.

"Saya meminta downside scenario dihitung."

Grafik tiga warna muncul.

"Base case: sebelas koma delapan."

"Kemudian downside."

Grafik bergeser.

"Lima koma enam."

Beberapa direktur mulai membaca.

"Dan severe downside?"

Ayase menekan tombol.

"Minus dua koma satu persen."

Akihiko langsung menyahut.

"Itu terlalu konservatif."

Ayase menatapnya.

"Konservatif berdasarkan apa?"

Akihiko tidak segera menjawab.

Ayase meneruskan.

"Karena delapan tahun saya melihat portofolio K-Tech, saya tahu satu hal."

Ia menunjuk grafik.

"Proyek yang tidak berhubungan langsung dengan core competency selalu membawa hidden cost."

Akihiko menyandarkan tubuh.

"Contohnya?"

"Management bandwidth."

Ayase menjawab tanpa jeda.

"Berapa banyak eksekutif yang akan menghabiskan waktu untuk proyek ini? Berapa banyak legal review tambahan? Berapa banyak compliance? Berapa banyak vendor audit? Berapa banyak reputational monitoring?"

Ia membuka tabel lain.

"Semua itu tidak masuk ke angka investasi 48 miliar."

Direktur Corporate Planning mengangguk.

"Opportunity cost."

"Tepat."

Ayase memandangnya.

"Dan opportunity cost kita sedang mahal."

Ia mengganti slide.

Kali ini grafik industri otomotif.

"Pasar EV Jepang tumbuh. Permintaan modul kontrol elektronik naik. Kita sudah punya supply agreement dengan tiga vendor utama Jepang."

Ia menunjuk angka.

"Utilisasi lini produksi kita saat ini delapan puluh tujuh persen."

Direktur Operations menimpali.

"Delapan puluh sembilan pada kuartal terakhir."

Ayase mengangguk.

"Lebih baik lagi."

Ia beralih ke angka berikutnya.

"Kalau kita mengalokasikan sebagian capital expenditure untuk kapasitas modul kontrol, return paling realistis justru lebih cepat."

Akihiko berkata,

"Itu bukan alasan untuk mengabaikan diversifikasi."

"Benar."

Ayase mengangguk.

"Tapi diversifikasi harus punya strategic adjacency."

Ia menatap langsung ke arah Akihiko.

"Proyek ini tidak punya adjacency yang cukup."

Haruto tertawa kecil.

"Bioteknologi tidak harus langsung terkait dengan bisnis elektronik untuk menjadi investasi strategis."

Ayase menoleh kepadanya.

"Saya setuju."

Lalu ia membalik halaman.

"Kalau investasinya benar-benar investasi."

Haruto berhenti tersenyum.

Ayase meneruskan.

"Masalah saya justru karena struktur proyek ini terlalu bergantung pada aset dan relasi eksternal. K-Tech menyuntikkan modal besar, tetapi kontrol operasional tetap dominan di pihak lain."

Haruto menjawab,

Lihat selengkapnya