Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #69

Garis Batas Baru

Menjelang siang, rumah tua itu terasa jauh lebih luas daripada biasanya.

 Bukan karena ruangan-ruangannya berubah, melainkan karena terlalu banyak barang yang sudah dikeluarkan dari tempatnya.

 Kotak kardus menumpuk di ruang tamu. Beberapa buku Nagisa masih tergeletak di atas lantai, menunggu dimasukkan ke dalam kotak terakhir. Pita perekat, gunting, kantong plastik, dan beberapa pakaian yang belum dilipat berserakan di antara tumpukan barang.

 Ako duduk bersila di atas tatami sambil memandangi sebuah benda kecil di tangannya.

 "Nagisa."

 "Hm?"

 "Kenapa kamu punya tiga pengering rambut?"

Nagisa yang sedang melipat sweater menoleh.

 "Tiga?"

"Iya. Satu di kamar mandi. Satu di lemari. Sama satu lagi masih di kardus."

 Nagisa memandang ketiga benda itu beberapa detik.

 "Uhh... Aku tidak tahu."

 Ako menghela napas panjang.

 "Inilah akibat hidup tanpa inventaris."

 "Aku tidak pernah bermaksud punya sebanyak itu, sih."

 "Barang-barangmu juga tidak pernah bermaksud tinggal sebanyak itu."

 Nagisa tertawa kecil.

 Tawa itu terdengar ringan.

 Tidak ada nada tegang yang biasanya muncul setiap kali pembicaraan menyangkut masa depan, Naoya, atau tempat tinggal.

 Tangannya kembali bekerja.

 Sweater dilipat menjadi persegi kecil, lalu dimasukkan ke dalam kardus.

 Di sisi lain ruangan, beberapa pakaian yang akan dibawa ke tempat baru sudah digantung dalam garment bag. Buku-buku kuliahnya dipisahkan dari buku pribadi. Dokumen akademik dimasukkan ke dalam map transparan.

 Semuanya dilakukan perlahan.

 Bukan karena Nagisa tidak ingin cepat-cepat pindah.

 Justru sebaliknya.

 Ia ingin setiap benda masuk ke tempat barunya dengan kesadarannya sendiri.

 "Ini terakhir," kata Ako.

 Ia menunjuk kardus besar yang sudah hampir penuh.

 Nagisa mengambil beberapa buku dari rak.

 Salah satunya adalah buku yang dulu sering ia baca ketika sedang tidak bisa tidur.

 Ia sempat berhenti.

 Jemarinya mengusap permukaan sampul.

 "Masuk sini?" tanya Ako.

 Nagisa diam sebentar.

 "Iya."

 Buku itu diletakkan di atas.

 Lalu kardus ditutup.

 Suara lakban yang ditarik melintasi permukaan kardus terdengar panjang.

 Srakkk.

 Nagisa memperhatikan ujung lakban itu beberapa saat.

 Ada sesuatu yang aneh dalam melihat barang-barangnya sendiri dikemas seperti ini.

 Dulu, ketika ia pindah ke rumah Naoya, semua terasa seperti keputusan sementara.

 Tidak ada rencana.

 Tidak ada batas.

 Tidak ada ruang yang benar-benar menjadi miliknya.

 Ia hanya datang dengan sebuah tas, beberapa pakaian, dan kepala yang terlalu penuh untuk memikirkan konsekuensinya.

 Sekarang semuanya berbeda.

 Kardus-kardus ini adalah tanda bahwa ia sedang membawa hidupnya kembali ke tangannya sendiri.

 Pintu depan terbuka.

 Naoya muncul sambil membawa dua kardus sekaligus.

 Mio berjalan di belakangnya dengan satu kardus yang ukurannya hampir sebesar tubuhnya.

 "Berat!" keluh Mio.

 "Makanya jangan ambil yang paling besar," kata Naoya.

 "Aku kan membantu."

 "Kalau jatuh, nanti malah aku yang angkat kamu sekalian."

 Mio mendengus.

 "Aku nggak selemah itu!"

Ako langsung menyahut dari lantai.

 "Kalian berdua mirip banget kalau sedang berdebat."

 Naoya mengernyit.

 "Mirip?"

 "Ya."

 Mio menunjuk Naoya.

 "Kakak aja yang keras kepala."

 Naoya menunjuk balik.

 "Kamu yang membawa kardus terlalu besar."

 "Aku kuat."

 "Kamu tadi bilang berat."

 "Itu beda!"

 Ako tertawa.

 Nagisa hanya tersenyum sambil melihat mereka.

 Pemandangan sederhana itu terasa hangat.

 Aneh, pikir Nagisa.

 Dulu ia akan merasa takut melihat kedekatan Naoya dengan Mio. Ia akan ingin mendekat, ingin memastikan dirinya tidak tersisih.

 Sekarang ia hanya merasa... tenang.

 Perasaan itu belum sepenuhnya nyaman.

 Masih ada bagian kecil di dalam dirinya yang ingin menghentikan Naoya sebelum pergi.

 Namun, untuk pertama kalinya, keinginan itu tidak terasa seperti sesuatu yang harus segera dituruti.

 Ia membiarkannya ada.

 Lalu membiarkannya lewat.

 --o--

 Sharehouse itu berada di sebuah bangunan yang sudah direnovasi.

 Bukan tempat mewah.

 Lorongnya sempit, tangga kayunya sedikit berderit, dan cat putih di beberapa bagian dinding sudah mulai kusam.

 Namun tempat itu bersih.

 Hangat.

 Dan yang paling penting, murah.

 Kamar Nagisa berada di lantai dua.

 Begitu pintu dibuka, cahaya matahari sore jatuh melalui jendela kecil di ujung ruangan.

 Ukuran kamar itu tidak lebih dari cukup untuk satu ranjang, lemari pakaian, meja belajar kecil, dan rak buku.

 Nagisa berdiri di tengah ruangan.

 Untuk beberapa detik ia tidak berkata apa-apa.

 "Akhirnya," gumamnya.

 Naoya menurunkan kardus yang dibawanya.

 "Kita masih punya waktu. Mau aku bantu susun furniturnya?"

 Nagisa menoleh.

 Lalu tersenyum.

 "Yang ini aku sendiri."

 Naoya berhenti.

 "Yakin?"

 "Yakin."

 Tidak ada nada ragu.

 Hanya keputusan sederhana.

 Naoya mengangguk.

 "Baik."

 Mio sudah membuka salah satu kardus.

 "Nagisa-san, yang ini bukunya."

 "Taruh di rak sana."

 "Yang ini?"

 "Meja."

Lihat selengkapnya