Pagi di Jinbōchō selalu memiliki bau yang berbeda.
Bukan sekadar aroma kopi dari kedai-kedai kecil yang baru membuka pintu, ataupun asap knalpot yang bercampur dengan udara musim panas Tokyo. Ada sesuatu yang lebih tua di antara lorong-lorong sempit itu.
Kertas.
Lem.
Kayu rak yang telah puluhan tahun menyimpan debu.
Bau buku-buku tua yang sampulnya mulai menguning dan halaman-halamannya terasa rapuh ketika disentuh.
Naoya menyukai bau itu.
Barangkali bahkan terlalu menyukainya.
"Jangan dipaksakan."
Suara Ako terdengar dari sebelahnya.
Naoya yang sedang berdiri di depan sebuah toko buku tua tidak langsung menjawab. Matanya masih mengikuti deretan judul di rak kaca yang sebagian besar ditulis menggunakan aksara kanji lama.
"Ini bukan dipaksakan."
"Kamu sudah tiga jam."
"Baru dua jam empat puluh menit."
Ako menatapnya datar.
"Bedanya cuma dua puluh menit, jenius."
Nagisa yang berdiri di sisi lain mereka tertawa kecil.
"Biarkan saja."
Ia mengenakan pakaian sederhana hari itu. Blus berwarna krem, rok panjang, dan rambut yang diikat rendah. Tidak ada penampilan mencolok.
Beberapa minggu yang lalu, Nagisa mungkin akan terus memperhatikan ekspresi Naoya setiap beberapa detik, memastikan lelaki itu tidak pergi terlalu jauh.
Sekarang, ia bisa berdiri di sampingnya tanpa harus terus memastikan bahwa dirinya masih menjadi pusat perhatian.
Perubahan kecil itu terasa aneh.
Tetapi bukan aneh yang buruk.
Naoya mengeluarkan selembar catatan dari tas.
"Profesor bilang bagian ini masih terlalu tipis."
Ako melirik.
"Bab metodologi?"
"Bukan. Bab kajian teks."
"Karena kamu terlalu banyak membaca sumber sekunder."
Naoya menatapnya.
"Kamu membaca catatanku?"
"Aku satu kelompok riset denganmu, tentu saja aku membaca."
Nagisa ikut melihat.
"Bagian mana yang kurang?"
Naoya menunjuk beberapa baris.
"Aku masih belum puas dengan cara aku membaca simbol kematian dalam teks ini. Aku terlalu mengikuti interpretasi peneliti sebelumnya."
Ako mengangguk.
"Itu masalahmu sejak dulu."
"Terima kasih atas dukungannya."
"Sama-sama."
Nagisa tersenyum.
Naoya tidak membalas dengan senyum besar.
Namun ada sesuatu yang berubah dalam sorot matanya.
Ia terlihat benar-benar tertarik.
Bukan terpaksa.
Bukan karena takut gagal.
Bukan karena ingin membuat seseorang bangga.
Ia ingin tahu.
Itu saja.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keinginan sederhana itu terasa cukup.
--o--
Mereka memasuki toko buku yang lebih kecil di ujung jalan.
Pintu kayunya berderit ketika dibuka.
Lonceng kecil berbunyi.
Seorang lelaki tua di balik meja kasir mengangkat kepala.
"Silakan."
Rak-rak tinggi memenuhi hampir seluruh ruangan.
Buku-buku tertumpuk secara vertikal dan horizontal. Beberapa bahkan diletakkan dalam kotak kayu kecil dengan label harga tulisan tangan.
Naoya langsung berubah.
Tidak lagi seperti mahasiswa yang sedang mengejar tenggat.
Matanya bergerak dari satu rak ke rak lainnya.
Tangannya sesekali menyentuh punggung buku.
Ia membuka satu.
Membaca dua halaman.
Mengembalikannya.
Mengambil yang lain.
Nagisa hanya memperhatikan.
"Dia seperti anak kecil," bisiknya.
Ako mengangguk.
"Anak kecil yang punya utang akademis."
"Hei."
Naoya menoleh.
"Kalian bicara apa?"
"Tidak ada."
Nagisa tersenyum polos.
Naoya menyipitkan mata.
"Aku tidak percaya."
Mereka bertiga kembali tertawa.
Namun beberapa menit kemudian, Naoya berhenti di depan satu rak.
Sebuah buku tua dengan sampul kain gelap tertutup plastik bening.
Ia mengambilnya secara hati-hati.
Matanya langsung berubah.
"Ini..."
"Apa?" tanya Nagisa.
"Cetakan lama."
Naoya membalik halaman.
Jarinya bergerak sangat pelan.
Kertasnya tipis, sedikit kasar.
Ada aroma samar yang seperti datang dari ruang penyimpanan puluhan tahun.
"Ini edisi yang tidak banyak beredar."
Ako mendekat.
"Berapa?"
Naoya melihat label harganya.
Ia terdiam.
"Masih sanggup?" tanya Ako.
Naoya menghela napas.
"Kalau tidak beli kopi seminggu."
Nagisa langsung berkata,
"Ambil."
Naoya menatapnya.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kamu membayarinya."
Nagisa diam sebentar.
Lalu tersenyum.
"Aku juga tidak sedang menawarkan uang."
Ia mengetuk buku itu.
"Aku cuma bilang ambil karena kamu membutuhkannya."
Naoya menunduk melihat buku di tangannya.
Kemudian ia mengangguk.
"Baik."
Itulah caranya sekarang.
Lebih sederhana.
Tidak lagi ada kebutuhan untuk saling menyelamatkan setiap waktu.
Hanya dua orang yang belajar berkata, "Aku butuh ini," tanpa merasa harus membayar kembali dengan seluruh hidup mereka.
--o--
Satu jam kemudian, mereka keluar dari toko dengan beberapa buku dan catatan.
Mereka berhenti di sebuah kafe retro yang tersembunyi di antara dua bangunan tua.
Papan namanya sudah pudar.
Jendela kayu besar menghadap jalan.
Begitu pintunya dibuka, aroma kopi langsung menyambut.
Interiornya hampir tidak berubah selama bertahun-tahun.
Lampu kuning hangat.
Meja kayu tua.
Kursi dengan bantalan yang sedikit turun karena terlalu sering digunakan.
Radio kecil di sudut ruangan memutar lagu lama dengan volume rendah.
"Tempat seperti ini cocok sekali buat kamu," kata Nagisa.
Naoya duduk sambil membuka buku.
"Kenapa?"
"Kelihatannya kamu sudah hidup di sini sejak tahun 1980-an."
Ako tertawa.
"Dia memang auranya begitu."