Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #71

Malam Peluncuran Menu di Salsa Diner

Malam itu, Salsa Diner terasa lebih ramai daripada biasanya.

Dari luar, lampu papan nama restoran memantul di trotoar yang masih sedikit lembap. Udara musim panas Tokyo menggantung berat, membawa serta aroma aspal, makanan panggang, dan angin malam yang tidak pernah benar-benar dingin.

Di balik pintu kaca, suara piring beradu dengan meja, denting sendok, dan percakapan para pelanggan bercampur dengan musik yang mengalun dari pengeras suara kecil di langit-langit.

Sudah beberapa waktu sejak Nagisa kembali bekerja di tempat itu.

Bukan karena keadaan tiba-tiba menjadi mudah.

Jalan menuju sana tetap menyisakan banyak hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Namun, setelah rapat direksi bulanan K-Tech dan langkah Ayase Tsuchiya membongkar permainan kotor yang selama ini menekan kehidupan Nagisa, ancaman dari ayahnya tidak lagi menggantung di atas kepalanya seperti sebelumnya. Jalan untuk kembali bekerja pun terbuka.

Secara perlahan, namanya kembali menjadi sekadar nama seorang pekerja paruh waktu di Salsa Diner.

Bukan putri seorang CEO yang sedang diperebutkan kepentingannya.

Bukan gadis yang harus disembunyikan dari seseorang.

Bukan pula perempuan yang setiap gerak-geriknya harus diawasi.

Hanya Nagisa.

Dan mungkin justru karena itulah, malam ini terasa sedikit berbeda.

Di balik meja kasir, Nagisa berdiri dengan seragam kerjanya, rambutnya diikat rapi. Ia menerima pesanan, mengantarkan makanan, membersihkan meja, lalu kembali ke kasir tanpa terburu-buru.

Tidak ada lagi gerakan kaku ketika seseorang memanggil namanya.

Tidak ada lagi kebiasaan menoleh ke pintu setiap kali bel masuk berbunyi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa bekerja tanpa merasa sedang menunggu sesuatu yang buruk terjadi.

Salsa Diner kembali menjadi tempat kerja.

Sesederhana itu.

Dan entah kenapa, kesederhanaan tersebut terasa sangat berharga.

Nagisa berdiri di balik meja kasir.

"Selamat datang di Salsa Diner."

Senyumnya muncul secara alami.

Tidak dibuat-buat.

Tidak ada gerakan tangan yang gelisah.

Tidak ada pandangan yang berkali-kali melirik pintu masuk.

Bahkan ketika seorang pelanggan mengubah pesanannya pada menit terakhir, Nagisa hanya mengangguk sambil mencatat ulang.

"Baik. Jadi satu pasta diganti menjadi chicken katsu, tanpa paprika."

"Maaf merepotkan."

"Tidak masalah."

Selesai.

Sesederhana itu.

Dari sudut ruangan, Satoshi memperhatikannya sambil memeriksa daftar reservasi.

Nagisa sudah berubah.

Beberapa bulan lalu, ada sesuatu dalam dirinya yang selalu tampak seperti hendak runtuh. Sekarang, langkah kakinya mantap. Bahkan ketika restoran sedang penuh, ia tetap bisa membagi perhatian antara pelanggan, dapur, dan meja kasir tanpa kehilangan ekspresi tenangnya.

"Nagisa."

Ia menoleh.

"Ya?"

"Meja tujuh sudah selesai?"

"Sudah. Tinggal menunggu dessert."

Satoshi mengangguk.

"Bagus."

Nagisa kembali bekerja.

Ia tidak menyadari bahwa seseorang di dekat dapur sedang tersenyum melihatnya.

Perasaan itu masih ada.

Namun kali ini tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus dicengkeram agar tidak hilang.

Nagisa hanya merasa senang.

Ia bekerja.

Ia punya tempat untuk pulang.

Ia punya kamar sendiri.

Ia punya kehidupan yang tidak seluruhnya berputar mengelilingi satu orang.

Dan yang paling aneh—

Ia justru merasa semakin dekat dengan orang yang dicintainya.

--o--

Sekitar pukul tujuh malam, pintu restoran terbuka.

Nagisa yang sedang membawa dua gelas minuman langsung menoleh.

Matanya melebar.

"Ah."

Naoya masuk terlebih dahulu.

Di belakangnya ada Mio dan Ako.

Naoya mengenakan kemeja sederhana dengan lengan digulung sampai siku. Mio membawa tas kecil di bahu, sedangkan Ako masuk sambil melihat ke kanan-kiri dengan ekspresi seorang pengunjung yang sudah memutuskan akan makan sebanyak mungkin.

Nagisa langsung tersenyum.

"Kalian bener-bener datang."

"Katamu disuruh datang," jawab Naoya.

"Ya, tapi aku kira salah satu dari kalian bakal malas."

Ako langsung mengangkat tangan.

"Aku hampir malas, sih."

Mio menyenggolnya.

"Jangan bohong."

Ako menoleh.

"Aku jujur."

"Kamu tadi yang paling semangat."

"Itu bukan berarti aku nggak malas."

"Ako!"

Naoya menutup mulutnya menahan tawa.

Nagisa memperhatikan mereka.

Ada sesuatu yang terasa sangat jauh dari masa lalu.

Bukan dalam arti buruk.

Justru sebaliknya.

Semua orang tampak berada di tempat masing-masing.

Ako bisa mengejek Mio.

Mio bisa membalas.

Naoya bisa tertawa.

Dan Nagisa tidak lagi merasa harus menjaga satu orang agar tidak pergi.

Satoshi mendekati meja beberapa saat kemudian.

"Sudah lama tidak bertemu."

Nagisa berdiri.

"Satoshi-san."

Satoshi menatap Naoya, Mio, lalu Ako.

"Teman-temanmu?"

Nagisa tersenyum.

"Teman-teman terbaik saya."

Ako langsung menyela.

"Dia lupa menyebut saya yang paling cantik."

"Kamu tidak usah menambahkan apa-apa."

"Saya hanya membantu."

Satoshi terkekeh.

"Bagus."

Kemudian ia menatap Nagisa.

"Ngomong-ngomong."

Nagisa menoleh.

"Kamu bekerja sangat baik belakangan ini."

Kalimat itu sederhana.

Namun Nagisa terdiam sebentar.

Satoshi melanjutkan.

"Pelayananmu cepat. Kamu jarang melakukan kesalahan. Dan ketika restoran sedang ramai, kamu tidak panik seperti dulu."

Nagisa menatapnya.

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian kosong."

Nada Satoshi tetap datar.

"Kamu sudah jadi salah satu orang yang paling bisa diandalkan di sini."

Mata Nagisa sedikit melembut.

"Terima kasih."

Satoshi mengangguk.

"Selamat menikmati malam kalian."

Setelah ia pergi, Ako menatap Nagisa.

Lihat selengkapnya