Sore itu, rumah tua Naoya dipenuhi cahaya matahari yang masuk miring melalui jendela dapur.
Tidak terlalu terang. Tidak juga cukup redup untuk membuat lampu perlu dinyalakan.
Cahaya keemasan itu jatuh di atas meja kayu, memantul pada permukaan pisau dapur, lalu berhenti di lantai tatami yang sudah beberapa kali disapu sejak siang. Dari luar, suara sepeda seseorang yang melewati gang terdengar samar. Sesekali terdengar suara burung dari pepohonan di halaman belakang.
Rumah itu tenang.
Terlalu tenang untuk ukuran rumah yang beberapa bulan terakhir hampir selalu memiliki tiga orang di dalamnya.
“Jadi, kita masak apa?”
Nagisa berdiri di depan kulkas dengan kedua tangan bertolak pinggang.
Pintu kulkas terbuka lebar.
Isi di dalamnya tidak banyak.
Dua wortel yang mulai kehilangan sedikit kesegaran di ujungnya. Setengah bonggol kubis. Sebatang daun bawang. Kentang yang tinggal tiga. Tahu, satu bungkus jamur shimeji, beberapa butir telur, dan setengah botol kecap asin yang isinya sudah tinggal lebih sedikit daripada yang ingin diakui siapa pun.
Mio berdiri di sampingnya.
Ia memasukkan kepalanya sedikit ke dalam kulkas, memperhatikan satu per satu isi rak, lalu mengeluarkan napas panjang.
“Kita miskin.”
Nagisa langsung menoleh.
“Jangan bilang begitu.”
“Memangnya salah?”
“Bukan miskin. Kita sedang berhemat.”
“Kalau kamu mau membuatnya terdengar lebih cantik, silakan.”
Mio menutup pintu kulkas.
Kemudian ia menatap Nagisa dengan senyum yang perlahan tumbuh di wajahnya.
“Bagaimana kalau kita bikin tantangan?”
Nagisa mengangkat alis.
“Tantangan?”
“Kita bikin makan malam hanya dari bahan yang tersisa.”
“Dengan bahan sebanyak ini?”
“Justru itu tantangannya.”
Nagisa menoleh lagi ke kulkas yang sudah tertutup.
Di belakang mereka, Ako yang sejak tadi duduk di kursi makan sambil menggulir ponsel mendengus.
“Kalian berdua terdengar seperti dua orang yang baru sadar tanggal gajian masih lama.”
Mio langsung menunjuknya.
“Kamu ikut.”
“Aku?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku dan Nagisa masak berdua, nanti kalau gagal kita cuma bisa saling menyalahkan.”
Ako memasukkan ponselnya ke saku.
“Kalau aku ikut, kalian akan menyalahkanku.”
“Itu juga benar.”
“Kenapa kamu jujur sekali?”
Nagisa tertawa kecil.
Suara tawa itu terdengar ringan.
Tidak ada keraguan di dalamnya.
Tidak ada kecanggungan yang biasanya masih muncul ketika Nagisa berada di rumah ini bersama Mio.
Hanya tiga perempuan yang sedang berdiri di sebuah dapur dengan bahan makanan yang terlalu sedikit dan waktu sore yang masih panjang.
Mio melirik jam dinding.
“Naoya-nii masih di ruang makan, kan?”
“Dia sedang membaca,” jawab Nagisa.
“Bagus.”
Mio mengambil celemek dari gantungan.
Satu berwarna putih dengan pola bunga kecil.
Satunya lagi polos.
Ia memberikan celemek polos kepada Nagisa.
“Pakai.”
Nagisa menerimanya.
“Kenapa aku yang harus pakai ini?”
“Karena kamu paling gampang kena noda.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu belum pernah lihat cara kamu memegang minyak?”
Nagisa menatap tangannya sendiri.
Kemudian menatap Mio.
“Aku mulai merasa kamu memang meragukan kemampuan memasakku.”
Mio tersenyum.
“Belum mulai.”
Ako menutup wajah dengan satu tangan.
“Ya ampun.”
Nagisa tertawa lagi.
Dan tanpa seorang pun menyadarinya, suasana dapur yang tadinya kosong perlahan berubah.
--o--
Naoya duduk di meja makan dengan sebuah buku terbuka di hadapannya.
Ia membaca.
Atau setidaknya berusaha membaca.
Suara dari dapur terlalu hidup untuk diabaikan.
Bunyi pintu lemari dibuka.
Bunyi talenan terkena ujung pisau.
Suara Mio yang menjelaskan sesuatu.
Suara Nagisa yang beberapa kali menyela.
Kemudian suara Ako.
“Bukan begitu!”
“Apa salahku?”
“Pisau itu bukan benda pemukul.”
“Aku tahu!”
“Kalau tahu, jangan dipotong seperti itu!”
Naoya menahan senyum.
Ia menurunkan bukunya sedikit.
Dari tempat duduknya, dapur terlihat sebagian dari sela pintu. Ia bisa melihat Mio berdiri di depan talenan, sementara Nagisa berada di sebelahnya dengan celemek terikat agak miring.
Ako berdiri di dekat kompor.
Tak satu pun terlihat seperti koki.
Mereka bahkan tidak terlihat seperti tiga orang yang tahu persis apa yang sedang mereka lakukan.
Namun entah kenapa, justru itu yang membuat Naoya nyaman.
“Potongnya begini.”
Mio mengambil wortel.
Ia menaruhnya mendatar, kemudian memegang pisaunya dengan benar.
“Jangan terlalu menekan.”
Nagisa memperhatikan.
“Kenapa?”
“Kalau terlalu ditekan, potongannya tidak rata.”
“Lalu?”
“Kalau potongannya tidak rata, matangnya juga tidak bersamaan.”
Nagisa mencoba mengikuti.
Potongan pertamanya terlalu tebal.
Mio melihatnya.
“Masih terlalu besar.”
Nagisa menatap potongan wortel itu.
“Ini bukan besar.”
“Itu wortel.”
“Justru karena wortel, bukan dadu.”
Ako tertawa.
Mio ikut tertawa kecil.
Naoya memandang mereka dari jauh.
Ada sesuatu yang bergerak perlahan di dalam dadanya.
Tidak besar.
Tidak dramatis.
Hanya rasa puas yang tenang.
Rumah ini dulu terasa seperti tempat yang terlalu luas untuk dirinya seorang diri.
Sekarang, bahkan suara pisau memotong wortel pun bisa membuatnya terasa penuh.
“Begini?”
Nagisa mencoba lagi.
Mio mendekat.
“Ya. Begitu.”
Nagisa mengangguk serius.
Kemudian ia memotong lagi.
Kali ini lebih rapi.
“Berhasil.”
Nada suaranya begitu bangga sampai Mio menoleh sambil tersenyum.
“Kamu ternyata bisa.”
Nagisa menatapnya.
“Kalau kamu terus memuji seperti itu, aku bisa ketagihan.”
“Bagus. Berarti besok kamu yang masak.”
“Jangan buru-buru.”
Ako menyela dari kompor.
“Belum tentu kita bertiga selamat sampai besok kalau supnya gosong.”
Mio menoleh.
“Supnya tidak akan gosong.”
“Kamu sudah menyalakan kompor?”
“Sudah.”
“Kenapa apinya sebesar itu?”
Mio langsung berbalik.
Mata bulatnya membesar.
“Eh?”
Ako menghela napas panjang.
“Matikan sedikit.”
Mio buru-buru mengecilkan api.
Nagisa menahan tawa.
“Kenapa kamu mendadak panik?”
“Aku tidak panik.”
“Kamu tadi hampir menjatuhkan sendok.”
“Itu refleks.”
“Refleks karena panik.”
“Tidak ada istilah seperti itu.”
Naoya akhirnya tertawa kecil dari meja makan.
Ketiganya menoleh bersamaan.
Naoya langsung mengangkat bukunya sedikit.
“Lanjutkan saja.”
Mio menyipitkan mata.
“Kakak ketawa?”
“Tidak.”
“Kakak jelas ketawa.”
“Aku cuma—”
“Ketawa.”
Nagisa menunjuk Naoya dengan ujung wortel yang baru selesai dipotong.
“Aku juga lihat.”
Ako mengangkat tangan.
“Sebagai saksi.”
Naoya menatap mereka bertiga.
“Kenapa kalian bertiga kompak sekali melawanku?”
“Karena kamu sendirian,” jawab Mio enteng.
“Dan?”
“Tidak ada alasan lain.”
Naoya menghela napas.
Namun senyum di bibirnya tidak hilang.
Ia kembali melihat bukunya.
Tulisan di halaman itu tidak lagi terlalu penting.
Ada sesuatu yang jauh lebih menarik di dapur.
--o--
Setelah wortel, mereka beralih ke kentang.
Mio mengajarkan cara mengupasnya.