Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #73

Maid Cafe

Akihabara pada siang hari selalu terasa seperti tempat yang tidak mengenal kata tenang.

Suara pengumuman dari toko elektronik bercampur dengan musik dari papan iklan digital. Para pejalan kaki bergerak dari satu gedung ke gedung lain sambil membawa kantong belanja, brosur, atau sekadar ponsel yang tak pernah lepas dari tangan. Di antara kerumunan itu, sesekali terdengar suara seseorang menawarkan promosi toko dengan mikrofon kecil.

Ako Ichigaya berjalan sambil memegang sebuah daftar buku.

Hari itu sebenarnya bukan hari yang istimewa.

Ia hanya sedang mencari satu set manga lama. Bukan untuk penelitian. Bukan pula karena ada tugas kuliah yang mendesak. Hanya sebuah manga BL legendaris yang sudah lama tidak dicetak ulang dan entah bagaimana tiba-tiba menjadi obsesinya sejak ia menemukan satu volume di rak buku bekas.

Perpustakaan kampus tentu saja tidak memilikinya. Toko buku besar di dekat kampus juga tidak punya stok. Bahkan toko-toko manga biasa yang sudah ia datangi hanya memiliki beberapa volume terpisah, tidak pernah satu set lengkap.

Salah satu temannya kemudian mengatakan bahwa toko buku bekas di Akihabara mungkin masih menyimpan salinannya.

Masalahnya, manga itu sudah cukup tua untuk membuat pencariannya terasa seperti berburu harta karun.

Dan Ako, dengan keseriusan seorang mahasiswa yang sedang mengejar sumber primer langka, memutuskan untuk mencarinya sampai dapat.

Ako tidak terlalu berharap.

Namun setidaknya ada alasan untuk pergi keluar.

“Kalau nggak ada juga, aku pulang,” gumamnya.

Ia berhenti di depan sebuah persimpangan kecil, memeriksa alamat toko di ponselnya.

Belok kanan.

Kemudian lurus.

Lalu melewati gedung dengan papan nama berwarna biru.

Ako mengangkat kepala.

“Yang ini...?”

Bukan.

Ia kembali melihat ponselnya.

Baru beberapa langkah kemudian, sebuah suara dari sisi jalan membuatnya berhenti.

“Selamat datang, Tuan~.”

Suara perempuan.

Ringan.

Ceria.

Sedikit dimaniskan di ujung kalimat.

Ako tidak terlalu peduli pada awalnya. Akihabara penuh dengan maid cafe. Suara seperti itu bukan sesuatu yang aneh.

Ia bahkan sempat hendak berjalan lagi.

Sampai suara kedua terdengar.

“Silakan masuk. Hari ini aku akan membuat waktu Tuan di sini jadi lebih menyenangkan.”

Ako berhenti.

Ada sesuatu dalam suara itu.

Bukan karena kalimatnya.

Bukan juga karena intonasinya.

Melainkan karena ia mengenal cara gadis itu tertawa.

Ako perlahan menoleh ke arah papan nama sebuah kafe di lantai dua gedung sempit.

Tulisan besar berwarna merah muda dan putih menghiasi papan depannya.

Di bawah nama toko, ada gambar seorang gadis berambut hitam dengan seragam maid.

Ako berkedip.

Kemudian matanya menyipit.

“...Mio?”

Ia sendiri hampir tidak percaya dengan dugaannya.

Ako mendekat.

Pintu kaca kafe itu berada di samping tangga sempit. Dari balik kaca, ia bisa melihat interior yang didominasi warna putih dan merah muda. Meja-meja kecil berjajar rapi. Beberapa pelanggan laki-laki duduk sendirian dengan laptop, kamera, atau tas karakter anime yang digantung di kursi.

Di balik salah satu meja, seorang maid sedang membungkuk sambil tersenyum.

Rambut hitam panjang.

Mata yang besar.

Tubuh mungil.

Gerakannya sangat ringan.

Dan wajahnya—

Ako membeku.

Benar-benar Mio.

Namun rasanya seperti melihat orang lain menggunakan wajah yang sudah dikenalnya.

“Terima kasih sudah datang, Tuan. Kopi hari ini sedikit lebih pahit, jadi mungkin akan cocok dengan wajah serius Tuan.”

Pelanggan di depannya tertawa.

Mio ikut tertawa.

“Tapi jangan khawatir. Aku bisa membuatnya terasa lebih manis.”

Ia mengedipkan satu mata.

Pelanggan itu langsung tersipu.

Ako berdiri di luar kaca dengan mulut sedikit terbuka.

“...Apa-apaan?”

Mio bahkan tidak terlihat canggung.

Ia tidak terlihat seperti anak SMA yang sedang mencoba pekerjaan pertamanya.

Ia terlihat sangat profesional.

Tangannya bergerak cekatan ketika meletakkan cangkir.

Tubuhnya sedikit condong ketika mendengarkan pesanan.

Ia tahu kapan harus tersenyum, kapan harus tertawa, kapan harus menarik perhatian pelanggan, dan kapan harus pergi tanpa membuat mereka merasa diabaikan.

Bahkan ketika salah satu pelanggan memanggilnya dengan nada terlalu bersemangat, Mio hanya menoleh dengan ekspresi cerah.

“Ya, Tuan?”

“Bisa buat gambar hati di atas omurice?”

“Tentu.”

“Dengan tulisan juga?”

“Bisa.”

“Apa yang kamu tulis?”

Mio mendekat sedikit.

“Rahasia.”

Pelanggan itu tertawa malu.

Mio ikut tersenyum.

“Kalau mau tahu, harus pesan dulu.”

Ako menatapnya tanpa berkedip.

Ia mengenal Mio sebagai gadis yang terlalu menempel pada Naoya.

Gadis yang bisa memeluk lengan kakaknya hanya karena ingin diperhatikan.

Gadis yang kadang merengek kalau Naoya pulang terlambat.

Gadis yang bisa berdebat dengan Naoya soal hal-hal kecil seperti siapa yang harus mencuci piring.

Namun gadis yang sekarang berdiri di balik meja itu berbeda.

Atau mungkin—

Tidak berbeda.

Justru terlalu mirip.

Kecentilan itu.

Senyum yang mudah.

Cara memiringkan kepala.

Cara membuat seseorang merasa diperhatikan.

Semua itu pernah Ako lihat di rumah.

Hanya saja, di rumah, targetnya adalah Naoya.

Di sini, targetnya adalah pelanggan.

Ako mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Ia mendorong pintu kaca.

Bel kecil berbunyi.

Mio menoleh refleks.

Selama kurang dari satu detik, senyum maid itu masih berada di wajahnya.

Kemudian matanya bertemu mata Ako.

Waktu seperti berhenti.

Mio membeku.

Ako juga.

Keduanya saling menatap dari jarak beberapa meter.

Mio yang pertama bergerak.

Ia tersenyum lebih lebar.

Senyum profesional.

“Ohayou gozaimasu, Tuan Putri~.”

Ako hampir tersedak.

“...Apa?”

Mio berkedip.

“Tuan Putri ingin duduk di mana?”

Ako menatapnya tidak percaya.

“Jangan panggil aku begitu.”

“Ah, maaf.”

Mio menahan tawa.

“Selamat datang.”

“Jangan selamat datang juga.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak datang untuk—”

Ako berhenti.

Beberapa pelanggan mulai memperhatikan mereka.

Mio masih tersenyum.

Senyum yang sangat terlatih.

Namun Ako mulai mengenali tanda kecil di baliknya.

Ujung jarinya bergerak sedikit.

Tidak banyak.

Hampir tidak terlihat.

Tetapi Mio sedang gugup.

“Ayo duduk dulu,” kata Mio lembut.

Ako masih menatapnya.

“Jadi kamu benar-benar kerja di sini?”

“...Iya.”

“Sebagai maid?”

Mio mengangguk.

“Kelihatannya begitu.”

Ako memejamkan mata sebentar.

“Ya ampun.”

“Kenapa?”

“Kamu itu masih SMA.”

“Aku tahu.”

“Dan sekarang jam berapa?”

Mio melirik jam dinding.

“Hampir siang.”

“Jam sekolah.”

Mio terdiam.

Tidak ada jawaban.

Ako menatap seragam maid yang dikenakan gadis itu.

Kemudian tas sekolah yang ternyata diselipkan di sebuah kursi kecil dekat pintu belakang. Dari sudut tas tersebut terlihat ujung buku pelajaran.

Ako menghela napas.

“Kamu bolos?”

Mio langsung menggeleng.

“Tidak.”

Lihat selengkapnya