Sore di sharehouse selalu datang dengan cara yang pelan.
Di antara deretan toko buku tua, gang-gang sempit yang dipenuhi papan nama kecil, dan bangunan-bangunan yang sudah beberapa kali direnovasi namun tetap menyimpan bentuk lamanya, cahaya matahari mulai turun sedikit demi sedikit. Tidak ada perubahan besar yang bisa langsung dirasakan. Hanya bayangan gedung yang semakin panjang, suara sepeda yang lewat lebih jarang, dan udara musim panas yang mulai kehilangan panas paling tajamnya.
Di lantai dua sebuah sharehouse yang baru beberapa minggu ditempati Nagisa, jendela kamar terbuka setengah.
Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin.
Nagisa duduk sendirian di lantai dekat meja rendah.
Di hadapannya ada sebuah buku yang terbuka, secangkir teh yang sudah mulai dingin, dan beberapa lembar catatan kuliah yang belum selesai dirapikan.
Naoya sedang tidak ada.
Hari itu ia pergi ke kampus untuk urusan penelitian dan belum mengatakan secara pasti kapan akan pulang. Ako juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mio sendiri, menurut pesan singkat yang diterimanya pagi tadi, memiliki urusan sekolah.
Jadi untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Nagisa benar-benar sendirian di kamarnya.
Anehnya, ia tidak merasa kesepian.
Ia justru merasa nyaman.
Ia membaca satu paragraf.
Berhenti.
Mengulanginya.
Lalu tersenyum tipis karena tiba-tiba menyadari bahwa pikirannya sudah tidak lagi melompat ke mana-mana seperti dulu.
Tidak ada keinginan mendadak untuk menelepon Naoya hanya karena ia tidak tahu harus melakukan apa.
Tidak ada dorongan untuk bertanya sudah sampai mana, sedang bersama siapa, kapan pulang, atau apakah dia masih memikirkannya.
Ponsel yang diletakkan di samping cangkir teh tetap diam.
Nagisa meliriknya sekali.
Kemudian kembali membaca.
“Lumayan.”
Ia membalik halaman.
Kamar ini kecil.
Jauh lebih kecil daripada kamar di rumah tua Naoya.
Namun justru karena kecil, semuanya terasa jelas menjadi miliknya.
Rak buku.
Meja.
Lemari.
Seprai.
Kotak tempat menyimpan kosmetik.
Bahkan mug murah yang ia beli sendiri ketika pindah.
Dulu, ia akan melihat ruang seperti ini sebagai tempat sementara.
Sekarang ia mulai mengerti bahwa tempat sementara pun bisa menjadi rumah, selama dirinya sendiri ikut berada di dalam keputusan untuk tinggal di sana.
Nagisa meraih cangkir.
Tehnya sudah hampir dingin.
Ia mengerucutkan bibir.
“Lupa minum lagi.”
Ia bangkit, membawa cangkir ke dapur bersama di ujung lorong.
Namun sebelum sempat keluar kamar, bel pintu sharehouse terdengar.
Nagisa berhenti.
Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah dari tangga.
Ia tidak terlalu memperhatikan.
Mungkin penghuni lain.
Mungkin seseorang baru pulang.
Sampai terdengar ketukan pelan di pintunya.
Tok.
Tok.
Nagisa menoleh.
“Ya?”
Pintu dibuka sedikit.
Rambut hitam panjang muncul dari baliknya.
Kemudian sepasang mata yang sudah sangat dikenalnya.
“Boleh masuk?”
Nagisa berkedip.
“Mio?”
Mio tersenyum.
“Hai.”
Nagisa buru-buru berdiri.
“Kamu sendirian?”
Mio mengangguk.
“Iya.”
“Naoya?”
“Masih di kampus.”
“Dia tahu kamu datang?”
Mio menggeleng.
“Belum.”
Nagisa sedikit mengernyit.
“Kenapa tidak bilang?”
Mio mengangkat bahu kecil.
“Cuma sebentar.”
Ia kemudian mengangkat sesuatu yang sedari tadi disembunyikannya di balik tubuh.
Sebuah hiasan kecil berbentuk simpul kain, dengan ornamen sederhana yang tampak seperti jimat keberuntungan. Warnanya lembut, dengan tali merah tipis dan sebuah lonceng kecil yang hampir tidak bersuara ketika bergerak.
“Aku bawa ini.”
Nagisa menatap benda itu.
“Untuk apa?”
“Hadiah.”
“Untukku?”
Mio mengangguk.
“Buat kamar baru.”
Nagisa menerimanya.
Benda itu ringan.
Terlalu ringan untuk sebuah kunjungan yang entah kenapa tiba-tiba terasa lebih serius daripada seharusnya.
“Dari kuil?”
“Iya.”
“Kapan kamu ke sana?”
“Beberapa hari lalu.”
Nagisa membolak-balik jimat itu.
“Ada tulisan?”
“Katanya untuk ketenangan.”
Nagisa tersenyum.
“Terima kasih.”
Mio memasukkan kedua tangannya ke belakang punggung.
“Boleh kutaruh?”
“Boleh.”
Mio berjalan ke dekat jendela.
Ia mengamati beberapa tempat selama beberapa detik, lalu memilih sisi rak paling dekat meja belajar. Ia menggantung hiasan itu di sana.
Lonceng kecilnya berbunyi sangat pelan.
Ting.
Nagisa memandangnya.
Mio berdiri membelakanginya.
Untuk sesaat, siluet gadis itu diterangi cahaya sore dari jendela.
Ada sesuatu yang aneh.
Bukan pada bentuk tubuhnya.
Bukan pada wajahnya.
Hanya...
terasa seperti sesuatu yang pernah ia lihat di tempat lain.
Nagisa menepis pikiran itu.
“Bagus?”
Mio berbalik.
“Bagus.”
“Benar?”
“Iya.”
Nagisa duduk kembali.
Mio ikut duduk di seberangnya.
Meja rendah sekarang memisahkan mereka.
Tidak ada suara televisi.
Tidak ada suara Naoya dari ruangan lain.
Tidak ada Ako yang sesekali menyela pembicaraan dengan komentar bodohnya.
Hanya mereka berdua.
Dan tiba-tiba kamar itu terasa jauh lebih kecil.
Bukan karena ukuran.
Melainkan karena tidak ada orang lain yang bisa mengisi diam di antara keduanya.
Nagisa menuangkan teh ke cangkir kedua.
“Kamu mau?”
Mio mengangguk.
“Terima kasih.”
Nagisa mendorong cangkir ke arahnya.
Mio memegangnya dengan kedua tangan.
Uap tipis naik.
Ia memandang permukaan teh beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
“Kamar Kak Nagisa ternyata bagus.”
“Masih berantakan.”
“Tidak.”
Mio menatap rak.
“Kelihatan seperti kamar orang yang sudah tahu apa yang mau dia simpan.”
Nagisa tertawa kecil.
“Itu terdengar aneh.”
“Kenapa?”
“Karena aku sendiri masih sering bingung.”
Mio menatapnya.
Tidak tersenyum.
Nagisa baru menyadari.
“Apa?”
“Tidak.”
Mio menunduk lagi.
“Tidak apa-apa.”
Mereka berbicara tentang hal-hal kecil selama beberapa menit.
Tentang sharehouse.
Tentang makanan.
Tentang pekerjaan Nagisa.
Tentang kampus.
Tentang Ako yang katanya kembali mengeluh karena terlalu banyak tugas.
Mio bahkan sempat tertawa ketika Nagisa menceritakan bagaimana Ako pernah membeli tiga jenis roti hanya karena sedang diskon.
Percakapan itu ringan.
Normal.
Mio tampak santai.
Namun semakin lama, Nagisa mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah.
Mio beberapa kali memandang sudut kamar.