Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #75

Melepaskan

“Sekarang dia akan hidup.”

Kalimat itu masih menggantung di dalam kamar yang tenang tersebut.

Nagisa tidak mengulanginya. Ia juga tidak menambahkan janji-janji besar yang bahkan dirinya sendiri belum tentu mampu tepati. Untuk pertama kalinya sejak mengetahui seluruh kebenaran itu, ia hanya membiarkan kalimat sederhana tersebut berdiri apa adanya.

Mio yang duduk di hadapannya menatap wajah Nagisa cukup lama.

Tidak ada lagi ketegangan seperti sebelumnya. Tidak ada pula keinginan untuk memastikan berkali-kali bahwa Nagisa benar-benar mengerti. Hanya ada sepasang mata yang perlahan kehilangan kewaspadaannya.

Seolah-olah sesuatu yang selama ini terus ditahannya akhirnya menemukan tempat untuk diletakkan.

Nagisa memperhatikan perubahan itu tanpa bergerak terlalu banyak. Ia tidak ingin membuat momen tersebut menjadi lebih berat daripada yang seharusnya.

Ia hanya mengulurkan tangannya.

Jemari Mio yang berada di atas selimut bergerak sedikit sebelum akhirnya menerima tangan itu.

Hangat.

Begitu sederhana.

Namun entah mengapa, Nagisa merasa sentuhan tersebut seperti menyentuh seseorang yang sudah berjalan terlalu jauh sendirian.

“Jadi...” suara Mio terdengar sangat pelan. “Aku boleh percaya sama kamu?”

Nagisa mengangguk.

“Boleh.”

“Walaupun aku tidak ada nanti?”

Pertanyaan itu membuat dada Nagisa terasa sesak.

Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena ragu, melainkan karena ia tahu ada beberapa jawaban yang terlalu indah untuk diucapkan kepada seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan.

Akhirnya Nagisa menggenggam tangan itu sedikit lebih erat.

“Justru karena kamu mungkin tidak ada nanti, aku harus menjawabnya sekarang.”

Mio menatapnya.

“Aku akan hidup bersama Naoya dengan caraku sendiri,” lanjut Nagisa. “Aku akan belajar. Aku mungkin masih akan melakukan kesalahan. Mungkin aku masih akan egois. Mungkin aku masih akan menangis karena hal-hal kecil.”

Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Tapi aku tidak akan menjadikan dia alasan untuk menghancurkan diriku sendiri.”

Mio terdiam.

“Aku juga tidak akan menjadikan diriku alasan untuk menghancurkan hidupnya.”

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain dengung lembut pendingin ruangan.

Nagisa menarik napas perlahan.

“Jadi kamu tidak perlu terus berjaga.”

Mio berkedip.

“Tidak perlu terus takut kalau Naoya akan mati hanya karena kamu lengah satu hari.”

Jemari yang digenggam Nagisa terasa semakin ringan.

“Aku akan menjaganya.”

Nagisa berhenti sebentar.

“Dan aku juga akan menjagaku sendiri.”

Kalimat terakhir itu membuat Mio menundukkan kepala.

Bahunya bergerak kecil.

Nagisa sempat mengira ia menangis lagi.

Namun ketika wajah itu terangkat, tidak ada air mata.

Hanya senyum yang sangat tipis.

Senyum yang anehnya terlihat jauh lebih muda daripada biasanya.

“Kalau begitu...” Mio berbisik, “aku bisa istirahat sebentar, ya?”

Nagisa tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya mengangguk.

Mio memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar terlihat tenang.

Bukan ketenangan seseorang yang sedang menahan diri agar tidak runtuh.

Melainkan ketenangan seseorang yang akhirnya tidak perlu lagi menahan apa pun.

“Nagisa.”

“Ya?”

“Terima kasih.”

Nagisa menelan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokannya.

“Tidak perlu berterima kasih.”

Mio tersenyum kecil.

“Kalau begitu... sampai jumpa.”

Nagisa mengernyit.

“Sampai jumpa?”

Mio tidak menjawab.

Sesuatu telah berubah.

Bukan pada ruangan itu. Bukan pula pada cahaya sore yang masuk dari sela tirai. Namun Nagisa merasakan sesuatu yang sejak tadi berada begitu dekat dengannya perlahan menjauh.

Seperti hawa hangat yang meninggalkan telapak tangan setelah seseorang melepaskan genggaman.

Nagisa masih menggenggam tangan Mio.

Tetapi rasa yang tadi terasa begitu nyata perlahan memudar.

“Mio?”

Tidak ada jawaban.

“Mio...?”

Ia sendiri tidak tahu mengapa nama itu hampir terucap.

Nagisa menatap wajah di hadapannya.

Mio masih tersenyum.

Kemudian perlahan, sangat perlahan, ekspresi itu berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut.

Tidak lagi seperti seorang gadis yang selama berbulan-bulan memaksa dirinya menjadi adik terbaik bagi Naoya.

Tidak lagi seperti seseorang yang harus selalu tersenyum, selalu menunggu di depan pintu, selalu memastikan Naoya makan, tidur, pulang, dan tidak pergi terlalu jauh darinya.

Hanya seorang gadis yang akhirnya boleh lelah.

“Aku sudah melakukan semuanya, kan?”

Suara itu begitu pelan hingga Nagisa hampir mengira dirinya salah dengar.

Namun ia tahu.

Ia tahu pertanyaan itu bukan benar-benar ditujukan kepadanya.

Nagisa menggenggam tangan tersebut sekali lagi.

“Ya.”

Mio mengembuskan napas.

“Syukurlah.”

Lalu tubuh itu menjadi sangat ringan.

Kepala Mio perlahan jatuh ke bahu Nagisa.

Nagisa refleks menahannya.

“Mio?”

Tidak ada respons.

Ia menyentuh pipinya.

Masih hangat.

Denyut nadinya juga masih ada.

Namun sesuatu yang tidak terlihat telah pergi.

Nagisa tidak bisa menjelaskan bagaimana ia mengetahuinya.

Ia hanya tahu.

Keheningan yang tersisa bukan lagi keheningan yang sama.

Tidak ada lagi seseorang yang berdiri di balik mata Mio.

Tidak ada lagi kegelisahan yang selama ini membuat setiap senyum gadis itu terasa sedikit terlalu dipaksakan.

Tidak ada lagi sosok yang selalu berada beberapa langkah di depan takdir, berlari dengan kaki yang sudah lama kelelahan hanya karena takut melihat satu orang jatuh sekali lagi.

Nagisa memejamkan mata.

“Selamat jalan.”

Tidak ada jawaban.

Dan untuk pertama kalinya, Nagisa tidak merasa perlu mengejar.

Ia membiarkan kepergian itu terjadi.

Ia membiarkan jiwa yang selama berbulan-bulan memikul rasa bersalah, ketakutan, dan kehilangan itu beristirahat.

Lihat selengkapnya