Rumah sakit itu mulai tenang ketika sore bergeser menuju malam.
Cahaya dari jendela kamar rawat tidak lagi seterang beberapa jam sebelumnya. Langit di luar berubah menjadi biru kelabu, sementara lampu-lampu gedung di sekitar rumah sakit satu per satu menyala. Dari lorong terdengar langkah perawat yang sesekali lewat, suara roda troli, dan bunyi pintu otomatis yang membuka lalu menutup dengan suara pendek.
Nagisa duduk di kursi dekat ranjang.
Ia sudah berada di sana cukup lama.
Di atas meja kecil, ada dua botol air mineral, sebuah kantong plastik berisi makanan yang belum disentuh, dan ponselnya yang sejak tadi hanya sesekali ia periksa.
Nino masih tidur.
Setelah dokter melakukan pemeriksaan awal dan memastikan kondisinya tidak menunjukkan keadaan gawat yang membutuhkan tindakan darurat, gadis itu dipindahkan ke kamar rawat untuk observasi. Tubuhnya sangat lemas. Ia juga mengalami kebingungan yang belum dapat dijelaskan dengan cepat.
Nagisa tidak terlalu memahami istilah medis yang dipakai dokter.
Ia hanya mengerti satu hal.
Nino perlu beristirahat.
Dan untuk sementara, ia akan menunggu.
Nagisa memandang wajah gadis itu.
Ada perbedaan kecil yang masih terasa aneh.
Wajahnya tetap sama.
Rambutnya sama.
Tubuhnya sama.
Tetapi Mio sudah tidak ada.
Nama itu masih begitu dekat di kepalanya sehingga Nagisa terkadang hampir memanggilnya begitu ketika melihat gadis tersebut bergerak dalam tidur.
Namun sekarang ia tahu bahwa gadis yang terbaring di hadapannya memiliki nama lain.
Nino.
Nama yang selama ini entah bagaimana tidak pernah muncul dalam hidup mereka.
Nama yang ternyata sudah berada di dalam tubuh yang sama selama ini, menunggu begitu lama sampai seseorang akhirnya membiarkannya kembali.
Nagisa menyandarkan punggung ke kursi.
Ia menatap jam di dinding.
Hampir pukul enam.
Naoya pasti akan datang.
Ia tidak memberi tahu lelaki itu semua lewat pesan. Hanya mengatakan bahwa Mio sedang berada di rumah sakit dan kondisinya sudah ditangani dokter.
Ada beberapa hal yang belum sanggup ia tulis melalui layar.
Bukan karena ingin menyembunyikannya.
Nagisa hanya merasa bahwa sesuatu sebesar ini tidak seharusnya dijelaskan melalui beberapa baris pesan yang mudah salah dipahami.
Terlebih lagi, masih ada sesuatu yang mengganggunya.
Nino sendiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Nagisa belum tahu bagaimana cara menjelaskan bahwa orang yang selama ini ia kenal sebagai Mio telah pergi.
Dan bahwa gadis yang sekarang tidur di ranjang itu adalah seseorang yang bahkan tidak pernah mereka temui secara utuh.
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
Nagisa mengangkat kepala.
Pintu terbuka.
Sosok yang sangat dikenalnya muncul di ambang pintu.
“Maaf.”
Naoya masuk sambil membawa tas selempang di bahu.
Rambutnya sedikit berantakan. Kemejanya tidak serapi biasanya, dan ada bayangan lelah di bawah matanya seperti seseorang yang datang langsung setelah menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan.
Begitu melihat Nagisa, ia berhenti sebentar.
“Dia bagaimana?”
Nagisa berdiri.
“Masih tidur.”
“Dokter?”
“Mereka bilang kondisinya stabil. Cuma sangat lemas dan sedikit bingung waktu bangun.”
Naoya mengangguk.
Ia langsung berjalan menuju ranjang.
Langkahnya semakin pelan ketika melihat gadis yang sedang tidur di sana.
“Mio...”
Nama itu keluar begitu saja.
Nagisa memperhatikan.
Naoya berdiri di sisi ranjang.
Tangannya terangkat sedikit, lalu berhenti di udara sebelum akhirnya menyentuh pagar ranjang.
Ia tidak langsung menyentuh gadis itu.
Mungkin karena ada terlalu banyak perasaan yang bercampur di dalam dadanya.
Kelegaan.
Khawatir.
Dan sesuatu yang belum bisa ia namai.
“Dia kelihatan pucat.”
“Dokter bilang tubuhnya seperti sedang kehabisan tenaga.”
Naoya menatap wajahnya.
“Dia tidur terus?”
“Sebagian besar.”
“Bangun sekali.”
“Terus?”
“Dia haus. Lalu bertanya 'Nino ada di mana?'”
Naoya mengangguk pelan.
Kemudian sesuatu yang tampaknya baru ia sadari membuat alisnya sedikit berkerut.
“Kamu bilang tadi... namanya apa?”
Nagisa diam.
Ada jeda kecil.
“Nino.”
Naoya menoleh.
“...Apa?”
“Nino.”
“Siapa?”
Nagisa tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunjuk pelan ke arah gadis di ranjang.
“Namanya Nino.”
Naoya menatap wajah gadis itu lagi.
Seolah nama tersebut membutuhkan waktu untuk menemukan tempat di kepalanya.
“Nino...”
Ia mengulangnya sangat pelan.
“Kenapa kamu bilang namanya Nino?”
Nagisa menarik kursi lebih dekat.
“Karena waktu dia bangun, dia sendiri yang bilang begitu.”
Naoya menatapnya.
“Dia sadar?”
“Belum sepenuhnya.”
“Terus bagaimana kamu tahu itu benar?”
“Aku tidak tahu.”
Nagisa menghela napas.
“Tapi ketika aku menyebut nama itu, dia mengenalinya.”
Naoya kembali menatap gadis di depannya.
Ada sesuatu pada raut wajahnya yang berubah.
Sangat kecil.
Namun Nagisa bisa melihatnya.
Seperti ada sebuah pintu lama yang baru saja disentuh dari luar.
Nino.
Nama itu.
Mungkin seharusnya tidak berarti apa-apa.
Namun bagi Naoya, entah kenapa, nama tersebut terasa berat.
Ia duduk di sisi ranjang.
Tidak terlalu dekat.
Tangannya kemudian perlahan bergerak dan menyentuh rambut gadis itu.
“Nino...”
Suara itu hampir seperti bisikan.
Kelopak mata gadis tersebut bergerak.
Nagisa langsung menegakkan tubuh.
“Nino?”
Mata itu terbuka perlahan.
Tatapannya kosong selama beberapa detik.
Kemudian ia melihat Nagisa.
Lalu Naoya.
Ia berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Ekspresinya berubah menjadi bingung.
“...Kamu?”
Naoya membungkukkan tubuh sedikit.
“Aku di sini.”
Nino menatapnya.
Tidak ada pengenalan di matanya.
Tidak seperti saat seseorang melihat wajah yang sudah dikenal kemudian lupa nama.
Benar-benar tidak ada.
Ia hanya melihat seorang laki-laki muda yang tidak dikenalnya sedang duduk di samping ranjang.
“Siapa...?”
Naoya terdiam.
Pertanyaan sederhana itu entah kenapa terasa menusuk.
Ia tersenyum kecil agar suaranya terdengar ringan.
“Namaku Naoya.”
Nino berkedip.
“Naoya...”
“Iya.”
Gadis itu menatapnya lagi.
“Kenapa aku merasa...”
Ia berhenti.
Tangannya bergerak kecil di atas selimut.
“Aku seperti pernah kenal.”
Naoya menahan napas.
“Tidak apa-apa.”
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Nino masih memperhatikannya.
Kemudian, tanpa peringatan, bibirnya bergerak membentuk satu panggilan yang sama sekali berbeda dari yang selama ini didengar Naoya.
“Nii-san...”
Naoya membeku.
Nagisa juga.
Suasana kamar seketika menjadi hening.
Bukan karena kata itu keras.
Justru karena terlalu lembut.
Naoya menatap Nino.
“Kamu panggil aku apa?”
Nino tampak bingung dengan pertanyaan itu.
“Nii-san.”
Ia sendiri seperti tidak sadar mengapa kata itu keluar dari mulutnya.
Naoya tidak segera menjawab.
Sejak Mio datang ke kehidupannya, ia selalu mendengar satu panggilan.
Onii-chan.
Manja.
Hangat.
Kadang bahkan terlalu menempel.
Namun sekarang, dari mulut gadis yang sama, terdengar panggilan lain.
Nii-san.
Formal.
Lebih jauh.
Aneh.
Dan entah kenapa, justru terasa seperti sesuatu yang sangat tua.
Nino mengerutkan kening.
“Aku salah?”
Naoya cepat menggeleng.
“Tidak.”
Ia tersenyum.
“Tidak salah.”
Nino menatapnya lagi.
“Nii-san...”
Kali ini Naoya tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengusap kepalanya perlahan.
“Ya.”
Gadis itu tampak sedikit tenang.
Kemudian pandangannya mulai berat.
Nagisa langsung menyadarinya.
“Tidur saja.”
Nino mengangguk.
Namun sebelum matanya kembali terpejam, ia berkata sangat pelan,
“Ayah...”
Naoya berhenti mengusap rambutnya.
“Apa?”
Nino menatapnya dengan mata yang hampir tertutup.
“Ayah.”
“Siapa ayah?”
Nino mengangguk lemah.
“Takashi Matsumoto.”
Naoya membeku.
“Nino...”
Gadis itu tidak menjawab.
Napasnya kembali menjadi teratur.
Ia tertidur.
Naoya masih menatapnya.