Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #77

Perjalanan dan Kecanggungan yang Mencair

Pagi berikutnya datang tanpa sesuatu yang istimewa.

Langit di atas Tokyo berwarna putih pucat, udara masih menyimpan sisa kelembapan malam, dan stasiun di sekitar rumah sakit sudah dipenuhi orang-orang yang bergerak dengan langkah cepat seolah setiap menit memiliki harga masing-masing. Bagi kebanyakan orang, hari itu mungkin hanya salah satu hari kerja biasa.

Bagi Naoya, Nagisa, dan seorang gadis enam belas tahun yang baru saja kembali ke tubuhnya sendiri setelah empat bulan yang bahkan tidak dapat ia ingat dengan utuh, hari itu terasa seperti awal dari sesuatu yang belum mempunyai nama.

Nino sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit setelah pemeriksaan lanjutan menunjukkan kondisinya cukup stabil untuk dibawa pulang, dengan catatan ia tetap harus menjalani pemeriksaan berikutnya dan tidak melakukan aktivitas berat. Dokter juga mengingatkan bahwa kelemahan fisiknya tidak akan pulih dalam satu malam. Tubuhnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi setelah sekian lama berada dalam kondisi yang tidak bisa dijelaskan dengan sederhana.

Naoya tidak terlalu peduli pada istilah medisnya.

Yang ia pedulikan hanya satu.

Nino harus pulang.

“Jadi...” Nagisa menutup pintu kamar rawat setelah mereka bertiga keluar. “Kita beneran pergi hari ini?”

Naoya mengangguk.

“Takashi-san sudah dihubungi pihak rumah sakit.”

Nino berdiri di sampingnya sambil memegang tali tas kecil miliknya dengan kedua tangan. Tas itu sebenarnya bukan miliknya sendiri; pihak rumah sakit menyediakan beberapa barang seperlunya karena ia hampir tidak membawa apa-apa ketika ditemukan. Seragam dan pakaian yang dipakainya ketika dibawa ke rumah sakit sudah disimpan dalam kantong plastik.

Nino tampak canggung berada di tengah dua orang dewasa yang jauh lebih akrab satu sama lain.

Ia sesekali melihat Naoya, lalu Nagisa, kemudian segera menunduk lagi ketika sadar bahwa dirinya sedang memperhatikan.

“Boleh aku ikut?” tanyanya pelan.

Naoya menoleh.

“Kenapa nanya begitu?”

Nino sedikit terkejut.

“Karena... aku tidak mau merepotkan.”

Nagisa langsung tersenyum.

“Kamu nggak merepotkan.”

Nino mengangguk.

“Terima kasih.”

Naoya memperhatikannya beberapa detik.

Ada sesuatu yang terasa ganjil.

Bukan sesuatu yang buruk.

Justru sebaliknya.

Gadis ini sama sekali tidak seperti sosok yang selama ini ia kenal sebagai Mio.

Tidak ada panggilan manja.

Tidak ada tangan yang tiba-tiba menarik lengannya.

Tidak ada rengekan kecil karena Naoya terlalu lama berbicara dengan seseorang.

Nino bahkan meminta izin ketika ingin berjalan sedikit lebih dekat.

Ia meminta maaf ketika langkahnya melambat.

Ia berterima kasih ketika Naoya membawakan tasnya.

Semua gerakannya seperti seseorang yang sudah terlalu terbiasa memastikan keberadaannya tidak mengganggu orang lain.

Dan entah kenapa, hal itu membuat dada Naoya terasa sakit.

“Naoya-san?”

Naoya tersadar.

Nino berdiri di hadapannya sambil memegang botol air yang tadi diberikan kepadanya.

“Ya?”

“Ini...”

Ia mengulurkan botol itu.

“Aku sudah selesai.”

Naoya menerima.

“Kamu nggak perlu nyerahinnya kayak nyerahin barang penting.”

Nino tersenyum kecil.

“Maaf.”

Naoya terdiam sebentar.

“Jangan minta maaf terus.”

Nino berkedip.

“Eh?”

“Kalau nggak salah, ya nggak usah minta maaf.”

Nino menunduk sedikit.

“Iya.”

Nagisa melihat mereka dari samping.

Senyumnya tipis.

Ia tidak menyela.

Ada sesuatu yang perlahan terbentuk di antara keduanya, tetapi masih terlalu rapuh untuk disentuh secara langsung.

Mungkin Naoya belum tahu bagaimana menjadi kakak bagi seseorang yang baru dikenalnya.

Mungkin Nino belum tahu bagaimana rasanya memiliki kakak yang seharusnya sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.

Jadi untuk sementara, cukup membiarkan perjalanan itu dimulai.

Tanpa memaksa masa lalu untuk segera kembali.

--o--

Kereta menuju Yamanashi berangkat menjelang siang.

Mereka mendapatkan tiga tempat duduk yang bersebelahan. Nagisa duduk di dekat jendela, Nino di tengah, sementara Naoya berada di sisi lorong.

Nino awalnya duduk sangat tegak.

Kedua tangannya diletakkan di atas tas.

Punggungnya lurus.

Tatapannya sesekali keluar jendela, tetapi setiap kali kereta bergetar sedikit, bahunya menegang.

Naoya memperhatikan dari sudut mata.

“Kamu nggak nyaman?”

Nino cepat-cepat menggeleng.

“Tidak.”

“Kalau capek, bilang.”

“Iya.”

“Dan nggak usah duduk setegak itu.”

Nino menoleh.

“Begini?”

Ia sedikit bersandar ke kursi.

Naoya mengangguk.

“Lebih enak.”

Beberapa menit berlalu.

Nagisa membuka botol teh.

Ia minum sedikit, lalu menyodorkannya kepada Nino.

“Mau?”

Nino menggeleng sopan.

“Terima kasih.”

Nagisa tidak memaksa.

Kereta terus melaju meninggalkan Tokyo.

Bangunan-bangunan padat perlahan berganti menjadi kawasan pemukiman yang lebih rendah. Kemudian jalan-jalan panjang. Kemudian pepohonan.

Nino memperhatikan pemandangan itu dari jendela.

“Aku tidak ingat pernah pergi sejauh ini.”

Naoya menoleh.

“Kamu nggak ingat perjalanan apa pun?”

Nino menggeleng.

“Tidak banyak.”

Ia tampak sedikit ragu.

“Aku ingat sekolah.”

“Rumah.”

“Beberapa jalan yang sering kulalui.”

“Tapi setelah itu...”

Ia menekan ujung tasnya.

“Banyak yang kosong.”

Naoya tidak bertanya lebih jauh.

Ia teringat sesuatu yang dikatakan Nagisa di rumah sakit.

Jangan menuntut ingatan empat bulan itu.

Jangan memaksa seseorang mengingat sesuatu hanya karena orang lain ingin tahu.

Nino mungkin akan mengingatnya sendiri suatu hari nanti.

Atau mungkin tidak.

Dan itu bukan sesuatu yang harus dipaksakan sekarang.

Nagisa memecah keheningan.

“Kalau nggak ingat, nggak apa-apa.”

Nino memandangnya.

“Kak Nagisa...”

“Hmm?”

“Waktu aku bangun... kamu ada di sana.”

“Iya.”

“Berarti aku bisa percaya sama kamu?”

Nagisa tersenyum.

“Kamu nggak perlu langsung percaya. Pelan-pelan aja.”

Nino menatapnya sebentar, lalu mengangguk.

“Baik.”

Naoya mendengar percakapan itu.

Entah kenapa, ia merasa sedikit lega.

Ia tidak ingin dirinya menjadi orang yang terlalu banyak bicara kepada Nino. Gadis itu baru saja kehilangan empat bulan hidupnya, bahkan belum memahami keadaan keluarganya, dan sekarang harus melakukan perjalanan jauh hanya karena ada seseorang yang mengatakan bahwa di ujung perjalanan itu ada seorang pria bernama Takashi yang sedang menunggunya.

Semua itu terlalu banyak.

Jadi Naoya memilih melakukan sesuatu yang sangat sederhana.

Ia menggeser tas Nino yang hampir jatuh dari sisi kursi, lalu meletakkannya di antara kedua kaki gadis itu.

Nino menoleh.

“Terima kasih.”

“Nggak masalah.”

Beberapa saat kemudian, kereta melewati tikungan.

Tubuh Nino sedikit bergeser.

Tanpa sadar, bahunya menyentuh lengan Naoya.

Ia langsung menarik diri.

“Maaf.”

Naoya menatapnya.

“Kamu nggak perlu minta maaf.”

Nino menunduk.

“Refleks.”

Naoya diam.

Kemudian ia menggeser posisi tubuh sedikit agar bahunya lebih stabil.

“Kalau capek, sandarin aja.”

Nino mendongak.

“Boleh?”

“Boleh.”

Nino terlihat ragu beberapa detik.

Lihat selengkapnya