Pagi di K-Tech dimulai dengan ketenangan yang dibuat-buat.
Gedung utama perusahaan sudah dipenuhi orang bahkan sebelum pukul delapan. Lift bergerak naik turun tanpa henti, langkah sepatu bersahutan di atas lantai marmer, sementara layar-layar besar di lobi menampilkan grafik saham, berita industri, dan jadwal rapat yang berubah hampir setiap beberapa menit.
Namun semakin tinggi seseorang naik ke gedung itu, semakin sedikit suara yang tersisa.
Di lantai eksekutif, karpet tebal dan dinding berlapis kayu menelan hampir seluruh kebisingan dari luar. Bahkan suara pintu yang tertutup terdengar seperti sesuatu yang terjadi sangat jauh.
Ayase Tsuchiya duduk di balik meja kerjanya.
Beberapa dokumen terbuka di hadapannya.
Ringkasan Rapat Direksi bulanan.
Laporan perkembangan brand protection.
Proyeksi stabilitas rantai pasok.
Dan sebuah map tipis berwarna abu-abu yang tidak memiliki logo perusahaan.
Ayase menyelesaikan halaman terakhir laporan rapat terlebih dahulu.
Ia mencoret satu angka proyeksi yang menurutnya terlalu optimistis, memberi tanda pada dua poin mengenai stabilitas vendor chip domestik, kemudian menutup dokumen itu.
Barulah tangannya berpindah kepada map abu-abu.
Ia membukanya.
“Bagaimana laporan terbarunya?”
Asisten yang berdiri di samping meja menjawab dengan tenang.
“Tuan Naoya sudah kembali aktif mengikuti kegiatan akademik secara normal. Berdasarkan laporan terakhir dari pihak kampus, beliau sedang mengejar ketertinggalan dengan cukup intensif.”
Ayase membaca halaman pertama.
“Dan?”
“Tidak ada lagi indikasi ketergantungan finansial kepada pihak luar. Pengeluaran rumah tangga juga sudah dikelola sendiri.”
Ayase berhenti pada satu paragraf.
“Hubungan personal?”
Asistennya diam sepersekian detik.
“Lebih stabil.”
“Lebih stabil bagaimana?”
“Kobayashi Nagisa sudah tinggal terpisah dan kembali menjalani aktivitas akademik serta pekerjaan sambilan. Tidak ada laporan mengenai konflik domestik.”
Ayase mengangguk kecil.
Ia membalik halaman.
Ada satu kalimat yang membuat gerakan tangannya berhenti.
Naoya Tsuchiya secara konsisten menunjukkan kemampuan mengambil keputusan atas kebutuhan pribadi dan akademiknya tanpa menunggu arahan langsung dari pihak keluarga.
Ayase membacanya sekali lagi.
Kemudian menutup map.
“Dia masih tinggal di rumah lama?”
“Iya.”
“Sendirian?”
“Untuk sementara.”
Ayase menyandarkan punggungnya.
Rumah tua itu.
Tempat yang selama bertahun-tahun hampir tidak memiliki arti apa pun baginya.
Sebuah aset yang tidak produktif. Rumah yang tertinggal dari kehidupan lama mereka, terlalu penuh kenangan untuk dijual begitu saja, tetapi terlalu kosong untuk benar-benar disebut rumah.
Namun sekarang, justru tempat itulah yang menjadi pusat kehidupan baru Naoya.
Ironis.
Ia menghabiskan bertahun-tahun mengatur hidup anaknya dengan keyakinan bahwa dirinya sedang melindungi Naoya.
Dan ketika akhirnya ia berhenti mengatur, anak itu justru mulai berdiri.
“Hubungi dia.”
Asistennya mengangguk.
“Untuk siang ini?”
“Ya.”
“Perlu saya sampaikan agendanya?”
Ayase menutup map itu.
“Tidak perlu.”
Ia menatap pintu ruang kerjanya.
“Katakan saya hanya ingin bertemu dengannya.”
“Baik.”
Asistennya membungkuk kecil lalu meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup.
Ayase kembali sendirian.
Untuk beberapa saat, ia hanya duduk.
Di luar sana, K-Tech terus berjalan.
Tetapi di dalam ruangan itu, pikirannya berhenti pada satu orang.
Naoya.
Anak yang dahulu selalu berkata iya bahkan sebelum ia memahami apa yang diminta.
Anak yang meminta maaf bahkan ketika tidak melakukan kesalahan.
Anak yang menganggap membuat ibunya kecewa sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada membuat dirinya sendiri menderita.
Dan sekarang...
Ia akan datang kemari.
Bukan untuk meminta sesuatu.
Bukan untuk meminta maaf.
Melainkan karena ibunya memanggil.
Ayase tidak tahu apakah dirinya siap melihat perbedaannya secara langsung.
Namun beberapa jam kemudian, ketika ketukan terdengar dari pintu, ia tahu jawabannya.
Tok.
Tok.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
“Permisi.”
Naoya masuk.
Kemeja sederhana. Celana panjang gelap. Tas diselempangkan di bahu.
Tidak ada yang istimewa dari penampilannya.
Jika dilihat sekilas, ia hanyalah mahasiswa tingkat akhir yang datang menemui seorang eksekutif.
Namun Ayase memperhatikannya lebih lama.
Dulu, setiap kali masuk ke ruangan ini, Naoya selalu membawa sesuatu yang tidak terlihat.
Ketegangan.
Kewaspadaan.
Semacam kesiapan untuk menyesuaikan diri dengan suasana hati ibunya.
Bahu sedikit turun.
Jari-jari memainkan ujung tas.
Tatapan tidak pernah benar-benar bertahan lama.
Seolah bahkan udara di ruangan ini memiliki aturan yang harus ia patuhi.
Hari ini tidak ada semua itu.
Naoya berdiri tegak.
Tatapannya bertemu dengan mata Ayase.
“Maaf membuat Ibu menunggu.”
Ayase melirik jam di meja.
“Kamu datang tiga menit lebih awal.”
Naoya ikut melihat jam itu.
“Oh.”
“Jadi kamu tidak terlambat.”
“Baiklah.”
Ada senyum kecil di wajah Naoya.
Ayase hampir tidak mengenal ekspresi itu.
Bukan senyum seorang anak yang berusaha meredakan ketegangan.
Hanya senyum kecil karena percakapan mereka memang terdengar sedikit konyol.
“Duduk.”
“Ya.”
Naoya menarik kursi di hadapan meja.
Ia duduk dengan santai.
Tasnya diletakkan di samping kaki.
Tangannya tidak menggenggam ujung pakaian.
Tidak ada gerakan gelisah.
Ayase memperhatikannya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuka pembicaraan.
“Kamu terlihat lebih sehat.”
Naoya mengangguk.
“Beberapa waktu terakhir memang banyak berubah.”
“Sepertinya begitu.”
Ayase membuka satu dokumen.
“Saya mendapat laporan dari kampusmu.”
“Hmm.”
“Kamu sedang mengejar ketertinggalan.”
“Iya.”
“Berat?”
Naoya berpikir sebentar.
“Lumayan.”
Jawaban itu sederhana.
Tidak dilebih-lebihkan.
Tidak pula dikecilkan.
Ayase menatapnya.
Dulu jawaban semacam itu akan membuatnya bertanya lebih jauh.
Apa yang membuat berat?
Kenapa tidak bisa lebih baik?
Apa yang kamu lakukan selama ini?
Sekarang ia tidak melakukannya.
Ia hanya bertanya,
“Masih ingin menyelesaikannya?”
Naoya menjawab tanpa ragu.
“Iya.”
“Bukan karena saya?”
Naoya terdiam.
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.
Ia tidak segera menjawab.
Kemudian matanya terangkat.
“Bukan.”
Ayase menunggu.
“Kenapa?”
“Karena saya memang ingin selesai.”
Satu kalimat.
Tidak lebih.
Ayase menutup dokumennya.
“Setelah itu?”
“Belum tahu.”
“Kamu tidak punya rencana?”
“Punya beberapa kemungkinan.”
“Seperti?”
Naoya mengusap dagunya sebentar.
“Mungkin lanjut penelitian. Mungkin mencari pekerjaan yang masih berhubungan dengan sastra. Mungkin mencoba sesuatu yang lain.”
“Kamu tidak khawatir?”
Naoya tersenyum kecil.
“Dulu iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang saya pikir tidak semua hal harus diputuskan sekaligus.”
Ayase terdiam.
Ia mengenal anak ini selama dua puluh satu tahun.
Namun kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang baru.
Dulu Naoya hidup seolah masa depan adalah daftar keputusan yang harus disetujui seseorang.
Sekarang ia berbicara tentang masa depan sebagai sesuatu yang masih boleh tidak diketahui.
Ayase membuka laci di sisi mejanya.
Ia mengambil sebuah map tipis.
Kemudian meletakkannya di atas meja.
“Kalau begitu, ada sesuatu yang ingin saya lakukan.”
Naoya memandang map tersebut.
“Apa?”
Ayase membuka isinya.
“Saya akan melunasi seluruh sisa biaya sewamu.”
Naoya mengerutkan kening.
“Seluruhnya?”
“Ya.”
Ayase mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Seluruh sisa biaya sewa rumah. Bukan hanya bulan berjalan.”
Naoya melihat angka-angka yang tertera.