Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #79

Semua Menjadi Milik Mereka

Beberapa bulan kemudian, Universitas Tokyo kembali memasuki ritme yang berbeda.

Musim berubah tanpa menunggu siapa pun.

Udara pagi menjadi lebih dingin. Orang-orang mulai mengenakan mantel tipis ketika berangkat ke kampus. Kedai-kedai di sekitar Hongo kembali ramai pada jam makan siang, sementara dedaunan yang semula hijau perlahan berubah warna sebelum akhirnya jatuh satu per satu ke jalan setapak.

Di antara perubahan itu, ada beberapa hal yang tidak lagi sama.

Naoya Tsuchiya berhasil memulihkan status akademiknya.

Tidak dengan cara yang dramatis.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada pengumuman besar.

Hanya sebuah catatan administratif yang diperbarui, beberapa lembar evaluasi yang kembali memiliki tanda tangan resmi, dan daftar tugas yang akhirnya tidak lagi berwarna merah di sistem akademik.

Profesor pembimbingnya bahkan hanya mengatakan satu kalimat ketika Naoya menyerahkan laporan penelitian terakhir yang sudah direvisi.

“Sekarang saya tidak perlu khawatir kamu menghilang lagi.”

Naoya sempat tersenyum.

“Saya juga tidak berencana menghilang lagi, Sensei.”

Profesor itu mengangguk.

“Bagus. Kamu sudah cukup membuat pekerjaan administrasi kami bertambah.”

Kalimat itu terdengar seperti teguran.

Namun Naoya tahu ada nada lega yang tersembunyi di baliknya.

Ia membungkuk.

“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan memperbaiki semuanya.”

“Jangan berterima kasih dulu. Selesaikan.”

Naoya tertawa kecil.

“Iya.”

Dan kali ini, kata iya yang keluar dari mulutnya tidak terasa seperti pengakuan kalah.

Itu hanya jawaban sederhana kepada seseorang yang memang sedang membantunya melakukan sesuatu yang ingin ia selesaikan.

Penelitiannya belum sempurna.

Catatan akhirnya masih dipenuhi coretan.

Buku-buku sastra kuno yang ia pinjam dari perpustakaan dan buru-buru ia cari menumpuk di kamar, sebagian diberi penanda warna, sebagian lagi dipenuhi sticky notes kecil milik Nagisa yang ditulis dengan tulisan tangan yang kadang terlalu besar.

Namun semuanya bergerak maju.

Pelan.

Konsisten.

Dan yang paling penting, Naoya kini tahu bahwa ia bisa berhenti sejenak tanpa menganggap jeda sebagai kegagalan.

Kehidupan akademiknya tidak kembali persis seperti sebelum semuanya kacau.

Mungkin memang tidak perlu.

Ia justru merasa catatan yang sekarang ia bangun lebih jujur daripada yang dulu.

Tidak ada lagi keinginan menjadi mahasiswa yang sempurna hanya karena itu yang diharapkan seseorang.

Ia ingin lulus.

Ia ingin menyelesaikan penelitian.

Ia ingin melihat apa yang ada setelahnya.

Dan untuk pertama kalinya, semua itu benar-benar miliknya.

Di Yamanashi, kehidupan Nino juga mulai menemukan bentuknya kembali.

Sekolah sempat terasa seperti tempat asing ketika pertama kali ia kembali.

Beberapa guru memperlakukannya dengan hati-hati. Beberapa teman sekelas tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah Nino menghilang selama berbulan-bulan. Ada juga anak-anak yang hanya tahu cerita simpang siur dan memilih tidak bertanya karena merasa terlalu canggung.

Nino sendiri tidak memaksa dirinya untuk segera kembali seperti dulu.

Ia menjalani hari demi hari dengan tenang.

Datang ke sekolah.

Pulang.

Mengerjakan tugas.

Kadang membantu Takashi di rumah.

Kadang duduk terlalu lama di depan jendela sambil berusaha mengisi celah-celah dalam ingatannya yang tetap kosong.

Ada beberapa kenangan yang kembali.

Tidak banyak.

Suatu hari ia tiba-tiba ingat aroma kapur kelas.

Hari lain, ia teringat warna pita rambut yang pernah diberikan seorang teman.

Pernah juga ia terbangun pagi-pagi hanya karena merasa sudah mendengar suara seseorang memanggil namanya dari dapur.

Namun tidak semuanya kembali.

Dan keluarga kecil itu mulai belajar menerima bahwa tidak semua bagian yang hilang harus dipaksa untuk pulang.

Takashi menjadi orang yang paling berhati-hati dalam hal itu.

Ia tidak pernah bertanya, “Kamu sudah ingat?”

Ia lebih sering bertanya,

“Sudah makan?”

Atau,

“Besok mau diantar?”

Atau,

“Tugas sekolahmu banyak?”

Hal-hal biasa.

Justru karena biasa, Nino merasa nyaman.

Setiap beberapa minggu, Nino dan Takashi datang ke Tokyo untuk mengunjungi Naoya.

Kadang mereka membawa hasil masakan rumah.

Kadang hanya membawa beberapa buah dari Yamanashi.

Pernah sekali Takashi membawa ikan hasil pancingannya sendiri dalam kotak pendingin kecil dan membuat Naoya kebingungan karena lelaki itu bersikeras bahwa ikan tersebut “lebih enak daripada apa pun yang dijual di Tokyo”.

Nino biasanya duduk di ruang tamu sambil mengerjakan tugas.

Naoya membaca di meja.

Takashi memperbaiki sesuatu yang rusak.

Tidak ada percakapan besar.

Namun setiap kali melihat mereka berada di rumah tua itu, Naoya selalu merasa ada sesuatu yang perlahan terjalin kembali.

Hubungan yang dahulu putus bukan karena mereka saling memilih untuk pergi.

Hanya karena kehidupan memaksa mereka tumbuh di tempat yang berbeda.

Suatu sore, ketika Takashi sedang memperbaiki engsel pintu belakang, pandangannya berhenti pada sebuah bekas goresan kecil di kayu.

Ia tersenyum sendiri.

“Nino dulu suka menandai tinggi badannya di sini.”

Naoya menoleh.

“Serius?”

“Iya.”

Takashi menyentuh garis-garis pensil yang hampir pudar.

“Waktu kecil dia selalu bilang nanti pasti lebih tinggi dariku.”

Nino yang sedang duduk di dekat meja langsung menyela.

“Aku masih bisa.”

Takashi menoleh.

“Sekarang tinggi kamu tetap segini.”

“Masih bisa tumbuh.”

Naoya tertawa.

“Biarin dia punya harapan.”

Nino melihat Naoya.

“Nii-san membelaku?”

“Tentu.”

Takashi menggeleng sambil tersenyum.

“Sekarang kalian berdua sudah satu kubu.”

Naoya tidak menyangkal.

Ada kehangatan kecil di dadanya ketika mendengar itu.

Nino memang tidak menjadi seseorang yang mengambil tempat Mio.

Ia menjadi Nino.

Dan justru karena itu, Naoya bisa menyayanginya tanpa harus mencari-cari jejak orang lain di dalam dirinya.

Kadang, ketika Nino datang ke Tokyo, mereka berjalan bertiga di sekitar kampus.

Nino masih sesekali memanggilnya “Nii-san” dengan nada sopan yang membuat Naoya geli.

“Kenapa tidak panggil onii-chan saja?”

Nino menatapnya.

“Memangnya beda?”

“Entahlah.”

“Kalau begitu aku tetap Nii-san aja.”

“Kenapa?”

“Karena aku suka.”

Naoya hanya bisa tertawa.

Sesederhana itu.

Tidak ada keharusan untuk mengubahnya.

Takashi masih menyimpan banyak barang lama dari masa pernikahannya dengan Ayase di rumah Yamanashi. Beberapa buku lama. Foto yang sudah pudar. Sebuah mug yang ujung pegangannya retak.

Ia tidak pernah menyembunyikan keberadaan benda-benda itu dari Nino.

Namun ia juga tidak pernah memaksa masa lalu untuk menjadi topik.

Mungkin karena ia tahu bahwa cinta kadang bukan sesuatu yang harus terus dibicarakan.

Cukup disimpan dengan baik.

Tidak perlu menjadi luka.

Sementara itu, Nagisa tumbuh dengan cara yang jauh lebih sederhana daripada yang pernah ia bayangkan.

Ia masih bekerja di Salsa Diner.

Bukan lagi karena terpaksa.

Bukan karena harus membayar kebutuhan mendesak.

Ia memang menyukai pekerjaan itu.

Ada sesuatu yang memuaskan ketika ia bisa berdiri berjam-jam, mencatat pesanan, membawa makanan, dan menyelesaikan pekerjaannya dengan hasil yang bisa dilihat langsung di depan mata.

Satoshi, manajer restoran, tidak pernah terlalu banyak memujinya.

Namun sekarang ia sering mengatakan,

“Bagus.”

Atau,

“Lebih cepat.”

Atau,

“Jangan lupa istirahat.”

Bagi Nagisa, itu sudah lebih dari cukup.

Di kampus, ia tetap menyelesaikan penelitiannya.

Kadang sulit.

Kadang ia terlalu lelah setelah bekerja.

Kadang ia membaca satu halaman tiga kali karena pikirannya tidak berada di sana.

Namun ia belajar menghentikan dirinya sendiri sebelum semuanya berubah menjadi kepanikan.

Ia membuat jadwal.

Membatasi jam kerja.

Menaruh ponsel jauh ketika belajar.

Dan ketika ia benar-benar tidak sanggup, ia mulai belajar mengatakan,

“Besok saja.”

Lihat selengkapnya