Angkat Koper, Angkat Tangan

Bi Bluu
Chapter #1

Kesepakatan

Suara mesin mobil yang mendadak mati meninggalkan keheningan janggal dan berat di halaman rumah nomor 44.

Rumah tua bergaya kolonial-tropis itu berdiri kaku di balik pagar besi yang sudah digerogoti karat, tampak merana seperti sisa-sisa kejayaan masa lalu yang enggan mati. Dinding cat putihnya yang mengelupas di sana-sini menyerupai kulit kusam meratap minta diperhatikan. Atap genteng tanah liatnya melengkung turun di sisi kiri, memberikan kesan tragis seolah bangunan tua itu sedang bersiap untuk roboh secara perlahan—atau setidaknya sedang bersandar meluapkan lelah.

Pak Suroso mematikan kontak kunci mobil. Tangannya yang memegang kemudi sempat bergetar tipis sebelum akhirnya ia mengepalkannya kuat-kuat, merapikan kemeja berkerahnya yang kini terasa makin mencekik.

Dulu, di rumah lama mereka yang berdiri megah di kompleks perumahan elit bernuansa modern, Suroso adalah sosok eksistensi yang gaib. Ia adalah bayangan yang menguap sebelum matahari terbit dan baru berwujud kembali saat seluruh penghuni rumah sudah tertidur pulas. Selama lima belas tahun, ia mendefinisikan dirinya sebagai "kepala keluarga pencari nafkah sejati." Ia percaya, semakin sedikit waktunya di rumah, semakin membuktikan betapa keras ia bekerja membiayai hidup anak dan istrinya.

Namun, di dalam kabin mobil yang kini mengembun pelan, Suroso sadar: masa-masa penyamaran itu sudah habis. 

Surat PHK dari tempatnya bekerja sebagai supervisor dua bulan lalu, ditambah keputusan gegabah menginvestasikan sisa dana pesangonnya ke dalam skema perdagangan saham abal-abal yang menguap dalam semalam, telah melempar harga dirinya ke titik terendah. Rumah lama dijual cepat demi menutup hutang, dan rumah sewaan tua yang harga sewanya setara dengan uang jajan bulanan ini adalah satu-satunya benteng pertahanan tersisa yang mampu ia bayar secara tunai.

"Pah... ini beneran rumah baru kita?" suara Bu Endang memecah keheningan. Tonasi suaranya datar, tetapi sarat akan ketidakpercayaan yang tajam.

Jemarinya yang biasanya dihiasi cincin emas bermata berlian—yang kini sudah tenang mendekam di rak tempat pegadaian—meremas ujung dasternya yang dilapisi jaket tipis. Bertahun-tahun hidup dalam gelimang kenyamanan, cara Endang bertahap mengatasi rasa sepi akibat ditinggal Suroso bekerja adalah dengan mengoleksi barang-barang mahal, rutin mengikuti arisan sosialita kompleks, dan memamerkan setiap detail keharmonisan semu keluarganya di media sosial. 

Kini, melihat halaman rumah sewaan yang ditumbuhi rumput liar setinggi lutut, ada rasa perih yang menghantam dadanya.

"Bagus, kan?" Suroso berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin, meski tenggorokannya mendadak sekering padang pasir. Ia mencoba tertawa kecil, walau suara tawa itu lebih terdengar seperti batuk tersedak. "Klasik. Model vintage begini sekarang lagi tren di Jakarta. Kayunya jati tua asli, bukan bahan serbuk kayu press kayak rumah perumahan jaman sekarang. Lagian, udara di sini lebih sejuk."

"Sejuk apa angker?" cetus Dodi dari kursi belakang.

Dodi, 21 tahun, duduk bersandarkan ransel dengan hoodie hitam yang seakan menelan seluruh tubuhnya. Mata merahnya yang kurang tidur menatap tajam ke arah atap rumah baru mereka. Dodi adalah produk nyata dari sebuah keluarga yang sibuk tenggelam dalam urusannya masing-masing. Di mata Suroso, Dodi adalah anak pemalas yang cuma bisa menghabiskan uang semesteran dan melakukan hal tidak berguna di depan layar laptop. Di mata Endang, dengan IPK yang terancam meluncur bebas ke jurang drop out, Dodi adalah kekecewaan mutlak yang gagal dipamerkan di depan teman-teman arisannya.

Namun bagi Dodi sendiri, ia hanyalah seorang anak yang tak pernah merasa dianggap ada. Rumah baginya bukanlah tempat pulang, melainkan gelanggang di mana ia terus-menerus menjadi objek perbandingan.

"Hush, jaga mulutmu," potong Suroso keras sambil menatap anaknya melalui kaca spion tengah. "Kamu ini… ngomongnya masih aja ngelantur soal hal-hal mistis nggak jelas. Turunin barang-barang dari bagasi sekarang!"

"Lagian aneh," gumam Dodi pelan sambil membuka pintu mobil. "Harga semurah ini di pinggiran kota... kalau bukan bekas tempat pesugihan, ya minimal ada mantan penghuninya yang masih 'ketinggalan' di dalem."

"Dodi! Jangan bikin Mama tambah kepikiran ya!" jerit Endang panik.

Lihat selengkapnya