Keesokan harinya, pusing di kepala Suroso bukannya hilang, malah makin menjadi-jadi. Sensasinya mirip seperti habis naik komedi putar sepuluh putaran lalu dipaksa mengisi SPT pajak secara manual. Setiap kali ia berdiri agak cepat dari kursi, pandangannya langsung berkunang-kunang dan kepalanya terasa melayang bagai balon gas lepas kendali.
"Pasti gara-gara belum ngopi ini," gumam Suroso sambil mengusap tengkuknya yang tegang. "Apaa… efek mendadak miskin, gini kali ya."
Pagi itu, Suroso punya misi besar: memoles rumah tua ini agar terlihat keren, canggih, dan hype—sekaligus membuktikan kepada anak-istrinya kalau keputusan menyewa rumah tua ini adalah langkah jenius tingkat dewa. Berbekal kardus cokelat berisi perangkat-perangkat smart home murah merek antah-berantah yang ia beli saat promo flash sale di marketplace, Suroso berdiri gagah di tengah ruangan bagai seorang insinyur masa depan.
Di dalam kardus itu ada tiga buah bohlam lampu pintar, satu speaker pintar buatan lokal yang harganya bahkan tak sampai dua ratus ribu rupiah, dan satu kamera CCTV nirkabel bekas yang dusnya sudah penyok.
Dodi keluar dari kamar sambil menyeret langkahnya bak zombie kelaparan. Penampilannya sungguh tragis; kerah kaos oblongnya melorot sebelah, rambutnya mirip sarang burung ditinggal migrasi, dan matanya merah menyala. Sambil bertumpu lesu pada kusen pintu, wajahnya ditekuk penuh penderitaan.
"Pa, ini rumah kayaknya sirkulasi udaranya busuk banget deh. Tidur semalaman bukannya seger, malah berasa kayak habis dikeroyok massa. Asli, pusing sama sesak banget ini dada," omel Dodi dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Itu karena kamu tidur sambil main HP terus sampai subuh!" sahut Suroso cepat, menolak dipersalahkan. "Lagian otak kamu tuh kaget, kurang adaptasi sama udara rumah baru. Udah, nih bantuin Papa. Jangan cuma males-malesan aja. Anak muda tuh harus produktif, bukan kayak maggot!"
Suroso mengeluarkan bohlam pintar berwarna putih mengkilap dari dusnya. "Lihat nih. Biar rumah tua, tapi teknologinya harus next level. Papa mau ubah rumah ini jadi Smart Home. Nanti semua lampu, speaker, sampai pengawasan rumah bisa dikontrol pakai HP Papa. Keren, kan?"
Dodi menatap bohlam murah di tangan ayahnya dengan pandangan skeptis penuh keheranan.
"Papa beli lampu gituan di mana sih? Mereknya aja 'Sinar Abadi Tech', typo lagi tulisannya di dus—'Sinar Abadi Tekh'. Yakin nggak bakal bikin korsleting, Pa? Rumah tua begini instalasi listriknya juga pasti udah kayak cacing pita, awut-awutan."
"Halah, sok tahu kamu. Ini teknologi Eropa, dirakit di Cikarang," kelakar Suroso ngasal sambil memanjat kursi kayu tua untuk mengganti bohlam utama ruang tengah.
Endang muncul dari arah dapur membawa mangkuk berisi bubur ayam. Rambutnya digelung asal-asalan dengan jepit badai plastik warna pink menyala. Wajahnya lesu, kulitnya pucat, dan botol minyak kayu putih sudah standby di genggaman kirinya bagai senjata pamungkas.
"Pah, tadi pas aku masak air di dapur, kok aromanya aneh ya?" adu Endang sambil mengaduk-aduk buburnya tanpa selera. "Bukan bau gas elpiji mau meledak sih, tapi bau... aneh gitu. Bikin enek. Terus kepalaku dari tadi muter-muter. Jangan-jangan rumah ini ada penunggunya, Pah. Tadi Mbak Yayuk tetangga depan bilang, dulu rumah ini pernah kosong lima tahun gara-gara—"
"Mahh, tolong ya," potong Suroso dari atas kursi, menghela napas berat yang terasa menghimpit dadanya. "Kita baru semalam di sini. Kebiasaan deh, omongan tetangga diamini mulu kayak kitab suci. Kamu itu pusing karena telat makan, bukan karena hantu. Dodi aja yang masih muda pusing gara-gara begadang nonton anime. Semuanya tuh ada alasan logisnya!"
"Tapi Pah, beneran loh, dada Mama kerasa deg-degan dari tadi..." gumam Endang pelan. Ia lalu duduk menyendiri di meja makan sambil memoleskan minyak angin ke seluruh lehernya sampai mengkilap seperti bebek panggang.
Suroso menepis perasaan janggal di dadanya sendiri. Sebenarnya, dadanya juga terasa agak sesak sejak tadi pagi, dan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Tapi sebagai kepala keluarga yang gengsinya setinggi Kilimanjaro, ia pantang memperlihatkan kelemahan.
Clek.