Siang beranjak sore, tetapi suasana di dalam rumah nomor 44 justru terasa makin rapat dan mencekam. Udara di dalam ruangan terasa begitu tebal dan berat, seolah-olah tumpukan debu, ketakutan, dan kelembaban bertahun-tahun telah mengental menjadi kabut tipis yang tak kasat mata. Setiap kali bernafas, ada rasa hangat yang agak menyengat di dasar tenggorokan—sejenis sensasi pengap yang membuat dada terasa seperti ditindih papan kayu jati tua.
Suroso duduk di kursi kayu tengah sambil memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut tanpa henti bagai dipukuli palu godam secara berkala. Rasa pusing yang menyerangnya sejak pagi bukannya mereda, malah kini disertai rasa mual tipis yang terus berputar di perutnya. Pandangannya beberapa kali kehilangan fokus; huruf-huruf di layar ponselnya tampak mengabur dan membayang ganda.
"Pasti karena belum pasang AC ini," gumam Suroso pada dirinya sendiri, menolak mentah-mentah memikirkan penyebab lain. "Rumah tua gini kalau pintunya ditutup terus, sirkulasinya memang bikin pengap. Beda sama rumah lama yang airflow-nya dirancang arsitek lulusan ITB."
Namun, di balik rasa pusing dan ketidaknyamanan yang terus menggerogoti fisiknya, gengsi Suroso jauh lebih tinggi daripada puncak Gunung Everest. Kejadian lampu pintar yang berkedip brutal mirip klab malam tadi pagi benar-benar mencoreng wibawanya sebagai kepala keluarga yang berpendidikan dan rasional. Ia harus membuktikan bahwa teknologi yang ia bawa bisa berfungsi sempurna, bukan malah membawa petaka.
Dengan nafas yang sedikit memburu, Suroso membuka kardus berikutnya. Kali ini, ia mengeluarkan sebuah perangkat berbentuk silinder hitam kecil berbahan plastik agak ringkih. Speaker pintar. Perangkat berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang ia beli setengah harga dari promo cuci gudang.
"Mama! Dodi! Sini sebentar! Lihat karya peradaban modern ini!" panggil Suroso dengan suara sedikit serak, mencoba terdengar bersemangat walau mukanya sudah sepucat tahu putih.
Dodi keluar dari kamar mandi sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Wajahnya yang pucat terlihat makin lesu, lingkaran hitam di bawah matanya tampak kian menebal menyerupai panda yang kelaparan.
"Apa lagi sih, Pa? Dodi makin mual nih. Kepala rasanya kayak diremas-remas gorila. Mau tidur juga nggak bisa, dada sesak banget," omel Dodi sambil bertumpu pada meja.
Endang mengekor dari balik tirai dapur, menyemprotkan minyak angin aromaterapi ke telapak tangannya lalu menghirupnya dalam-dalam dengan ekspresi teler.
"Iya nih, Pah. Dari tadi kelopak mataku rasanya berat banget, tapi tiap mau merem, jantungku malah deg-degan kenceng. Kayak orang kena serangan panik gara-gara ditagih paylater. Mending kita keluar sebentar yuk, cari udara segar di teras?"
"Halah, kalian berdua ini lebaynya dipelihara!" potong Suroso sambil menggelengkan kepala, walau dadanya sendiri sebenarnya berdebar tidak teratur bak drummer band metal. "Itu paling gara-gara tubuh belum adaptasi sama suhu udara baru di sini. Nih, mending lihat! Papa mau pasang speaker pintar. Nanti kalau mau denger lagu atau tanya berita, tinggal panggil pakai suara aja. Tinggal ngomong, beres!"
Dodi mendekat, menatap alat silinder hitam di atas meja dengan tatapan sinis mendalam.
"Pa, alat begini kan butuh mikrofon sensitif sama Wifi stabil. Orang Wifi rumah kita aja belum dipasang, cuma modal tethering HP Papa yang sinyalnya naik-turun kayak emosi Mama. Nanti mah ujung-ujungnya error lagi."
"Ini ada fitur offline mode-nya, Dod! Kamu itu sekolah tapi kok kurang update banget sih, tiru nih Papa jadi manusia modern" seloroh Suroso ngasal, padahal ia sendiri sama sekali tidak paham isi buku petunjuknya yang berbahasa Mandarin.
Suroso mencolokkan kabel adaptor speaker itu ke stopkontak dinding di dekat meja.
Bzzzt!
Suara sengatan listrik kecil terdengar tajam, membuat Suroso terlonjak kaget sampai piring plastik ganjalan kursi bergeser. Lampu indikator melingkar di atas speaker itu menyala redup, berwarna kuning buram yang menyedihkan.
"Nah, nyala kan? Canggih ini!" Suroso tersenyum bangga. Ia merapikan duduknya, berdehem keras demi memunculkan wibawa, lalu mencondongkan badan ke arah speaker.
"Halo... Gugel!"
Speaker itu diam. Lampu kuningnya hanya berkedip lambat.
"Halo... Ok Gugel!" panggil Suroso lagi, kali ini dengan nada lebih keras dan penuh nada otoriter.
Tetap hening. Hanya ada suara angin sepoi-sepoi yang bertiup di luar.