Angkat Koper, Angkat Tangan

Bi Bluu
Chapter #4

Ketukan dari Alam Lain

Sinar hangat berwarna jingga keemasan menggantung rendah di ufuk barat menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di halaman depan. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, Suroso merasa kepalanya mulai mendingin. Dengung menyiksa yang mengikat tempurung kepalanya seolah menguap bertahap, menyisakan helaan nafas lega yang panjang.

Langkahnya tertambat di halaman depan, membiarkan gemercik dari selang hijau di tangannya menghidupkan kembali tanaman hias peninggalan pemilik lama. Di sisinya, sedan kesayangan dari awal tahun 2000-an terparkir sunyi, berkilau basah terkena cipratan air—seolah menjadi saksi bisu terakhir dari sisa kebanggaan yang dia bawa ke rumah baru ini.

"Sore, Pak Suroso! Rajin amat jam segini masih sempat siram-siram!"

Suroso menoleh, dengan senyum lebar paling ramah dan penuh wibawa yang ia punya. Di balik pagar besi yang berkarat, Bu Yayuk—tetangga depan rumah yang terkenal sebagai 'pusat server informasi kelurahan'—berdiri sambil menenteng tas belanjaan plastiknya.

"Eh, Bu Yayuk. Iya nih, mumpung sore biar tanamannya segar sekalian," ujar Suroso, memasang gestur tegap yang dipaksakan. Ia mematikan kran air, lalu melangkah mantap mendekati pagar. "Kalau sedikit diurus kan jadi enak dilihat. Biar kata rumah vintage, kalau kita telaten merawatnya pasti kelihatan kayak resort mahal."

"Alah, resort dari mananya, Pak," Bu Yayuk terkekeh, matanya menyipit penuh selidik menatap ke arah pintu depan rumah Suroso yang terbuka lebar. "Tapi jujur ya, Pak... Saya salut sama keluarga Pak Suroso. Betah betul. Penghuni sebelum Sampean cuma bertahan tiga hari. Katanya kalau malem suka dengar suara-suara aneh. Hawa rumahnya juga dibilang 'gelap' banget, bikin merinding." 

Tawa renyah yang dipaksakan menyembur dari mulut Suroso saat ia menyilangkan tangan di dada, memancarkan rasa percaya diri yang tinggi. "Ah, Bu Yayuk ini ada-ada aja. Itu mah cuma mitosnya orang-orang yang percaya takhayul. Rumah tua kalau dibiarkan kotor ya wajar hawanya agak lembab, Bu. Asalkan nanti sudah disapu bersih, setan juga sungkan mau mampir."

Sementara itu, beberapa meter di belakang Suroso, Endang sedang meniti langkah menuju tukang sayur keliling yang mangkal di sudut gang. Begitu kakinya keluar menembus pintu pagar, rasanya ada beban seberat puluhan kilogram yang terangkat dari dadanya. Mual yang menggulung perutnya mereda, dan rasa tajam di belakang matanya mendadak lenyap.

"Eh, Bu Endang! Penghuni baru nomor 44, ya?" sapa seorang ibu berdaster merah yang sedang memilih terong.

"Iya, Bu... Saya Endang," sahut Endang sambil melempar senyum manis ala sosialita kompleks. Ia menyenggol lengan Bu Yayuk yang baru saja bergabung di lapak sayur. "Bu, saya mau nanya deh... Di rumah itu, kalau malam emang suka kedengaran bunyi yang aneh-aneh, ya?" 

Kasak-kusuk di depan gerobak sayur itu mendadak senyap. Tangan-tangan yang tadi lincah memilah cabai dan sayuran mendadak berhenti di udara, menyisakan ketegangan yang mencekam dalam sekejap.

"Lho, Bu Endang belum tahu?" bisik Bu Yayuk setengah berbisik. "Dulu kata sesepuh sini, di bawah fondasi rumah itu... Pernah ada yang nanam 'sesuatu' buat penolak bala. Makanya rumah itu dinginnya beda, sering juga ada suara aneh dari bawah lantai!"

Jantung Endang serasa merosot ke tumit. Nyalinya langsung menciut drastis. Minyak angin di saku dasternya seperti memanggil-manggil untuk diusap. "Kayak... suara ketukan dari bawah lantai gitu, Bu?"

"Iya! Ketukan misterius! Kadang kayak orang lagi ngirim kode Morse dari kubur!" cericit tetangga lain menambah bumbu cerita.

Endang menyambar sisa belanjaannya dengan kalap, tak lagi memikirkan uang kembalian dua ribu rupiah atau sopan santun. Ia bergegas angkat kaki dengan langkah seribu, mengunci rapat-rapat misteri ketukan lantai itu di sudut benaknya yang paling gelap. 

Sementara di warung kopi depan gang, Dodi duduk bersandar di kursi plastik. Asap kopi hitam mengepul dari cangkirnya. Laptopnya terbuka, terhubung ke jaringan Wi-Fi gratis warkop yang melaju kencang. Berada di luar rumah membuat kabut tebal di otaknya sirna seketika; jari-jemarinya bergerak lincah menelusuri forum-forum misteri internet.

"Bro, lu ngapa dah? Tampang lu masam bener kayak orang ketempelan setan kuburan," celetuk Rian, anak pemilik warkop yang duduk di seberangnya sambil mengelap gelas.

Sambil mengusap wajahnya yang kusut, Dodi menghela napas berat. "Rumah baru gue agak laen. Masa kemarin smart speaker gue tiba-tiba bunyi sendiri nyuruh 'keluar'. Udah gitu, badan gue sekeluarga rasanya lemas, pusing, sama dada nyesek parah."

Sembaril meracik kopi, Rian tertawa tipis. "Palingan itu glitch frekuensi doang, Bro. Tapi nih, kalau soal pusing sama dada nyesek… dulu pas SMA kayaknya pernah dibahas deh di kanal konspirasi. Rumah tua yang pengap tuh emang disukai poltergeist buat menyerap energi vital penghuninya. Awalnya emang bikin lemas, tapi ntar lama-lama mereka makin berani... kayak ngirim pesan lewat suara ketukan di pintu atau di lantai gitu!"

Tatapan Dodi terpaku pada layar laptop yang menampilkan artikel berjudul: Paranormal Frequency and Poltergeist Manifestation. Logikanya yang mulai goyah langsung menelan mentah-mentah teori itu tanpa sisa.

Malam akhirnya turun sempurna. Sisa semburat jingga di ufuk barat perlahan lenyap, ditelan pekatnya kegelapan. Udara sedingin es mulai merayap turun dari celah atap dan menyelimuti seisi rumah.

Di dalam rumah nomor 44, Suroso menggeser selot pintu depan.

KLAK!

Pintu kayu tebal itu kini terkunci rapat. Satu per satu jendela kaca bergaya kolonial ia kaitkan, menutup mati setiap celah dengan dalih keamanan dan ketakutan akan angin malam. Dalam hitungan jam, seiring terhentinya sirkulasi udara dari luar, seisi ruangan perlahan berubah menjadi bejana yang kedap.

Di bawah kaki mereka, sesuatu yang tak kasat mata mulai beraksi. Rembesan halus tanpa warna merayap keluar dari celah pori-pori ubin semen, menumpuk tanpa suara, lalu perlahan menjalar memenuhi ruang tamu, lorong, hingga kamar tidur.

Pukul 22.00 WIB.

Lihat selengkapnya