Pagi hari menjelang pukul delapan, sinar matahari mendobrak masuk melalui celah kisi-kisi jendela depan yang akhirnya dibuka paksa oleh Suroso—lengkap dengan bunyi kertakan kayu tua yang memprotes keras. Bau apak dan hawa lengket yang semalaman terperangkap di lorong mulai terdorong keluar oleh hembusan angin pagi.
Suroso berdiri di teras depan sambil memegang cangkir berisi teh hangat. Kedua matanya merah saga, dikelilingi lingkaran hitam pekat yang membuatnya tampak seperti pasien rawat jalan yang kabur dari ruang isolasi. Namun, begitu paru-parunya menyedot udara segar luar rumah, denyutan tajam di tempurung kepalanya perlahan surut. Kabut tebal yang melumpuhkan nalurinya semalam mulai terurai.
"Pak Suroso! Pagi-pagi udah ngelamun aja! Nungguin ilham apa nungguin jatah BLT?"
Suroso tersentak kaget, nyaris menumpahkan teh panasnya tepat ke atas jempol kakinya sendiri. Di balik pagar, Pak RT—seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kaus kutang putih yang mulai menguning dan sarung terlingkar asal di leher—sedang berjalan santai membawa sangkar perkutut.
Jiwa gengsi Suroso yang sempat sekarat mendadak bangkit dari kubur. Suroso serta-merta menegakkan punggungnya dengan gerakan patah-patah. Dada dibusungkan, bahu ditarik ke belakang—meski tulang belikatnya berbunyi krek cukup nyaring—dan senyum paling penuh wibawa dipasang rapat-rapat.
"Eh, Pak RT! Pagi, Pak. Ini biasa, menikmati osilasi udara pagi sambil memantau efisiensi sirkulasi termal rumah," ujar Suroso dengan istilah tebal yang dibuat-buat.
Pak RT menghentikan langkahnya, menatap Suroso dari ujung rambut acak-acakan hingga sandal jepit beda warna yang tidak sengaja dipakai Suroso. Raut prihatin Pak RT sama sekali tidak berusaha ditutupi.
"Semalam aman, Pak? Tadi subuh Bu RT cerita, Endang sempat kedengaran jerit-jerit kecil melengking mirip terompet tahun baru dari luar. Saya khawatir Sampean sekeluarga kena imbas hawa 'kurang enak' rumah ini."
Suroso tertawa renyah—atau lebih tepatnya, tertawa yang dipaksakan hingga suaranya mirip kaleng kerupuk tersedot vacuum cleaner. "Aduh, Pak RT ini ada-ada saja! Jeritan? Oalah, itu istri saya kaget gara-gara kecoa terbang di kamar mandi! Atraksi helikopter lokal biasa, Pak! Soal hawa rumah, wah... adem banget kok. Struktur bangunan kolonial begini kan memang penyerapan udaranya maksimal. Mirip villa di Puncak, cuma beda nasib aja."
Pak RT manggut-manggut ragu, matanya melirik ke arah atap rumah itu yang agak miring. "Oalah, kecoa... Kirain diganggu. Ya bagus deh kalau begitu. Soalnya penghuni lama biasanya nggak kuat seminggu, Pak. Ada yang mendadak ngaku lihat kompor jalan sendiri, ada yang tiup lilin ultah tapi lilinnya malah balik niup. Kalau ada apa-apa, kabar-kabarin ya."
"Siap, Pak RT! Tenang saja, di keluarga saya semua masalah diselesaikan pakai logika dan pendekatan metodis!" balas Suroso mantap, melambaikan tangan dengan senyum kaku hingga Pak RT menghilang di tikungan gang.
Begitu Pak RT hilang dari pandangan, senyum di wajah Suroso seketika lenyap bagai diusap penghapus papan tulis. Tangannya yang memegang cangkir teh kembali gemetar hebat hingga permukaan tehnya bergelombang. Ia mengusap wajahnya yang kasar dan lembap oleh keringat dingin. Gengsi dan harga dirinya di hadapan warga kompleks adalah benteng terakhir yang menopang sisa-sisa martabatnya. Ia tidak boleh terlihat seperti orang gila yang gemetaran hanya karena ketukan aneh tadi malam.
Sementara itu di halaman samping, Endang sedang mengayunkan sapu lidi dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Berada di luar kamar sedikit mengembalikan kesadarannya, walau tenggorokannya masih terasa kering bagai diamplas dan perutnya mual bukan main.
Saat menyapu di dekat selokan samping, Endang kaget setengah mati ketika sebuah kepala mendadak muncul dari balik tembok pembatas. Itu Mbak Sumi, asisten rumah tangga sebelah yang sedang menjemur pakaian.
"Bu Endang... Pucat banget, Bu? udah kayak kain kafan belum dijemur," sapa Mbak Sumi berbisik-bisik, matanya melotot misterius. "Semalam tidur nyenyak?"
Endang menghentikan sapunya, meremas gagang bambu itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Agak pusing sedikit, Mbak. Mungkin... efek kaget pindahan dan salah bantal."
"Iya Bu, hati-hati," Mbak Sumi mendekatkan wajahnya ke celah tembok, suaranya makin mengayun seperti narator drama radio misteri. "Rumah nomor 44 ini kata orang tua dulu berdiri di atas jalur 'alir getar'. Makanya kalau malam suka ada getaran atau bunyi dari tanah. Jangan dibalas kalau ada yang ngetuk ya, Bu... Nanti 'dia' ngerasa diundang masuk. Apalagi kalau dibalas pakai gagang sapu, 'dia' bisa mikir Ibu berani sama 'dia'."
Bulu kuduk Endang berdiri seketika, membentuk barisan ketakutan yang nyata. Mual di perutnya mendadak bergejolak lagi. "A-apaan sih, Mbak Sumi... nakut-nakutin aja!"
Tanpa membuang waktu, Endang langsung menyapu tanah kering itu dengan kecepatan penuh—malah lebih banyak menerbangkan debu ke mukanya sendiri—lalu bergegas lari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dapur rapat-rapat. Klek! Klek! Dua kali putaran kunci, ditambah grendel atas.