Angkat Koper, Angkat Tangan

Bi Bluu
Chapter #6

Jebakan Tepung Terigu

Cahaya matahari sore mulai memudar, meninggalkan warna keabu-abuan yang suram di atas atap rumah nomor 44. Rasa lelah yang teramat sangat menyelimuti Keluarga Suroso. Setelah Rapat Pleno penuh tensi tadi pagi, tubuh mereka rasanya remuk redam, dipenuhi pegal-pegal ajaib di setiap persendian—seolah-olah otot-otot mereka habis dipaksa ikut maraton antar-RT tanpa pemanasan.

Mumpung hari masih terang, Endang sempat melangkah keluar menuju warung di ujung gang untuk membeli sekantong tepung terigu dan beberapa bahan dapur. Di luar rumah, hembusan angin sore terasa bagaikan surga dunia. Pusing yang menggelayut berat di dahi Endang langsung menguap dalam hitungan menit, digantikan rasa hangat yang menyenangkan.

"Bu Endang! Pucat amat, Bu? Habis dari mana?" sapa Bu Yayuk yang sedang menyapu teras rumahnya dengan semangat gossip-mongering tingkat tinggi.

Endang menghentikan langkah, memeluk kantong plastik berisi tepung terigu erat-erat seperti memeluk aset berharga. "Eh, Bu Yayuk. Ini habis beli tepung. Mau bikin cemilan buat Dodi."

Bu Yayuk mendekat ke pagar, matanya berbinar-binar penuh dengan daya kepo maksimal. "Soal cerita saya kemarin... gimana, Bu? Semalam denger ketukan-ketukan itu nggak? Tetangga samping rumah Sampean bilang semalam sempat dengar suara 'gebukan' kenceng dari dalam."

Endang meringis canggung, teringat aksi suaminya yang memukuli lantai semalam. "Ah... itu... cuma Suami saya lagi benerin pipa, Bu. Biasa, namanya juga rumah tua, banyak yang harus diservis. Maklum, jiwa tukangnya mendadak kumat."

"Oalah, benerin pipa..." Bu Yayuk manggut-manggut dengan raut wajah yang sama sekali tidak percaya. "Hati-hati lho, Bu. Pipa tua kalau dibongkar-bongkar sembarangan bisa 'bangunin' yang lagi lesehan di bawah tanah. Nanti malah diajak silaturahmi."

Kalimat Bu Yayuk sukses membuat bulu kuduk Endang meremang berjemaah. Ia pamit terburu-buru, melangkah cepat menuju rumahnya bagaikan dikejar Satpol PP. Namun, begitu kakinya melewati pintu depan dan masuk ke dalam rumah, rasa pengap dan sensasi dada ditindih beban seratus kilo langsung menyambutnya kembali.

"Pintu harus dikunci mati," batin Endang panik. "Bu Yayuk benar, kita nggak boleh biarkan 'sesuatu' dari luar atau bawah tanah masuk!"

Tanpa menunggu malam benar-benar jatuh, Endang mengunci selot pintu depan, menancapkan kait jendela kaca satu per satu, dan memasang pasak di pintu dapur. Rumah tua itu resmi disegel rapat kembali—berubah fungsi dari tempat tinggal menjadi tupperware raksasa kedap udara.

Pukul 21.00 WIB.

Lampu kuning di lorong tengah menyala redup, melemparkan bayangan-bayangan panjang yang bentuknya makin mirip siluet raksasa kurang gizi. Sirkulasi udara yang mati total membuat kadar molekul gas tak terlihat dari celah ubin merembes naik lebih cepat dari semalam.

Di ruang tengah, tiga anggota keluarga duduk melingkar di atas karpet tipis. Efek penumpukan udara tercemar itu mulai memakan korban lagi secara perlahan namun pasti. Suroso memegangi lehernya yang kaku bagai manekin pasar malam; otaknya mulai lambat memproses kata-kata. Dodi duduk bersandar pada kaki meja, matanya berkunang-kunang dan kelopak mata kirinya kedutan tanpa henti seperti lampu sein rusak. Sementara Endang terus-menerus memoleskan minyak angin aromaterapi ke seluruh dahinya hingga memerah gosong bagai ditato pasir amplas.

"Pah... aku nggak bisa tidur kalau cuma nungguin ketukan horor kayak semalem," bisik Endang memecah keheningan. Suaranya gemetar. "Kita harus tahu, 'anomali' yang kata Papa itu wujudnya nyata atau cuma suara gaib."

"Mama mau ngapain emangnya?" tanya Dodi, suaranya penuh curiga.

Endang merogoh tas plastiknya, mengeluarkan satu kantong tepung terigu kemasan satu kilogram. Ia menatap suami dan anaknya dengan tatapan penuh intrik.

"Kita tabur tepung ini di sepanjang lantai lorong tengah," usul Endang dengan nada misterius. "Kalau anomali itu wujudnya fisik—mau itu maling, musang, atau... 'makhluk' bawah tanah—dia pasti ninggalin jejak kaki di atas tepung ini besok pagi. Tapi kalau tepungnya cuma berantakan tanpa bentuk... fix, itu makhluk tak terlihat!"

Dodi yang kepalanya sedang dihantam pusing tingkat dewa, menatap kantong tepung itu dengan takjub. Trik murahan ini sering ia lihat di film horor low-budget dan video eksperimen aneh di internet. "Ide jenius, Ma! Sangat ilmiah dan hemat biaya! Eksperimen forensik skala RT!"

Suroso sebenarnya ingin mendebat. Di dalam otaknya yang makin linglung, menyebar tepung di lantai rumah sendiri adalah tindakan absurd yang cuma bikin kotor dan memicu pasukan semut. Tapi jangankan untuk berdebat panjang lebar, untuk berdiri tegap saja kepalanya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum pentul. Rasa sesak di dadanya makin menjadi-jadi, membuatnya kehilangan gairah berargumen.

"Terserah kalianlah..." gumam Suroso pasrah, tangannya mengibas lemas. "Asal besok pagi dibersihkan lagi. Awas kalau rumah ini jadi pabrik tempe."

Dengan gerakan cepat namun penuh rasa cemas, Endang menggunting ujung bungkus tepung. Bagaikan ninja yang sedang menyebar racun, ia merayap di sepanjang lorong—mulai dari depan kamar utama, melewati pintu kamar mandi, hingga berakhir di dekat pintu dapur. Ia menaburkan tepung putih itu tipis-tipis namun merata, membentuk 'karpet putih' selebar satu meter.

Lihat selengkapnya