Bau debu dan aroma tepung terigu yang teraduk udara pengap membubung tipis di lorong tengah, menyajikan pemandangan bagaikan TKP ledakan pabrik bakpia. Pagi yang seharusnya membawa kesegaran justru terasa begitu menyesakkan. Pintu depan memang sempat dibuka sedikit oleh Endang, tetapi rasa panik yang terlanjur membakar dada membuat sirkulasi udara luar seolah tak sanggup mengusir kabut tebal di dalam kepala mereka.
Suroso berlutut di atas ubin semen, posisinya bagaikan detektif gaib gadungan. Lututnya gemetaran, menahan tumpuan tubuhnya yang mendadak terasa dua kali lebih berat—seolah-olah ia baru saja menggendong dua karung beras. Di tangannya, sebuah penggaris besi berwarna perak peninggalan sisa-sisa alat kerjanya bergetar pelan.
Di sebelahnya, Dodi berjongkok siap dengan buku catatan kuliahnya yang berdebu beserta sebuah pulpen hitam. Sementara Endang berdiri memeluk tiang kayu lorong bagaikan aktris sinetron yang sedang menghadapi cobaan hidup, matanya tak berhenti memancar ketakutan, sementara jarinya sibuk memoleskan minyak angin aromaterapi ke lehernya yang makin tegang hingga aromanya mengalahkan bau kapur barus.
"Pa... buruan diukur, Pa! Aku udah mual banget nih, kepala rasanya kayak dibor pakai mesin drill semen," keluh Dodi. Matanya berkunang-kunang menatap jejak tepung di lantai yang bentuknya makin tidak jelas.
Efek paparan zat tak kasat mata dari celah fondasi tua yang terakumulasi semalaman masih menguasai sistem saraf mereka. Penurunan fokus, disorientasi spasial, dan gangguan koordinasi mata membuat skala persepsi Suroso kacau balau.
Suroso menempelkan ujung penggaris siku pada jejak telapak kaki pertama—yang sebenarnya adalah bekas tumit kakinya sendiri yang terseret saat berjalan sambil tidur semalam. Namun, karena matanya berbayang ganda dan kepalanya dihantam denyut pusing berat, Suroso salah membaca angka pada skala milimeter penggaris tersebut.
Garis angka 40 cm pada penggaris besi itu terlihat membayang dan membelah sel : mitosis menjadi 70 cm di mata Suroso yang kehilangan fokus spasial.
"Tuju... tujuh puluh sentimeter..." bisik Suroso, suaranya tercekat di kerongkongan.
Dodi terperanjat, jemarinya yang gemetar hampir menjatuhkan pulpen. "Apa, Pa?! Bentangan langkah lurusnya tujuh puluh sentimeter?"
"I-iya..." Suroso menelan ludah yang terasa pahit bagai jus pare. Ia menggeser penggarisnya ke jejak berikutnya yang melingkar di depan pintu kamar mandi—bekas pusaran kakinya saat berputar dalam ilusi semalam. Karena salah mengkalkulasi sudut rotasi akibat pusing yang makin melilit, otaknya menghitung rentang langkah tersebut secara ugal-ugalan.
"Dodi... catat," perintah Suroso, mencoba menguatkan intonasinya agar tetap terdengar tegas seperti seorang supervisor pabrik yang sedang melakukan audit kualitas, meski mukanya pucat bagai mayat direbus. "Langkah kakinya tidak simetris. Lebar tapaknya tiga belas sentimeter, tetapi jarak dari satu jejak ke jejak berikutnya mencapai satu meter lebih."
"Satu meter lebih?!" jerit Endang dari balik tiang. Tangisnya nyaris pecah kembali. "Ya Ampun, Pah! Manusia mana yang langkah kakinya sejauh itu kalau bukan... kalau bukan Monster?!"
Dodi dengan cepat mencoret-coret buku catatannya. Otak mahasiswanya yang biasa dipakai mengutip teori-teori konspirasi internet langsung bekerja liar, mengolah data salah hitung sang ayah menjadi analisis ilmiah-mistis gadungan.