Malam jatuh dengan kepungan sunyi yang menindih. Suroso menggeser slot pintu depan dengan gerakan tegas—KLAK!—lalu memutar kuncinya dua kali. Tidak berhenti di situ, jendela-jendela kayu kolonial di selasar depan disambung dengan kait besi bertingkat, menyegel setiap celah rapat-rapat. Bagi Suroso, ini adalah barikade pertahanan paling kokoh untuk menahan teror "makhluk tiga meter" agar tidak merangsek masuk dari luar.
Namun, mengunci rapat pintu dan jendela di rumah itu ibarat menyumbat lubang busa dalam akuarium yang dipenuhi asap. Tanpa embusan angin dari teras, udara panas dan lembab di ruang tengah perlahan mengental. Udara tanpa warna dan aroma yang merembes halus dari celah-celah ubin semen tua mulai menumpuk kembali, mengisi ruang-ruang kosong dengan takaran yang kian pekat.
Di sudut lorong tengah, Dodi sedang sibuk menata persenjataan digitalnya. Sebuah tripod murahan meliuk-liuk berdiri agak miring karena salah satu kakinya sudah longgar. Di puncaknya, sebuah ponsel tertancap rapi, diapit oleh ring light bulat berdiameter tiga puluh sentimeter yang menyala putih menyengat.
"Dod... kamu yakin ini nggak bakal bikin penunggu rumah ini makin ngamuk?" bisik Endang dari balik bahu Dodi.
Endang tampil ala prajurit bertahan hidup. Dasternya dilapisi jaket parasut milik Suroso yang kebesaran, lehernya dililit syal rajut tua, dan tangan kanannya memegang erat botol minyak aromaterapi merek cap badak seperti memegang granat aktif. Wajahnya yang pucat kian dramatis di bawah siraman cahaya lampu silau.
"Bukan ngamuk, Ma, ini namanya verifikasi fakta empiris," sahut Dodi sok ilmiah, walau suaranya sengaja ditahan agar tidak gemetar. "Di sosmed, konten haunted house exploration begini lagi hype parah. Sekalian Dodi mau buktiin ke netizen kalau kita ini korban fenomena supranatural tingkat tinggi. Siapa tahu ada sultan gifting Singa, kan lumayan buat bayar tunggakan UKT semester kemarin."
Suroso melangkah mendekat sambil memegangi tengkuknya yang terasa seperti ditarik kawat besi. Langkah kakinya agak sempoyongan, efek rasa pusing dan mual yang sejak sejam lalu kembali merayapi kepalanya.
"Dod! Ingat ya, fokus kameranya harus ke sudut lorong saja!" tegap Suroso menginstruksikan, mencoba menegakkan punggungnya yang agak bungkuk demi menjaga wibawa. "Jangan perlihatkan muka Papa! Papa ini mantan supervisor pabrik apparel. Kalau kawan-kawan alumni lihat Papa berburu hantu pakai lampu melingkar aneh ini, bisa hancur reputasi Papa!"
"Tenang, Pa. Wajah Papa bakal aman," balas Dodi, tangannya mengetuk-ngetuk layar ponsel. "Oke... Live stream dimulai dalam tiga, dua, satu... Go live!"
Layar ponsel berkedip. Dalam hitungan detik, angka penonton di pojok kiri atas mulai merayap naik. 12 penonton... 45 penonton... 120 penonton.
Dodi langsung memasang wajah ala investigator misteri profesional. Ia memajukan mukanya ke arah kamera dengan mata membelalak tegang. "Halo guys, selamat malam. Kembali lagi di Live Stream eksklusif Dodi_TheExplorer. Malam ini, gue dan keluarga gue sedang terperangkap di sebuah rumah tua dengan ancaman monster besar setinggi tiga meter. Udara di sini kerasa berat banget, guys. Kepala gue melayang-layang, dada nyesek parah. Ini pertanda daya elektromagnetik di ruangan ini berada dalam level bahaya!"
Suroso yang berdiri dua langkah di belakang Dodi menelan ludah. Tenggorokannya sangat kering, terasa pahit dan getir seperti meminum air sabun. Penglihatannya mulai kabur berkunang-kunang. Titik-titik hitam menari-nari di pinggir kornea matanya, membuat ring light yang menyala terang di depannya terlihat membayang ganda menyerupai dua cincin api yang berputar.
"Dod..." bisik Suroso, suaranya parau. "Itu lampunya... kok kayak muter-muter sendiri?"
"Jangan bikin panik dong, Pa!" bisik Dodi balik tanpa menoleh dari layar. "Ini lampu LED biasa, nggak bisa muter! Bapak fokus awasi bagian pojokan aja!"
Komentar di layar ponsel mulai meluncur deras bagai air bah:
@Rian_Warkop: "ANJAY SI DODI BENERAN LIVE DONG! MANA HANTUNYA CUY?"
@Sultan_Skena: "Muka bokap lu pucat amat Bang, itu benaran ketempelan atau belum makan seharian? wkwkwk"
@Netizen_Julid: "Settingan nih pasti! Mana ada hantu jam sepuluh malam sudah muncul!"
"Ini real guys, no no setting-settingan!" seru Dodi membela diri. Matanya yang merah menyala menatap kamera. "Kalian bisa lihat sendiri, udara di rumah ini pengap banget! Kita semua makin lemas! Gue bakal tunjukin lokasi jejak kaki tepung tadi pagi!"