Pagi hari pasca-kejadian live stream horor yang berubah jadi lenong nasional itu disambut oleh suara tawa riuh dari arah luar rumah.
Di atas lantai ruang tengah yang dingin dan pengap, Suroso terbangun dengan leher kaku bagaikan terkunci pasak kayu. Matanya merah membara, dipenuhi urat-urat tipis yang menegang. Kepala bagian belakangnya berdenyut-denyut konstan—sebuah ritme pusing yang kini sudah menjadi "teman setia" setiap kali ia membuka mata.
Dari balik jendela depan yang tertutup rapat, suara radio milik tukang bubur keliling bergema nyaring, diselingi gelak tawa Bu Yayuk dan beberapa tetangga.
"Iya Bu! Asli, saya nonton video ulangnya tadi subuh dikirimin anak saya!" suara Bu Yayuk melengking menembus dinding semen. "Itu Suroso gaya smash-nya sudah mirip Taufik Hidayat! Raket nyamuknya sampai bunyi ctak-ctak! Ternyata rumah nomor 44 bukan angker, tapi tempat sketsa komedi!"
Suroso yang baru saja hendak meminum teh hangat langsung tersedak hebat. Uhuk! Uhuk! Teh manis hangat menyembur keluar dari hidungnya. Muka Suroso yang tadinya pucat seketika berubah merah padam, bercampur antara rasa malu setengah mati dan efek pusing melayang yang belum juga reda.
"Harga diriku..." gumam Suroso memandang cangkir putih di tangannya dengan tatapan nanar. "Harga diriku sebagai mantan supervisor kelas atas... hancur lebur jadi konten Sosmed..."
Dodi keluar dari kamar dengan menyeret kakinya. Hoodienya kebalik, rambutnya berantakan seperti semak-semak yang dihantam angin puyuh. Lingkaran hitam di bawah matanya kini sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan lingkaran black hole.
"Dod..." tegur Suroso dengan suara gemetar, membetulkan letak kacamata bacanya yang bertangkai miring. "Kamu tau kan... sekarang kalau Papa keluar mau beli rokok ke warung, orang-orang pada memparodikan smash raket nyamuk di depan muka Papa?"
Dodi mengusap mukanya yang loyo. "Yaa maaf toh, Pa! Mana Dodi tahu kalau itu bayangan ring light di cermin! Lagian, akun Dodi dapet gift Singa lima biji, Pa! Lumayan kan buat ganjal sisa tunggakan semesteran!"
"Udah! Nggak usah ribut lagi!" potong Endang yang merangkak keluar dari lorong kamar utama.
Endang tampak memprihatinkan. Dasternya kusut, dahinya mengkilap kemerahan akibat disapu minyak angin tebal-tebal, dan matanya bengkak. Pusing di kepalanya makin menjadi-jadi, membuat cara jalannya agak miring ke kiri bak kapal hilang keseimbangan.
"Kita ini lagi dalam darurat keluarga!" ratap Endang memegang dadanya yang kempas-kempis. "Mama nggak peduli mau dibilang komedian atau orang gila sama tetangga! Yang jelas, Mama NGGAK MAU LAGI tidur di kamar utama! Kamar itu rasanya kayak kuburan basah, pengap, bikin dada nyesek, terus rasanya ada yang ngawasin dari atas!"
Dodi mengangguk setuju dengan cepat. "Aku juga, Ma! Kamar belakang hawanya busuk banget. Tiap merem sedikit, berasa kayak ada yang niup ubun-ubun pakai sedotan es teh!"
Suroso menelan ludah yang terasa kesat. Sebenarnya, ia sendiri merasakan hal yang sama. Kamar tidur mereka yang jendelanya selalu terkunci mati demi alasan "keamanan" telah menjadi kantong penumpukan racun udara tak berbau paling pekat di rumah itu. Setiap kali mencoba tidur di dalam kamar, otak mereka dihantam gelombang hipoksia yang memicu mimpi buruk, sesak nafas, dan cemas berlebihan.
Suroso memegang kepalanya yang rasanya mau meledak. Ego rasionalnya mencoba mencari kompromi terakhir demi mempertahankan kewarasan sekaligus keselamatan anggota keluarganya.
"Oke..." kata Suroso, suaranya serak-serak basah. "Kalau begitu... kita evaluasi pemetaan wilayah aman. Secara zona pertahanan, ruang tengah ini paling luas. Akses udara dan ruang gerak kita lebih leluasa. Mulai malam ini... kita evakuasi seluruh kebutuhan tidur ke ruang tengah!"
"Maksud Papa... kita tidur bareng di sini?" tanya Endang.
"Bukan cuma tidur bareng!" tegas Suroso, mendadak bersemangat lagi karena jiwa kepemimpinannya terpacu dalam situasi krisis. "Kita bangun Barikade Pertahanan Terpadu! Kita tumpuk semua kasur, kita pagari pakai sofa, dan kita siapkan amunisi perlawanan di sekeliling kita! Nggak ada yang boleh tidur terpisah lagi!"
Pukul 17.00 WIB.
Proses pembangunan "Benteng Pertahanan Suroso" dimulai.
Dalam kondisi kepala yang sama-sama berputar dan napas yang sering tersengal-sengal akibat pengapnya rumah yang terkunci rapat, mereka bertiga bekerja dengan dedikasi tinggi yang konyol.
Kasur busa tebal dari kamar utama diseret secara dramatis oleh Suroso dan Dodi menyeberangi lorong. Sreeek... sreeek... Suara gesekan kain kasur di atas ubin semen bergema seolah-olah mereka sedang memindahkan logistik perang. Kasur busa itu dibentangkan tepat di tengah-tengah ruang tengah.