Suara letupan terakhirlah yang akhirnya benar-benar padam, menyisakan keheningan yang jauh lebih pekat dan memenjarakan. Di balik dinding barikade sofa kayu yang miring, udara di dalam ruang tengah tidak lagi terasa seperti udara—ia telah menjelma menjadi lelehan lengket yang berat untuk disedot oleh paru-paru.
Bau disinfektan wangi jeruk yang tadi disemprotkan Endang kini bersenyawa secara aneh dengan racun tak berbau dari celah ubin. Hasilnya adalah aroma kimia sengak yang menusuk tenggorokan, membuat setiap tarikan nafas terasa seperti mengulum bubuk mesiu.
Suroso masih tergeletak telentang di bagian kanan kasur. Raket nyamuk listriknya yang agak penyok masih terdorong pasrah di bawah ketiaknya. Kepala belakangnya tidak lagi sekadar berdenyut; rasanya ada ribuan jarum tembaga yang ditancapkan sekaligus lalu diputar pelan-pelan.
"Mahh..." panggil Suroso, suara parau dan pecah, nyaris seperti gesekan amplas di atas kayu lapuk. "Senter... senter swat-nya mana?"
Endang yang merungkut di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengerang pelan, meraba-raba dadanya yang naik-turun dalam irama yang kacau. Minyak angin aromaterapi di jemarinya sudah kering, menyisakan rasa perih yang dingin di pelipis dan sekitar kelopak matanya yang membengkak.
"Senter... di dekat kaki Dodi, Pah..." sahut Endang akhirnya. Bibirnya gemetar, dan lidahnya terasa begitu tebal hingga kata-katanya terdengar cadel. "Dod... Dodi, nyalain senternya, Nak. Gelap banget... Mama nggak bisa lihat apa-apa."
Di sisi kiri kasur, Dodi tidak bergerak. Anak muda itu telentang dengan mata terbuka lebar, menatap lurus ke arah plafon kayu di atas mereka. Di matanya yang merah dan dipenuhi urat-urat kebiruan, kayu-kayu plafon itu tidak lagi sejajar. Serat-serat kayunya seolah meliuk-liuk lambat seperti ular air, meregang lalu menyusut mengikuti detak jantungnya yang melonjak tinggi.
"Dodi?" panggil Suroso lagi, memiringkan kepalanya dengan usaha keras hingga lehernya berbunyi krek.
"Pa..." bisik Dodi, suaranya sangat datar dan pelan, seolah-olah dipancarkan dari tempat yang sangat jauh. "Papa ngerasa gak... plafon rumah ini makin pendek?"
"Jangan ngaco kamu," tegur Suroso, meski matanya sendiri menangkap ilusi yang sama. Di bawah cengkeraman hipoksia yang kian dalam, persepsi kedalaman ruangan di otak Suroso runtuh. Plafon kayu tua setinggi tiga setengah meter itu terasa menekan turun, seperti tutup peti kayu raksasa yang pelan-pelan diturunkan untuk mengurung mereka bertiga.
"Beneran, Pa..." Dodi mengangkat tangannya yang gemetar hebat ke udara, mencoba menggapai bayangan kayu di atasnya. "Plafonnya turun... Makhluk tiga meter itu... dia lagi duduk di atas atap kita, Pa. Dia lagi nekan rumah ini biar gepeng..."
"Dodi! Istighfar, Nak!" jerit Endang pelan, tangisnya pecah tanpa air mata karena tubuhnya sudah dehidrasi berat. Endang merayap, memeluk perut Dodi kencang-kencang. "Papah, tolong Pah... Dodi ngomongnya makin aneh!"
Suroso mencoba bangkit. Ia menumpukan kedua telapak tangannya di atas kasur busa, menolak tubuhnya naik. Namun baru saja dadanya terangkat beberapa sentimeter, gelombang mual yang hebat meluncur deras dari perutnya menuju kerongkongan. Dunia di sekitarnya mendadak miring sembilan puluh derajat. Gambar sofa, tumpukan kardus mie instan, dan sudut meja makan berguncang hebat bak dihantam gempa bumi.
BRAGHH!
Suroso kembali ambruk telentang, dadanya kempas-kempis menghirup udara beracun yang kian ganas.
"Nggak bisa..." gumam Suroso dengan napas tersengal. "Kaki Papa... lemes banget, Mah. Kayak nggak ada tulangnya..."
Pukul 01.00 WIB. Malam bergerak seribu kali lebih lambat dari biasanya.