Malam tidak lagi sekadar menyelimuti rumah tua itu; malam telah menjelma menjadi adonan tebal berbau sangit dan lembab yang mengepung setiap sudut ruangan. Di dalam dapur yang pengap, udara terasa begitu pekat hingga setiap tarikan napas membawa sensasi pening yang menusuk di balik tempurung kepala. Kebocoran pipa gas bawah tanah di luar sana terus merembes melintasi pori-pori semen, membius atmosfer dengan toksisitas halus yang mengaburkan batas antara kenyataan dan kegaiban.
Di luar jendela dapur, berdiri seorang pria bernama Slamet. Slamet bukanlah penjahat ulung bertopeng kain hitam yang lihai melompati atap rumah warga atau membobol brankas baja berteknologi tinggi. Ia hanyalah seorang maling amatir kelas teri yang nasibnya sedang berada di titik nadir paling dalam.
Setelah dua bulan menunggak kontrakan dan diancam akan diusir secara tidak hormat oleh sang pemilik kontrakan yang galaknya melebihi singa lapar, Slamet akhirnya nekat mengambil jalan pintas. Pilihan konyolnya jatuh pada rumah tua di ujung komplek—rumah yang kabarnya baru saja ditempati oleh sebuah keluarga kaya dari luar kota.
"Cuma rumah tua... cuma rumah tua... Bismillah, gusti Allah ngerti aku kepepet..." bisik Slamet pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar hebat, beradu dengan gigi atas dan bawahnya yang beradu akibat dinginnya angin malam yang meresap ke tulang.
Slamet mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya menggunakan lengan jaket parasutnya yang sudah kusam dan berlubang di bagian siku. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah linggis kecil sepanjang tiga puluh sentimeter—linggis karatan yang ia beli dari pasar loak dengan sisa uang terakhir di dompetnya. Di tangan kirinya, ia menggenggam erat karung goni bekas beras yang dipersiapkan untuk menampung barang-barang berharga: laptop, perhiasan, uang tunai, atau jika bernasib apes, minimal setrika listrik dan panci magic com.
Ia mendekati jendela kayu dapur. Kayu lapuk itu nampak sangat ringkih, penuh guratan bekas gigitan rayap dan cat putihnya sudah mengelupas parah. Slamet menyusun napas, bersiap menyelipkan ujung linggisnya ke celah daun jendela untuk mencungkil kuncinya dengan paksa.
Namun, tepat ketika jemarinya baru saja menyentuh permukaan kayu yang kasar, daun jendela itu justru bergeser pelan tanpa perlawanan sama sekali.
Kreeeeek...
Slamet tertegun. Jarinya membeku di udara. Matanya membelalak menatap celah jendela yang terbuka lebar.
"Lho? Ndak dikunci? Wah rejeki, ini malinge sing canggih apa sing punya rumah kelewat bodoh?" gumamnya heran, setengah tidak percaya dengan keberuntungan dadakan ini.
Ia tentu tidak tahu bahwa sore harinya, Suroso—yang kepalanya sudah sangat teler dan berasap—sempat melihat dapur dengan jalan sempoyongan untuk memeriksa asal suara-suara aneh. Dalam kondisi mata berkunang-kunang dan memandangi engsel jendela yang tampak membayang ganda di penglihatannya, Suroso merasa yakin seratus persen telah memutar kait kunci rapat-rapat. Padahal, yang ia putar dengan penuh rasa percaya diri dan gagah berani malam itu adalah kait baju bekas dari kawat yang tergantung di samping bingkai jendela.
"Ini sing punya rumah polos apa pancen udah pasrah sama takdir?" bisik Slamet seraya menggeleng-gelengkan kepala.