Angkat Koper, Angkat Tangan

Bi Bluu
Chapter #12

Maling vs Keluarga Paranoid

Dunia di sekitar Slamet mendadak pecah menjadi kekacauan murni yang tak terbayangkan. Belum sempat jaringan saraf di otaknya memproses perintah paling dasar untuk lari menyelamatkan diri, gelombang serangan pertama sudah keburu meluncur dari balik benteng sofa dengan kecepatan yang sungguh tidak masuk akal.

"Mati kamu, makhluk jahat! Mampusss! Pergi ke tempat asalmu sana!" seru Endang dengan suara melengking penuh histeria. Tangannya mengocok botol sprayer disinfektan ukuran satu liter dengan kalap, lalu menyemprotkan cairannya secara membabi buta ke udara malam yang pengap.

PSSST! PSSST! PSSST! PSSST!

Aerosol pekat berisi campuran alkohol, pemutih pakaian, dan bahan kimia pembersih lantai itu terbang membentuk kabut putih tebal. Senjata kimia dadakan tersebut meluncur tepat sasaran, menerpa wajah Slamet tanpa ampun.

"AARRGGHH! MATAKU! BUTA MATAKU! ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM!" jerit Slamet histeris sambil melompat-lompat kecil di tempat seperti orang yang sedang tersengat listrik tegangan tinggi.

Cairan kimia yang keras itu meresap masuk ke matanya yang memang sudah teriritasi parah akibat paparan efek gas karbon monoksida sejak ia menginjakkan kaki di dapur. Rasa terbakar yang luar biasa seolah-olah ada yang menyiramkan air raksa langsung ke dalam kelopak matanya. Linggis kecil yang ia pegang erat-erat kini bergoyang hebat, hampir saja terlepas dari jemarinya yang mendadak gemetar dan kehilangan daya cengkeram.

"Pah! Dia tidak mempan diusir pakai air doa disinfektan! Kulitnya tebal kaya badak astral! Aura kegelapannya terlalu pekat!" teriak Endang makin panik. Wanita itu melempar botol sprayer yang sudah kosong ke lantai, lalu dengan sigap beralih menyambar wajan anti lengket berdiameter tiga puluh sentimeter yang sejak tadi sudah siap di atas meja.

"Tenang, Mah! Jangan panik! Biar Papa lumpuhkan kepadatan energi gaibnya dengan energi Papa!" jerit Suroso tak kalah histeris.

Dengan mata melotot lebar hingga pembuluh darah merahnya terlihat jelas dan rambut tipisnya yang berdiri berantakan menyerupai profesor gila dalam film fiksi ilmiah kelas B, Suroso melompati puncak benteng sofa. Gerakannya sangat tidak elegan. Di tengah lompatannya yang heroik, kakinya tersangkut tali jemuran plastik yang mengikat kasur busa.

Suroso tersandung, berguling-guling dua kali di atas ubin dingin, namun dengan sisa-sisa adrenalin dan halusinasi beracun yang membakar darahnya, ia berhasil bangkit kembali dengan cepat. Ia mengayunkan penggaris besi sepanjang satu meter di tangan kanan dan pemukul kasur rotan di tangan kiri secara bersamaan, menyerang layaknya prajurit gladiator kuno.

PAK! PAK! TRANG!

Pemukul kasur rotan menghantam bahu kiri Slamet dengan telak, sementara penggaris besi Suroso bertabrakan keras dengan linggis karatan yang dipegang Slamet. Bintik-bintik api berkilat tipis, menimbulkan bunyi dentang nyaring yang bergema sangat pekat di lorong sempit tersebut.

"Aduh! Ampun, Pak! Ampun, Gusti! Saya ini manusia, Pak! Saya manusia beneran! Saya bukan setan!" jerit Slamet tercekik. Ia berusaha mundur merayap, namun tumit kakinya tersandung oleh rak sepatu plastik yang lapuk hingga ia jatuh terlentang secara tragis di atas lantai ubin yang berdebu.

Lihat selengkapnya