Ruang tengah rumah tua itu kini telah benar-benar menjelma menjadi sebuah ruang interogasi darurat yang luar biasa absurd. Slamet, si maling amatir yang nasibnya sedang berada di ujung tanduk, duduk terikat meratapi nasib di sebuah kursi kayu tua berpunggung tegak di tengah ruangan.
Tali yang mengikat erat tubuhnya bukan tali nilon standar kepolisian, melainkan kombinasi asal-asalan antara tali jemuran plastik warna hijau neon yang kaku dan kabel rol ekstensi tebal warna oranye milik Dodi. Kedua jempol tangannya bahkan diikat menggunakan karet gelang sisa bungkus nasi uduk.
Di depan Slamet, sebuah lampu meja belajar tanpa kap dinyalakan dan diarahkan tepat menusuk wajahnya dari jarak sangat dekat. Sorot cahaya putih yang tajam itu menciptakan atmosfer interogasi polisi dalam film-film noir klasik, namun dengan latar belakang benteng sofa kulit sintetis yang terkelupas, tumpukan bantal jumbo yang miring, serta aroma minyak minyak aromaterapi yang merebak tebal menyaingi bau gas.
Suroso berjalan bolak-balik di depan Slamet dengan tangan terlipat kaku di belakang punggung. Langkah kakinya sengaja dibuat berat dan berwibawa, layaknya seorang detektif kawakan atau jenderal militer di medan tempur. Di tangan kanannya, ia memegang penggaris besi satu meter yang terkadang digetarkan, menimbulkan bunyi sing-sing yang mengintimidasi.
Efek konsentrasi gas karbon monoksida di dalam rumah yang kedap udara itu telah mencapai puncaknya. Otak Suroso, yang sudah mengalami hipoksia ringan, memproses semua data di sekitarnya dengan pola yang makin melenceng jauh dari rel kewarasan manusia normal.
"Jujur kamu, Slamet! Jangan coba-coba mengelabui intelegensi saya!" bentak Suroso tiba-tiba sambil menggebrak meja kayu di dekatnya dengan telapak tangan terbuka.
BAM!
Slamet yang sedang terkulai lemas langsung melonjak kaget di kursinya. Heart rate-nya melonjak drastis.
"Siapa yang nyuruh kamu datang menyusup ke rumah ini malam-malam begini, hah?!" cecar Suroso dengan mata membelalak lebar dari balik lensa kacamatanya yang penuh bintik keringat.
Slamet, yang kepalanya terasa berputar hebat, matanya perih, dan lengannya masih perih akibat sengatan raket nyamuk listrik, menjawab dengan suara parau dan gemetar. "N-nggak ada yang nyuruh, Pak... Demi Allah ndak ada... Saya kepepet, Pak... Uang kontrakan saya nunggak dua bulan... saya mau diusir..."
"Bohong! Alibi klasik dan nggak masuk akal!" potong Suroso seraya menunjuk tepat ke antara kedua mata Slamet menggunakan ujung penggaris besinya. "Ehem! Secara analisis deduktif dan kalkulasi probabilitas, tidak mungkin ada maling manusia biasa yang berani membobol rumah ini tepat di malam saat energi negatif lingkungan sedang berada di titik puncaknya! Kamu pasti agen yang diutus oleh entitas penunggu pohon mangga tua di luar, kan?!"
Slamet membelalakkan matanya yang merah dan bengkak. Otaknya yang lelah dan lemas berusaha keras mencerna kata demi kata yang baru saja keluar dari mulut pria tua di hadapannya.
"P-penunggu... pohon mangga?" gagap Slamet. "Pak, demi Tuhan, saya ini maling beneran, Pak! Saya maling biasa! Saya bukan utusan setan atau sekte manapun!"
"Jangan coba–coba mengelak kamu!" sela Endang yang berdiri di samping Suroso. Tangannya dengan cekatan terus mengoleskan minyak angin aromaterapi ke pelipisnya sendiri yang berdenyut-denyut. "Saya sudah baca di grup WA warga RT sebelah! Rumah tua ini memang ada janji tumbal yang belum lunas dari penyewa sepuluh tahun lalu! Kamu pasti suruhan dukun santet dari desa sebelah yang mau menanam jimat atau membuang tanah kuburan di dapur saya, kan?! ngaku nggak?!"
"Ibu... Mbak... demi Allah saya ndak kenal dukun!" tangis Slamet mau pecah lagi untuk kesekian kalinya. Pria berjaket parasut meleleh itu meratapi nasibnya yang apes luar biasa. "Saya cuma mau ambil laptop, HP, atau barang apapun yang bisa saya jual buat bayar kontrakan! Saya ndak paham jimat-jimat begitu!"
Dodi melangkah mendekat dengan santai namun penuh selidik. Ia memegang ponselnya yang masih dalam mode merekam, diarahkan persis ke wajah Slamet. Matanya yang memiliki lingkaran hitam tebal akibat kurang tidur menatap Slamet dengan tatapan tajam nan penuh paranoia modern.
"Bro, mending lu jujur aja deh sama kita. Nggak usah pakai drama nangis-nangis begitu," ujar Dodi dengan nada sok dingin ala agen rahasia. "Lu sebenarnya agen konspirasi yang dikirim buat memanipulasi penghuni rumah ini, kan? Kenapa lu masuk lewat jendela dapur? Kenapa nggak lewat pintu depan? Pasti karena lu tahu di area dapur ada titik portalnya, kan?!"