Pagi datang bukan membawa kesegaran embun yang menyejukkan, melainkan menyemburkan tirai tipis gumpalan udara pengap yang tersisa dari keributan semalam. Di dalam rumah tua yang terkunci mati dari segala penjuru itu, bau sangit aromaterapi, bekas semprotan disinfektan, bau kemenyan obat nyamuk bakar, dan jejak terbakar dari raket nyamuk Dodi bercampur aduk menjadi aroma bak tempat sampah. Efek gas karbon monoksida yang mengendap pelan di atas ubin semen membuat kepala ketiga penghuninya berdenyut ibarat ditimpa bongkahan batu kali.
Suroso terbangun dengan posisi telentang di balik benteng sofa. Matanya yang merah menyala menatap langit-langit kayu yang tampak meliuk-liuk pelan dalam pandangannya. Di sampingnya, Endang masih memeluk wajan anti lengket seolah benda dapur itu adalah bantal guling kesayangan, sementara Dodi meringkuk di sudut kasur busa sambil masih menggenggam erat raket nyamuknya dalam kondisi tombol power masih menyala melemah.
"Mah..." suara Suroso keluar serak dari tenggorokannya yang kering bagai padang pasir. "Kayaknya... ini udah jam tujuh. Fenomena astral semalem... udah reda kelihatanya."
Endang mengerjap-kerjapkan matanya yang bengkak. Ia meraba pelipisnya yang masih belepotan minyak angin yang telah mengering menjadi kerak putih. "Astagfirullahaladzim... Pah, kepalaku rasanya seperti diputar di dalam mesin cuci. Tapi syukurlah, kita bertiga masih hidup. Maling utusan pohon mangga itu nggak balik lagi, kan?"
"Nggak akan berani," sahut Suroso seraya berusaha duduk tegak, membetulkan kacamata bacanya. "Ehem! Ehem! Secara psikologis, intimidasi logis Papa semalem berhasil ngalahin mentalitas kriminal itu."
Dodi ikut mengerang pelan, mengucek mata pandanya. "Guys... survival mode semalam bener-bener menyedot battery health ku sampai nol persen. HP-ku mati, raket nyamuk mati, kewarasanku tinggal sisa lima persen."
Namun, sebelum mereka sempat mengurai sisa-sisa trauma pertempuran melawan maling amatir tersebut, kedamaian pagi yang rapuh itu mendadak hancur berkeping-keping.
TOK! TOK! TOK! TOK!
Bukan ketukan lembut. Bukan pula gedoran ragu-ragu. Itu adalah ketukan bertempo cepat, konstan, penuh wibawa, dan memancarkan dominasi yang amat sangat dikenal oleh Suroso dan Endang. Ketukan dengan ujung gagang payung atau tongkat kayu pada pintu depan kayu jati rumah tua itu.
TOK! TOK! TOK!
"Endang! Suroso! Buka pintunya! Ini Ibu!"
Suara itu meluncur melintasi sela-sela pintu depan yang diselotip hitam tebal. Suara yang kencang, tegas, tajam tanpa celah kompromi, dan seketika bertindak ibarat sengatan listrik tegangan tinggi yang menyambar sistem saraf Suroso.
Suroso meloncat dari kasur dengan kecepatan yang mematahkan seluruh teori fisika tentang pusing akibat gas CO. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi putih kapur. "I-Ibu Hj. Menik?!"
Endang langsung melempar wajan anti lengket nya hingga mendarat dengan bunyi nyaring di atas ubin. TRANG! "IBUK?! Kenapa Ibuk bisa datang jam segini?! Di grup WA keluarga nggak ada bilang apa-apa?!"
"Mana Papa tahu, Mah!" racau Suroso panik, tangannya gemetaran setengah mati sampai-sampai ia salah memasukkan kaki kanan ke dalam lubang celana kiri. "Dod! Dodi! Bangun kamu! Nenekmu datang!"
Dodi yang mendengarkan nama 'Ibu Hj. Menik' seketika kehilangan seluruh rasa kantuknya. Neneknya adalah pensiunan guru SD bersertifikasi yang mampu mendeteksi debu mikroskopis dari jarak lima meter dan memiliki radar super-peka terhadap kemalasan cucunya.
"Demi apa Nenek ke sini?!" jerit Dodi pelan, matanya melotot menatap benteng sofa raksasa di ruang tengah yang tampak seperti puing-puing bekas pertempuran perang saudara. "Pa! Kalau Nenek lihat ruang tengah kita kayak gini, Nenek nggak akan mikir rumah ini berhantu! Nenek bakal mikir kita semua sudah gila!"
Panik. Kepanikan yang tiada tandingannya. Jika semalam mereka bertempur melawan "hantu" dan maling dengan modal kebodohan kolektif, pagi ini mereka bertaruh nyawa menghadapi juru bicara gengsi tertinggi keluarga: sang Ibu Mertua.
TOK! TOK! TOK!
"Suroso! Kamu belum bangun jam segini?! Mau jadi apa kepala keluarga tidur sampai matahari setinggi pohon kelapa?! Buka pintunya atau Ibu suruh tukang kunci jebol!" seru suara dari luar, makin tak sabar.