Angkat Koper, Angkat Tangan

Bi Bluu
Chapter #15

Kontras Kamar Tamu

Siang merambat pelan di atas atap rumah tua itu, menumpahkan terik matahari yang memanggang udara hingga terasa seberat timah. Namun, perbedaan atmosfer di dalam bangunan tersebut kini terbelah menjadi dua belahan dunia yang bertolak belakang secara dramatis: sebuah realitas yang segar dan waras di kamar tamu, serta sebuah dimensi halusinasi yang pengap di ruang tengah.

Di kamar tamu, jendela kayu berukuran raksasa terbuka selebar-lebarnya. Angin siang yang berhembus dari kebun depan masuk tanpa hambatan, membawa aroma tanah kering, wangi daun mangga, dan oksigen murni yang menguras habis sisa-sisa jejak racun. Hj. Menik duduk santai di pinggir ranjang besi tua yang spreinya sudah ia rapikan hingga licin tanpa satu pun lipatan. Ia mengipas-ipas lehernya dengan kipas lipat cendana sambil menikmati secangkir teh melati hangat. Wajahnya segar, matanya jernih, dan pikirannya bekerja dengan ketajaman presisi seorang mantan kepala sekolah.

Sementara itu, tepat di balik pintu kamar tamu yang hanya terbuka selarik—di area ruang tengah dan lorong dapur—tiga jiwa sedang berkeliaran bak zombie dengan lutut yang lemas.

Suroso, Endang, dan Dodi terperangkap dalam "zona merah". Selotip hitam yang tadi pagi sempat dilepas kini diam-diam dipasang kembali oleh Suroso karena rasa takutnya yang membumbung tinggi pada "anomali gaib". Konsentrasi gas CO yang tidak berwarna dan tidak berbau itu kembali menumpuk, mengepung otak mereka dengan kombinasi semakin kuat.

Suroso melangkah mengendap-endap di lorong dekat kamar tamu sambil memegang nampan berisi biskuit kaleng. Langkah kakinya sangat pelan, lututnya ditekuk, dan matanya melirik liar ke kiri kanan seolah-olah semen di bawah pijakannya bisa meledak sewaktu-waktu.

"Ssst! Mah, pelan-pelan jalannya!" bisik Suroso dengan suara tertahan pada Endang yang mengekor di belakangnya sambil membawa botol minyak angin dan piring kecil.

"Pah... Mama ngerasa sudut lemari itu tadi gerak sendiri ke kiri," bisik Endang dengan mata melotot, matanya yang merah dan sembab menatap lekat-lekat pada lemari jati tua di sudut ruang. "Itu pasti karena kedatangan Ibuk bikin penunggu rumah ini gundah!"

"Secara kalkulasi geologi domestik..." jawab Suroso gagap, berdehem pelan, "Ehem! Ehem!... itu bukan lemarinya yang bergeser, Mah. Itu... pergeseran lempeng ubin akibat perubahan kelembaban. Tapi tetap, kita harus tetep siaga satu!"

Dodi merayap di dekat tembok, membawa gelas berisi air hangat. Wajahnya pucat, hoodie-nya masih terpasang rapat menutup kepala. "Guys, aura di lorong ini makin heavy. Frame rate pandanganku berasa drop ke 15 FPS."

Dari dalam kamar tamu, Hj. Menik mendengarkan kasak-kusuk aneh di luar pintunya. Ia menghentikan gerakan kipasnya, mengernyit heran, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Ketika ia mendorong daun pintu kamar hingga terbuka lebar, pemandangan di depannya membuat dahinya berkerut dalam-dalam.

Tiga orang itu sedang berdiri berjejer dengan posisi tubuh membungkuk, mengendap-endap seperti kawanan pencuri yang kepergok warga, lengkap dengan raut wajah penuh trauma.

"Kalian bertiga ini lagi main teater apa mau latihan nyuri jemuran?" tegur Hj. Menik dengan suara nyaring dan tegas yang memecah keheningan mencekam.

Suroso kaget setengah mati hingga nampan di tangannya bergetar hebat. KLANG! "E-Eh! Ibuk! Nggak, Buk! Ini... Suroso cuma mau nganterin cemilan buat Ibu!"

Begitu melewati ambang pintu kamar, langkah Hj. Menik langsung tertahan di ruang tengah. Cuping hidungnya berkerut seiring pasokan udara yang mendadak berubah berat. Udara pekat yang sarat aroma minyak kayu putih, sengatan karbol, dan sisa pembakaran yang pengap seketika menghentak, merangsek masuk dan menyumbat paru-parunya.

"Astagfirullahaladzim, Suroso!" omel Hj. Menik seraya menutupi hidungnya dengan sapu tangan batik. "Udara di luar kamar kok malah sumpek kaya asap knalpot begini?! Kenapa jendela ditutup lagi?! Terus ini ngapain ventilasi malah ditambal-tambal pakai selotip hitam?!"

Suroso berdeham kencang dua kali untuk memompa gengsinya yang hampir runtuh. "EHEM! EHEM!"

Lihat selengkapnya